Rasulullah Mengedepankan Persaudaraan, Daripada Permusuhan!


-1
-1 points

 

Rasulullah Saw. hadir di muka bumi sebagai rahmat bagi sekalian alam. kalimat ini tidak terbantahkan hingga sekarang. Sebab kehadiran Rasulullah Saw, di zamannya itu telah berhasil membawa umat pada persatuan serta pencerahan dalam kehidupan sehari-hari.

Tuntunan Rasulullah Saw. dalam menjalani kehidupan dengan komunitas beda keyakinan dapat ditelusuri dalam banyak hadits. Di sini kita akan menemukan bahwa ternyata Rasulullah Saw. hidup di tengah keragaman keyakinan dan budaya baik pada era Mekah maupun Madinah.

Keragaman keyakinan dan budaya pada era Mekah dapat dilihat dari bejibunnya berhala-berhala di mana tiap suku memiliki tuhannya sendiri. seluruhnya berada dalam satu indentitas primordial, watsani (penyembah berhala). Keragaman keyakinan ini sepertinya dapat dilihat dalam hadis riwayat Sahih al-Bukhari:

“Jabir bin Abdullah al-Anshari berkata bahwa Rasulullah Saw. berkisah tentang keterlambatan turunnya wahyu. (Nabi mengatakan) Suatu ketika saja berjalan, lalu saya mendengar suara dari arah atas . saya mengatakan pandangan, ternyata malaikat yang mendatangiku di gua Hira tempo hari sedang dalam posisi duduk di atas kursi di antara langit dan bumi. Saya lari darinya dan kembali ke rumah, selimuti saya, selimuti saya. Dia kemudian menyelimuti saya. Kemudian Allah Swt. menurunkan ayat, (1) Hai orang yang berkemul (berselimut), (2) bangunlah, lalu berilah peringatan!, (3) dan Tuhanmu agungkanlah!, (4) dan pakaianmu bersihkanlah, (5) dan rujza tinggalkanlah. Abu Salamah berkata, rujza ialah berhala-berhala yang disembah orang jahiliah. Kemudian wahyu kembali turun secara teratur.

Sedangkan era Madinah mempunyai kondisi yang lebih komplek. Di mana selain penganut watsani, juga ditemukan penganut agama-agama langit Yahudi dan Nasrani. Hadits-hadits yang berbicara tentang kedua komunitas tersebut, umumnya muncul pada era ini. di sini, hubungan komunitas beda agama mengalami pasang surut. Bahkan pernah berdarah-darah akibat hasutan orang munafik.

Baca Juga:  Menanti Kontribusi Santri dalam Upaya Menangkal Paham Radikal

Terdapat sekian banyak hadits yang menunjukkan kedekatan Rasulullah Saw. dengan komunitas agama lain. Baik dalam konteks damai maupun hubungan yang dipenuhi ketegangan. Hal ini karena tugas utama Rasulullah Saw. adalah kesetaraan, keadilan serta perdamaian dalam kehidupan sehari-hari. Yang nampak bahwa misi yang diemban oleh Rasulullah Saw. tatkala terjadi perselisihan dalam meletakkan batu Hajar Aswad.

Rasulullah Saw. ikut serta bersama anggota masyarakat lainnya mengangkut batu-batu untuk pemugaran Ka’bah. Padahal waktu itu, masyarakat lingkungan Ka’bah merupakan masyarakat watsani. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan melalui sahabat Nabi Saw., Jabir yang menyatakan bahwa, “Sewaktu pemugaran Ka’bah, Rasulullah bersama al-‘Abbas memindahkan batu-batuan. Al-Abbas berkata kepada Nabi, ‘Letakkan kainmu di lehermu supaya melindunginya dari batu yang engkau pinggul.’ Rasulullah Saw. melakukan hal tersebut, tetapi beliau terjatuh dan kedua matanya mengarah ke langit. Sesaat kemudian beliau berteriak, ‘Pakaian-pakaianku.’ Lalu beliau memperbaiki letak pakaiannya sebagaimana semula, dan sejak itu Rasulullah Saw. tidak [ermah lagi terlihat tanpa busana.”

Setelah tiba meletakkan kembali Hajar Aswad di temapnya semula, yakni di pojok selatan Ka’bah, pada ketinggian 1,10 meter, timbul pertikaian tentang siapa yang meletakkannya. Batu itu panjangnya 25 cm. dan lebarnya sekitar 17 cm.

Semua kelompok yang terlibat dalam pemugaran Ka’bah bersikeras meletakkannya, bahkan nyaris saja terjadi pertumpahan darah antara keluarga besar Quraisy karena semua pihak menyatakan kesediaannya mengorbankan nyawa bila bukan mereka yang meletakkannya, bahkan masing-masing memasukkan tangan mereka ke dalam satu wadah yang penuh darah untuk menapakkan tekad yang bulat.

Empat atau lima hari mereka bertikai, tetapi syukur pada akhirnya mereka menerima saran orang tertua mereka, yakni Abu Umayyah Ibn al-Mughirah. Dia menyarankan agar menetapkan orang ketiga sebagai pemutus, yakni orang pertama yang memasuki pintu masjid. Ternyata yang muncul pertama kali di pintu masjid, sesaat sesudah saran ini disepakati, adalah Nabi Rasulullah Saw., yang sebelumnya juga terlibat dalam mengangkat batu-batu guna pemugaran Ka’bah. Semua menyambut baik, karena selama ini mereka mengenal Rasulullah Saw. dan menggelarinya dengan “al-Amin” (yang tepercaya).

Baca Juga:  "Budaya Kafir" Dalam Islam

Langkah yang beliau ambil sungguh sangat mengesankan dan bijaksana. Beliau meminta selembar kain, lalu mengambil Hajar Aswad dan meletakkannya di tengah kain itu. selanjutnya beliau mengajak “perwakilan” setiap kelompok untuk mengangkat kain tersebut bersama-sama menuju tempat Hajar Aswad, kemudian dengan kedua tangan beliau, Hajar Aswad diletakkan di tempatnya semula. Demikian, semua puas dan persengeketaan, bahkan pertumpahan darah berhasil dielakkan.

Peristiwa ini mengajarkan kita untuk menjaga kerukunan dengan lingkungan sekitar kita. Gotong royong untuk membangun pondasi kehidupan yang lebih baik. Tidak hanya itu, Rasulullah Saw. mengajarkan kepada umantnya untuk merangkul semua orang tanpa terkecuali tanpa melihat suku, agama bahkan jabatan mereka sendiri.

Selain tentang perintah menjaga perdamaian, dalam peristiwa ini juga memperoleh pengalaman-pengalaman spiritual yang dapat dijadikan sebagai kunci toleransi agama-agama dalam konteks kekinian. Rasulullah menunjukkan kepada umatnya tentang pentingnya tradisi keterbukaan komunikasi antar agama. Yang terpenting peristiwa ini adalah kerukunan umat beragama. Agar setiap penganut bisa saling menghargai, menghormati atas perbedaan yang ada setiap agama.

Agama yang dibawa oleh Rasulullah Saw. tatkala melihat dalam riwayat ini, memperlihat agama yang paling kokoh yang dapat mewujudkan persatuan dan persaudaraan umat Islam pada khususnya dan umat manusia di muka bumi ini pada umumnya. Sebab Islam sangat menganjurkan kepada seluruh umat manusia yang hidup di dunia ini untuk saling kasih mengasihi. Sayang menyayangi tidak terbatas hanya antara satu golongan atau satu suku saja, tetapi antara bangsa yang satu dengan bangsa yang lain. Bahkan umat manusia diperintahkan untuk menyayangi seluruh makhluk Allah, termasuk hewan, tumbuh-tumbuhan dan lain-lain.

Sebagai penganut agama Islam harus mampu memperlihatkan kepada dunia bahwa Islam adalah agama persatuan dan persaudaraan untuk semua umat manusia di muka bumi ini. Islam mengajarkan kepada pemeluknya untuk mencintai dan mempertahankan, serta memelihara negara, mempersatukan umat dan membangun masyarakat. Sebagai contoh yang dapat kita ambil adalah, bahwa Rasulullah SAW, beliau adalah seorang pemimpin dan negarawan yang telah berhasil menyatukan berbagai golongan masyarakat yang sejak berpuluh-puluh tahun saling bermusuhan.

Baca Juga:  Budaya Literasi dan Semangat Pancasilais

*Oleh: Novita Ayu Dewanti, mahasiswi Pasca Sarjana Universitas Negeri Yogyakarta.


Like it? Share with your friends!

-1
-1 points

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.