24.6 C
Jakarta

Refleksi HUT RI 77: Bangkit Cepat Lawan Radikalisme dan Tebar Moderasi Beragama

Artikel Trending

KhazanahPerspektifRefleksi HUT RI 77: Bangkit Cepat Lawan Radikalisme dan Tebar Moderasi Beragama
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Tidak terasa Indonesia sudah memasuki perayaan HUT RI ke 77. Beragam jenis atribut kemerdekaan seperti bendera dan hiasan lampu sudah terpasang disegala penjuru wilayah desa maupun kota.  Kita akhirnya merasakan kembali suasana menjelang tujuh belasan setelah beberapa tahun kebelakang sempat terhenti karena Covid-19. Di platform digital hingga media sosial juga mulai ramai narasi kebangsaan hingga event perlombaan.

Perayaan HUT RI ke 77 juga dibarengi dengan pergantian tahun hijriah. Perasaan syukur dan gembira harus kita nikmati secara sungguh-sungguh. Mengingat di luar sana antarnegara seperti Rusia-Ukraina, Israel-Palestina masih dalam suasana konflik.

Sementara kita saat ini masih dalam suasana aman dan damai. Mensyukuri nikmat Allah yang dikaruniakan kepada kita merupakan aktivitas yang sangat terpuji. Manusia atau bangsa yang pandai bersyukur akan memperoleh nikmat dengan karunia yang berlipat ganda.

“Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat” merupakan slogan yang diusung oleh pemerintah saat ini. Slogan sekaligus harapan Indonesia untuk bisa kembali menjalankan roda pemerintahannya setelah masa pandemi. Sebut saja diantaranya adalah bidang ekonomi yang mengalami penurunan drastis hingga berujung inflasi. Selain itu, Indonesia juga harus bangkit dari beberapa ancaman disintegrasi negara seperti kekerasan, kerusuhan, radikalisme, hingga terorisme.

Di antara semua segmen kehidupan masyarakat Indonesia, terciptanya kerukunan antar golongan dan agama merupakan suatu hal yang diidam-idamkan. Coba kita renungkan bersama, kilas balik yang terjadi beberapa tahun belakang, banyak terjadi peristiwa-peristiwa yang mengancam integrasi bangsa. Kita bisa berkaca pada momentum politik 2014 dan 2019 dimana masyarakat terpolaisasi atas dua kubu yang saling mengejek, bertengkar, dan menebar kebencian.

Bukan hanya itu, dalam kehidupan sehari-hari generasi milenial juga disuguhi peristiwa-peristiwa intoleransi antar sebayanya. Maraknya tindak kekerasan dengan nama agama yang berujung memicu ketakutan dalam ruang publik. Ruang media juga tidak luput dari ancaman pemecah belah masyarakat seperti hoax, aksi terror, dan paham radikal yang menyusup melalui celah-celah media.

Tidak dapat dibantah fakta bahwa Indonesia merupakan negara yang besar dengan beragam jenis ras, suku dan budaya tak ternilai dibanding bangsa-bangsa yang lain. Hal ini patut kita syukuri karena perbedaan hakikatnya adalah bibit persatuan. Selain itu, perbedaan yang ada menjadikan Indonesia punya sesuatu yang khas dan menjadi kekayaan bersama.

Dalam Islam juga sudah diterangkan bahwa Allah menciptakan makhluk ciptaanya dalam keadaan yang sangat beragam. Keragaman ini memberikan hikmah kepada manusia unntuk menyadari dan melihat bentuk-bentuk kekuasaan ciptaan Allah SWT.

Sebagai bangsa yang amat majemuk, dibutuhkan usaha untuk menjaga keutuhan dan kerukunan antarumat beragama. Lalu, bagaimana menyikapinya? Bagaimana langkah-langkah yang harus dilakukan oleh masyarakat?

Kementrian Agama dan pemerintah Indonesia menwarkan solusi agar masyarakat menanamkan prinsip moderasi. Moderasi atau prinsip jalan tengah artinya adalah jangan terburu-buru menilai bahwa segala sesuatu perbedaan dinilai dengan menggunakan logika hitam putih dan pola pikir biner. Misalnya ‘agama saya benar, jadi agama lain salah’.

Dalam konteks Bahasa Arab, padanan kata yang menyerupai kata moderasi adalah wasaṭ atau wasaṭīyah, yang berarti tengah-tengah. Penggabungan kedua kata tersebut maka lahirlah istilah moderasi beragama yang merujuk pada sikap mengurangi kekerasan, atau menghindari keekstreman dalam cara pandang, sikap, dan praktik beragama.

BACA JUGA  Kontra-Intoleransi; Menyemarakkan Moderatisme Islam di Tengah Maraknya Budaya K-Pop

Bersikap moderat dalam beragama adalah manifestasi memahami segala bentuk keberagaman. Hal ini penting diedukasikan kepada masyarakat Indonesia, mengingat Indonesia merupakan negara multikultural dan multi-agama. Agama yang tidak lepas dari kehidupan sehari-hari masyarakat, membuat persoalan agama rentan terhadap konflik.

Dalam ajaran Islam padahal setiap manusia diajarkan untuk tidak membenci, tidak mencemooh, dan tidak mengejek atas nama perbedaan yang ada. Sebenarnya kemajemukan ini merupakan hikmah supaya manusia untuk selalu rendah hati dan saling menebarkan kasih sayang antar sesama manusia.

Langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat Indonesia adalah membentengi diri ditengah guncangan era disrupsi. Sederhananya masyarakat harus paham secara utuh bahwa dalam menjalankan kehidupan beragama dan bernegara harus dilandasi dengan sikap toleransi dan cinta tanah air. Kemudian, dengan memperkuat rasa nasionalisme dan pendidikan multikultural dapat mendorong dan memperkuat prinsip moderasi.

Mencermati realitas keberagamaan yang semakin hari semakin banyak isu-siu radikal, di mana ideologi ekstremisme dikembang-biakkan sebagai gerakan keislaman yang salah kaprah, masyarakat dengan pribadi dialogis adalah harapan kita semua. Dengan pribadi yang terbuka dan mau di ajak untuk berdialog, maka pemikiran sepihak dan kaku dapat diminimalisir.

Dengan terwujudnya pribadi daialogis, setidaknya ada sarana yang menjembatani kesalahpahaman ditengah konflik. Dengan berusaha silang pendapat dan mencari jalan tengah agar terhindar dari kerusuhan, adalah pengamalan dari prinsip moderasi.

Terciptanya pribadi dialogis yang diwujudkan dalam dialog antarumat beragama diharapkan bukan hanya menjadi gaya hidup saja, melainkan menyadarkan masyarakat akan sakralnya menjaga kerukunan antarumat beragama. Dialog juga melatih untuk tidak kaku dalam menerima budaya yang berbeda sehingga cara berpikir masyrakat adaptif dan tidak statis.

Maka, dengan semangat moderasi yang tertanam dalam hati nurani, Indonesia akan kembali kepada masa ke-emasan dan ikut serta mewujudkan perdamaian dunia. Apabila semua lapisan masyarakat saling gotong royong dan terlibat, maka isu-isu yang terjadi dapat diselesaikan dengan mudah.

Dengan demikian, marilah kita semua untuk membuka lembaran dan semangat baru di HUT RI ke 77. Sudah bukan waktunya kita memperdebatkan hal-hal yang terjadi karena faktor sepele. Kita harus melihat secara luas bahwa di luar sana, di wilayah lain, banyak yang harus diperhatikan dan membutuhkan uluran tangan kita.

Dirgahayu Indonesia ke-77. Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat!

Yusup Nurohman
Yusup Nurohman
Santri di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru