32.2 C
Jakarta

Refleksi Hari Pahlawan; Agama dan Nasionalisme Tidak Berseberangan

Artikel Trending

KhazanahTelaahRefleksi Hari Pahlawan; Agama dan Nasionalisme Tidak Berseberangan
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Agama dan nasionalisme adalah dua kutub yang tidak berseberangan. Nasionalisme adalah bagian dari agama dan keduanya saling menguatkan.”

-KH. Hasyim Asy’ari

Harakatuna.com- Tanggal 10 November, selalu diperingati Hari Pahlawan sebagai bentuk dari penghormatan yang sangat mendalam kepada para pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Peringatan ini bermula ketika tentara Inggris yang berada di bawah pimpinan Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern (A.W.S) Mallaby mendarat di Surabaya pada 25 oktober 1945. Singkat cerita, kedatangan mereka disambut baik oleh pemerintah dan membuat kesepakatan tentang kerukunan antar keduanya. Akan tetapi, konflik keduanya tidak dapat terhindari dengan alasan berbagai hal, seperti: sikap tentara Inggris yang tidak terbuka dan menciptakan kontak senjata pertama terjadi pada 17 Oktober 1945 antara pemuda Surabaya dan tentara Inggris.

Semakin lama, masalah tersebut semakin memanas dengan banyak sekali faktor di dalamnya, hingga pada tanggal 10 November meletuslah pertempuran  yang cukup besar. Sebanyak 20 rakyat Surabaya menjadi korban dan 150 ribu lainnya terpaksa meninggalkan kota Surabaya.  Tidak hanya itu, di pihak Inggris juga menyebabkan terjadinya 1.600 prajurit tewas, hilang, luka dll. dari peristiwa inilah diperingati hari pahlawan.

Dari kisah di atas, apa refleksi kita pada hari pahlawan? Bahwa sebenarnya, para korban yang gugur dari pertempuran tersebut adalah semata-semata berjuang untuk mempertahankan tanah airnya agar tidak direbut oleh bangsa asing. Perjuangan itu benar-benar nyata dilakukan tanpa pamrih. Semangat dan cinta terhadap NKRI, perlu benar-benar dipupuk oleh bangsa Indonesia, utamanya masa kini untuk melindungi siapapun yang akan menghancurkan NKRI. Lalu, ketika dibenturkan dengan agama, bagaimana nasionalisme ini sebenarnya?

Hasyim Asy’ari: agama dan nasionalisme tidak berseberangan

Salah satu tokoh yang berperan dalam pertempuran di Surabaya pada 10 November ini adalah KH. Hasyim Asyari. Fatwa resolusi jihad yang dikeuarkan untuk membangun semangat masyarakat dan rela mati untuk bertempur melawan para penjajah, menjadi fakta utama bahwa kalangan agamawan, khususnya kiai, santri memiliki komitmen kuat terhadap bangsa Indonesia. Dikeluarkannya fatwa jihad untuk melawan penjajah ini, kemudian menjadikan Hasyim Asy’ari dianugerahi gelar pahlawan nasional melalui Keppres Nomor 294 tahun 1964. Meskipun demikian, gelar tersebut sekiranya tidak bisa dilihat dari perjuangan pertempuran itu saja. Sebab pemikiran KH. Hasyim Asy’ari tentang konsep kebangsaan dan religiusitas, sangat penting sekali untuk dibaca oleh generasi Indonesia untuk terus memupuk semangat ber-NKRI.

BACA JUGA  Keluarga: Pusat Gerakan Sosial dalam Disengagement Pelaku Teror

Secara personal, KH. Hasyim Asy’ari adalah sosok ulama besar yang hidup dalam lingkungan keagamaan begitu kuat. Tradisi keislaman yang dijalani sejak kecil, tentu akan membawanya kepada kepribadian yang religius. Sikap religious tersebut nyatanya ditampilkan sangat bijaksana ketika dibenturkan dengan kebangsaan. Buktinya, ia justru sama sekali tidak menolak untuk cinta kepada NKRI. Sebaliknya, beliau adalah orang yang keukeuh memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.

Kredibilitas KH. Hasyim Asy’ari merupakan gabungan antara karakter keulamaan yang kuat,  komitmen kebangsaan yang tinggi, kepemimpinan dan wawasan kenegaraan yang luas, ditambah dengan kecintaan terhadap Indonesia yang besar menjadikan fatwa yang dikeluarkan untuk melawan penjajah adalah bukti bahwa agama dan nasionalisme sama sekali tidak ada celah untuk bersebarangan.

Sosok KH. Hasyim Asy’ari memiliki corak pemikiran Islam tradisional. Di antara pemikrian keislaman yang bis akita lihat adalah bidang tawasuf, teologi, dan bidang fikih. Pemikiran bidang kebangsaan yang dimilikinya, bisa dilihat dari ide-ide pilitik yang dapat menyatukan umat Islam Indonesia untuk melawan Kolonialisme, seperti mendirikan pesantren, Ormas NU, dan organisasi lainnya sebagai wadah menjaga persatuan. Sikap yang dikobarkan untuk melawan penjajah, meskipun selalu mendapatkan ancaman dari penjajah, tidak membuat semangatnya kendor dalam upaya menciptakan kemshlahatan bangsa Indonesia.

Sikap inilah yang ditunjukkan oleh KH. Hasyim Asy’ari sebagai sosok ulama, yang dengan gerakannya mampu menggerakkan masyarakat dalam upaya menciptakan kemashlahatan. Maka dari KH. Hasyim Asy’ari ini, kita mampu menolak secara keras pemikiran tokoh-tokoh masa kini yang selalu menolak nasionalisme karena dianggap tidak sejalan dengan Islam. Hari pahlawan ini menjadi refleksi kepada kita semua, utamanya masyarakat muslim untuk senantiasa memaknai perjuangan pahlawan adalah jihad kebangsaan untuk terus mempererat kesatuan dan persatuan Indonesia. Wallahu a’lam

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru