31.5 C
Jakarta

Refleksi Dunia Literasi; Suka Duka Menjadi Seorang Penulis

Artikel Trending

KhazanahLiterasiRefleksi Dunia Literasi; Suka Duka Menjadi Seorang Penulis
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Setiap profesi yang kita tekuni, tentu memiliki konsekuensinya dan suka duka masing-masing. Misalnya, ketika saya memutuskan untuk menekuni dunia kepenulisan dan menjadikan ‘menulis’ sebagai profesi tetap, maka saya pun telah siap dengan segala konsekuensinya.

Saya merasa sangat yakin, setiap penulis itu memiliki suka-dukanya sendiri-sendiri. Yang membedakan antara penulis satu dengan penulis lain hanyalah bagaimana cara mereka ‘bertahan’ untuk terus menulis, sementara tulisan-tulisan yang telah dibuat dengan susah payah selama ini lebih sering ditolak (baik di berbagai media massa maupun di berbagai penerbit) daripada dimuat atau diterbitkannya.

Itulah salah satu ‘duka’ yang harus dirasakan oleh seorang penulis, yakni ditolakanya naskah kita di sebuah media massa atau penerbit. Bukan ditolak sekali dua kali, melainkan berkali-kali bahkan ratusan hingga ribuan kali. Di sinilah mental seorang penulis benar-benar diuji. Apakah mau terus lanjut mempertahankan diri di dunia kepenulisan? Atau memilih hengkang dan beralih ke profesi lainnya?

Tentu saja saya tak merasa heran ketika mendapati sebagian penulis yang akhirnya memilih berhenti menjadi seorang penulis. Ya, karena dunia kepenulisan memang sangatlah keras dan diwarnai banyak ujian. Ujian terbesar penulis ya itu tadi, ketika karya tulisnya lebih banyak yang ditolak daripada diterima atau dimuatnya. Sementara kita tahu, sebagian media massa yang ada di negeri ini ada yang memberikan honor (fee) dan ada yang cuma-cuma alias tidak dibayar sepeser pun.

Di sinilah kita harus cerdas menyikapinya. Pilihlah media-media massa yang ‘menghargai’ karya-karya kita. Mungkin, bagi para guru dan dosen, menulis di media massa yang tak menyedikan honor masih dianggap menguntungkan. Karena mereka bisa mendapatkan reward dari lembaga tempat mereka mengabdikan dirinya. Misalnya, reward berupa uang atau kenaikan jabatan.

Begitu juga bagi mahasiswa yang rajin menulis di media massa. Meskipun tulisannya berhasil dimuat di media massa yang tak menyediakan honor, tetapi biasanya dia akan mendapatkan penghargaan dari dosen atau perguruan tinggi. Dulu, saat saya masih menjadi mahasiswa, saya juga sempat mendapatkan nilai tinggi berkat tulisan-tulisan saya dimuat di media massa. Bahkan, saya juga pernah mendapat beasiswa dari perguruan tinggi atas prestasi saya di bidang kepenulisan.

Saya pun menganggap bahwa itulah di antara ‘suka’nya menjadi seorang penulis. Yakni mendapat reward atau penghargaan dari dosen dan pihak perguruan tinggi. Bahkan nama kita akan sering disebut-sebut oleh dosen di depan orang banyak lho, hehehe.

Oleh karenanya, bagi Anda yang saat ini masih berstatus mahasiswa, tekunilah dunia kepenulisan, karena tulisan-tulisan kita nanti akan membawa ‘berkah’ dan keberuntungan bagi kita. Menariknya lagi, ketika lulus kuliah, kita tak perlu repot mencari kerja, karena kita sudah memiliki penghasilan dari menulis.

BACA JUGA  Menulis dengan Konsep "Ciamik", Mengapa Tidak?

Saya yakin setiap penulis sepakat bahwa hal yang paling membahagiakan bagi seorang penulis adalah ketika karya tulisnya berhasil menembus media massa berhonor. Atau menembus penerbit mayor yang memberikan royalti lumayan besar. Saya pun pernah merasakan hal tersebut; menikmati kucuran royalti atas dua buku saya yang berhasil menembus salah satu penerbit mayor di Jakarta.

Saya juga telah sering merasakan kucuran honor dari berbagai media massa yang selama ini sudi memuat karya-karya saya, mulai dari resensi buku, opini, cerita anak, cerita pendek, kisah berhikmah, hingga kisah-kisah humor yang terinspirasi dari kejadian keseharian. Lantas, uang hasil menulis tersebut ada yang saya gunakan untuk keperluan hidup sehari-hari, ada juga yang saya tabung.

Menjadi seorang penulis juga akan membuat nama kita dikenal lebih luas dan hal itu memberikan berkah bagi kita. Meskipun tujuan saya menulis tidak ingin terkenal seperti para selebriti, tapi mau tak mau ketika tulisan kita sering dimuat media massa, maka secara otomatis nama kita akan dikenal oleh lebih banyak orang.

Berkah yang saya maksud ketika nama kita dikenal luas adalah dalam bentuk undangan mengisi acara-acara kepenulisan di berbagai daerah. Saya pernah merasakan hal ini. Pernah diundang mengisi acara kepenulisan, mulai undangan di daerah sendiri hingga luar daerah seperti Yogyakarta, Cilacap, dan Grobogan.

Namun, tidak semua undangan menulis yang datang langsung saya iyakan, karena kalau boleh jujur, saya lebih suka menulis daripada berbicara di depan orang banyak, hehehe. Ini bukan perihal bisa dan tidak bisa berbicara, tapi masalah kenyamanan dalam menjalaninya. Saya lebih nyaman menulis daripada berbicara di depan publik.

Itulah di antara suka-duka menjadi seorang penulis yang saya rasakan selama ini. Saya yakin setiap penulis memiliki suka-dukanya sendiri yang perlu dikisahkan kepada orang lain, khususnya mereka yang berniat menekuni dunia kepenulisan. Tujuannya agar mereka termotivasi untuk terus menulis, apa pun kondisinya.

Sam Edy Yuswanto
Sam Edy Yuswanto
Bermukim di Kebumen, tulisannya dalam berbagai genre tersebar di berbagai media, lokal hingga nasional, antara lain: Koran Sindo, Jawa Pos, Republika, Kompas Anak, Jateng Pos, Radar Banyumas, Merapi, Minggu Pagi, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, dll.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru