27.3 C
Jakarta

Refleksi Isra’-Mi’raj Rasulullah: Kritik atas Isra’-nya Kaum Radikalis dan Mi’raj-nya Para Teroris

Artikel Trending

Milenial IslamRefleksi Isra’-Mi’raj Rasulullah: Kritik atas Isra’-nya Kaum Radikalis dan Mi’raj-nya Para Teroris
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Sebelum memulai ulasan kali ini, saya ingin mengucapkan: Selamat Memperingati Isra’-Mi’raj Nabi Muhammad shallallah ‘alayh wa sallam. Perjalanan spiritual beliau yang di luar nalar, sehingga membuat banyak dari masyarakat ketika itu menuduhnya gila, harus memberi banyak pelajaran untuk kita. Artinya, kita harus, setiap 27 Rajab, membuat refleksi Isra’-Mi’raj, dalam rangka mengambil uswah, teladan, sekaligus aktualisasi diri, dalam menghadapi segala persoalan.

Di Al-Qur’an, surah Al-Isra’ [17]: 1 merekam perjalanan luar biasa tersebut. Bahwa Allah Swt memperlihatkan kepada Rasulullah sebagian dari ayat-ayat-Nya. Tetapi, lanjutan ayat tersebut kemudian membahas tentang Bani Israil, kaum Nabi Musa, dengan segala kedurhakaannya, juga cobaan hidup yang Allah Swt takdirkan untuk mereka. Ini tentu menarik untuk kita merefleksikan pemahaman. Misal, kita menariknya ke ranah kontra-narasi. Itu jelas perlu.

Di Twitter, Selasa (9/3) kemarin, LBH Pelita Umat sebarkan tagar #BebaskanAli, dalam rangka membuat pembelaan hukum untuk kawan sesama HTI-nya: Ali Baharsyah. Para advokat khilafah tersebut melakukan pelbagai manipulasi, segala cara, demi kebebasan Ali. Bahkan pada taraf Ali terbukti bersalah, pembelaan mereka tetap berlanjut. Jalur bantuan hukum yang mereka ambil berjalan dalam gelap, palsu dan manipulatif. Seperti isra’ yang artinya berjalan di waktu malam.

Tagar #BebaskanIBHRSdanUlama juga menggema, hampir 34.000 cuitan. Ulama yang dimaksud, tentu adalah ulama-ulama ala FPI, yang sebenarnya kurang patut menyandang label ulama. Mereka rata-rata para politikus dalam jajaran FPI yang kemarin terjerat kasus kerumunan. Mereka, sekali lagi, ibarat isra’, berjalan malam, berlindung di bawah label keulamaan, beraksi dalam gelap sehingga umat Islam tidak paham bahwa mereka sebenarnya politikus. Jalan malam (isra’) para radikalis adalah aksinya melalui jalur kegelapan.

Belum lagi kasus terorisme yang mengalami eskalasi, naik, ibarat mengalami mi’raj. Kasus di pelbagai daerah, alih-alih mereda, justru semakin masif, semasif penindakan atas terorisme itu sendiri. Artinya, seolah segala upaya pemberantasan tidak berhasil, karena satu diringkus, justru kader lainnya bermunculan. Maka, refleksi Isra’-Mi’raj untuk kontra-narasi, karenanya, menjadi niscaya.

Refleksi Isra’-Mi’raj untuk Kontra-Narasi

Saya, di sini, tidak dalam rangka menarik refleksi Isra’-Mi’raj ke arah negatif. Katakanlah radikalisme dan terorisme negatif, karena memang faktanya demikian. Ini semua dalam rangka mengambil ‘ibrah, memantik kesadaran, bahwa kata isra’ (berjalan malam) dan mi’raj (naik) itu akan positif jika subjeknya positif. Rasulullah melakukan Isra’-Mi’raj dan menghasilkan banyak hal, termasuk pensyariatan salat. Tetapi kalau yang isra’ dan yang mi’raj adalah hal negatif bagaimana? Justru bahaya.

Misalnya, para radikalis yang suka mengusik kedamaian melalui propaganda khilafah, narasi thaghut, pemimpin zalim, kriminalisasi ulama, dkk itu terus masif melakukan agenda terselubung. Mereka melakukan indoktrinasi tanpa banyak orang tahu bahwa mereka tengah melakukan agendanya. Ibarat isra’ yang tidak terlihat orang karena malam, dan aksi mereka karena gelap. Itu tentu buruk akibatnya. Begitupun jika aksi para teroris semakin hari terus naik, mi’raj. Sangat bahaya, bukan?

BACA JUGA  Menangani Propaganda Khilafah dan Tantangan Moderasi di Kampus Umum

Karenanya, refleksi Isra’-Mi’raj untuk kontra-narasi menjadi upaya membuat masyarakat menyadari bahwa kaum radikalis dan para teroris itu tetap suka main belakang, dalam gelap. Seolah, mereka menjadikan fenomena kenabian sebagai aksinya merebut kekuasaan. Isra’-nya Rasulullah belajar banyak hal-ihwal kehidupan, sebagaimana tertuangkan dalam kisah bersama Jibril dalam kitab Dardir Mi’raj. Sementara isra’ kaum radikalis justru memperburuk kehidupan.

Kaum radikalis seperti dedengkot HTI dan FPI, dan para teroris seperti MIT dan JI harus kita bongkar agenda terselubungnya. Umat Islam, yang bisa kita lihat melalui emosi netizen di media sosial, akan terus terprovokasi dengan mereka, karena mereka beraksi melalui jalur bawah tanah—tidak terdeteksi. Tiba-tiba ada provokasi demo, tiba-tiba ada aksi teror. Sejatinya tidak ada yang terjadi spontan. Kebiadaban radikalis-teroris telah tersistem, tetapi mereka seperti isra’-mi’raj, tak terlihat dan terus naik.

Bagaimana caranya menghentikan isra’-nya kaum radikalis dan mi’raj-nya para teroris ini? Kita sudah mengulasnya secara panjang lebar. Deradikalisasi sudah memiliki ragam model, dan pemberantasan terorisme sudah menempuh cara-cara strategis; militeristik maupun persuasif. Yang terpenting adalah, kita mau berupaya sadar akan bahaya mereka.

Meneladani Kedamaian ala Rasulullah

Rasulullah merupakan teladan yang sempurna, uswah hasanah, baik urusan dunia maupun akhirat. Sekali lagi saya tegaskan, isra’ dan mi’raj beliau mengandung banyak kebaikan dan pelajaran, menuju kehidupan kita yang lebih baik dan memantik perdamaian. Meski demikian, isra’ dan mi’raj kaum radikalis-teroris justru harus kita tentang, kita musnahkan, karena mencederai kerukunan dan kedamaian itu sendiri. Dua kontras ini tidak boleh disalahpahami. Akan fatal akibatnya.

Rasulullah mendamaikan masyarakat Mekah saat peletakan Hajar Aswad, dan mendamaikan masyarakat Madinah saat suku Aus dan Khazraj berseteru. Rasulullah juga mendamaikan hati Abu Bakar sepulang Isra’-Mi’raj, hingga ia mencapai puncak keimanan kepada Allah dan Rasul, lalu mendapat gelar Ash-Shiddiq. Sementara itu apa yang para radikalis dan teroris perbuat? Mereka menghancurkan Suriah, memorak-perandakan banyak negara, termasuk juga Indonesia.

Kalau “aksi gelap” dan “eskalasi” mereka dibiarkan, maka yang terkena dampaknya adalah kita sendiri. Dengan alasan itu, patut bagi kita untuk mengetahui segala intrik mereka kemudian menghindarinya. Itu dalam rangka kedamaian umat, sebagaimana yang Rasulullah teladankan. Apakah kita mau berperang terus? Menjadi umat yang suka bertengkar sesama? Menjadi kaum yang suka memorak-perandakan negara? Sangat kontras dengan yang Rasulullah ajarkan.

Kita harus mengambil banyak ‘ibrah dari Isra’-Mi’raj Rasulullah. Tetapi, kita harus takut jika sampai kaum radikalis dan para teroris juga isra’ dan mi’raj, dalam arti terus beraksi dan terus meningkat. Refleksi Isra’-Mi’raj kita dalam rangka menumbuhkan kesadaran akan bahaya radikalisme dan terorime adalah dalam rangka meneladani Rasulullah: menebarkan dan menjaga kedamaian. Sebagai umatnya, kita wajib.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Analis, Penulis

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru