26.7 C
Jakarta

Recap Permasalahan Radikalisme dan Terorisme Tahun 2022: Semakin Tumbuh Subur

Artikel Trending

KhazanahTelaahRecap Permasalahan Radikalisme dan Terorisme Tahun 2022: Semakin Tumbuh Subur
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com- Sengaja penulis menggunakan kata ‘recap’ yang sedang viral di Instagram untuk mengikuti trend netizen yang maha asik. Secara bahasa, arti recap adalah rekap. Pemaknaannya adalah, rekap merupakan kumpulan laporan akhir hitungan yang biasa disebut sebagai perincian di akhir kegiatan. Kalau di Instagram, biasanya digunakan untuk melihat ke belakang peristiwa yang terjadi dari awal tahun hingga akhir tahun.

Dalam konteks ini, recap permasalahan radikalisme dan terorisme tahun 2022 berarti melihat ke belakang, fenomena radikalisme dan terorisme yang terjadi sepanjang tahun ini. Perlu diketahui bahwa, media sosial menjadi salah satu alat tumbuh subur penyebaran radikalisme dan teroris. Dilansir dari penjelasan BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme), tahun 2022 menemukan ada 600 situs akun di media sosial yang bermuatan unsur radikalisme.

Facebook menjadi media sosial yang memuat unsur radikalisme terbanyak.

“BNPT RI menemukan lebih dari 600 situs/akun di berbagai platform media sosial yang bermuatan unsur radikal, menyebarkan lebih dari 900 konten propaganda,” hal itu dikatakan Kepala BNPT Komjen Boy Rafli Amar dalam konferensi pers akhir tahun di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (28/12/2022).

BNPT juga mencatat ada penurunan indeks potensi radikalisme dan terorisme pada tahun 2022. Bahkan telah melampaui target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

“Adapun Indeks Risiko Terorisme tahun 2022 terdiri dari dimensi target dan dimensi supply pelaku,” paparnya.

Selama 2022, indeks potensi radikalisme dan terorisme berada di angka 51.54
“Indeks dimensi target di tahun 2022 berada di angka 51.54. Angka ini lebih rendah dari yang ditetapkan RPJMN sebesar 54.26. Lebih lanjut, Indeks dimensi supply pelaku berada di angka 29,48. Angka ini juga lebih rendah dari yang ditetapkan RPJMN sebesar 38,00,” paparnya.

Meskipun demikian, penurunan indeks ini tidak kemudian menjadi hal yang dibanggakan oleh kita semua. Pengetahuan masyarakat tentang radikalisme dan teroris harus terus disuarakan di ruang digital. Narasi bahaya radikalisme dan terorisme wajib menggema di media sosial. Barangkali suara dari narasi tersebut akan dipandang sebagai hal yang membosankan karena sudah tentu, akan di cap sebagai bagian dari buzzer pemerintah. Maka, bagi orang-orang yang tidak pro terhadap pemerintah, akan memanfaatkan narasi tersebut dengan propaganda untuk menyebarkan narasi tandingan agar memperluas jihad penyebaran sistem pemerintahan Islam.

Persoalan ini belum seberapa jika dibandingkan dengan persoalan terorisme. Selama tahun 2022, sebanyak 475 narapidana terorisme tersebar di 62 lapas dan 1 lapas khusus teroris II B, Sentul, telah dilakukan upaya deradikalisasi. Sedangkan di luar lapas, BNPT RI sudah melaksanakan terhadap 1.192 orang/kelompok orang dan eks napiter.

Berdasarkan data ini, kasus terorisme dan radikalisme pada tahun 2022 adalah persoalan yang sangat kompleks dengan melihat berbagai sisi. Pola pergerakan kedua masalah ini sudah tersistem dengan berbagai kelompok/organisasi yang menjadi ruang tumbuh gerakan yang semakin subur. Artinya, baik radikalisme, ataupun terorisme, memiliki ranah juang yang diwadahi oleh masing-masing organisasi. Sehingga untuk memberantas keduanya adalah suatu yang hal sangat tidak mungkin. Akan tetapi, upaya untuk melawan keduanya, merupakan pekerjaan yang sangat bisa dilakukan dengan cara masif dan kolektif.

Propaganda aktivis khilafah semakin menggila

Selain di media sosial berupa facebook, Instagram menjadi salah satu ruang yang sangat masif digunakan oleh para aktivis khilafah dalam menyebarkan propaganda. Kita perlu melihat bagaimana strategi media sosial yang diterapkan dari segi konten dan waktu posting yang ditetapkan. Dua akun aktivis khilafah yang bisa kita lihat adalah @muslimahnewsid dan @muslimahmediacenter. Keduanya adalah media milik aktivis khilafah yang menggaungkan suaranya di Instagram.

Tidak tanggung-tanggung, dalam penyebaran ideologinya, ada banyak strategi yang dilakukan, seperti live Instagram, konsisten posting konten, hingga mengkritik fenomena sosial yang sedang viral. Kata-kata yang paling banyak digunakan dalam pemilihan judul adalah: khilafah, sekuler, liberalisasi, dll.

Judul yang digunakan oleh mereka adalah judul yang sangat ramah untuk dibaca, seperti “Gurita Korupsi di Lembaga Peradilan, Bukti Bahwa Rusaknya Sistem Hukum Negeri Ini,” dan “Pemuda Menyongsong Perubahan Hakiki Menuju Tegaknya Khilafah.”

Dua contoh judul ini adalah narasi yang biasa digunakan oleh para aktivis khilafah dalam menyebarkan propaganda di media Instagram. Pergerakan mereka sangat masif dengan loyalitas sangat tinggi untuk menyebarkan permusuhan dan pergulatan wacana kebangsaan.

Keberadaan mereka di media sosial adalah salah satu dari sekian banyak bukti tentang masifnya radikalisme di media sosial. Tahun 2022 radikalisme dan terorisme masih tumbuh subur. Tahun depan, tantangannya akan semakin besar karena potensi dibenturkan dengan kepentingan politik semakin terlihat. Melawan hal ini perlu dengan konsistensi, dan loyalitas tinggi agar juga menyebarkan narasi. Jika para kelompok radikalis tidak bosan untuk mengkampanyekan khilafah, maka kita juga tidak boleh bosan untuk menolak khilafah. Wallahu a’lam

 

 

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru