28.4 C
Jakarta

Ramadan Penuh Berkah, Teroris FPI-ISIS Perlu Kontra

Artikel Trending

Milenial IslamRamadan Penuh Berkah, Teroris FPI-ISIS Perlu Kontra
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Ramadan ini kita perlu jeda. Pikiran yang terus-terusan digerus, bisa jadi lumpuh. Hati yang selalu menjujuh, jadi mudah gaduh. Dan agama yang terus-menerus diobral layaknya pasar, bisa jadi barang murahan. Seperti yang diobral oleh FPI dan yang kini dinyatakan berafiliasi dengan ISIS.

FPI Mengobral Agama dan Ketakutan?

Jeda di antara itu semua, adalah momen hibernasi untuk memulihkan spiritualitas kehidupan. Bukan cuma spritualitas jasmani, tetapi juga ruhani. Sehingga, kita terhindar dari budak nafsu serakah kehidupan. Hingga akhirnya menghalalkan segala cara untuk mendapatkan suatu kehidupan: jalan teroristik.

Epos jeda itu, bisa memikrajkan ruh ke puncak langit tertinggi. Keberadaan ruh di langit, membuahkan kesadaran baru; dari kesadaran harian menuju kesadaran luhur. Bahkan, ia bisa bisa menggali hal yang selama ini hilang dari pemeluk agama, yaitu rahmah.

Rahmah (ramah), mengalirkan harmonisasi kehidupan. Ia menuntun kehaluan lumbung kehidupan. Sehingga menumbuhkan kekuatan, keluhuran, dan spiritualitas. Tetapi rahmah itu tak (mungkin) dimiliki bagi siapa yang menghianatinya: memakan daging sesama saudaranya, seperti perilaku ISIS dan FPI.

Puncak dari penjelajahan atau pencarian hidup adalah rahmah. Sebab,  rahmah memantulkan kebahagian kehidupan, baik di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana ungkapan Viktor Frank, kebagiaan tidak dapat terengkuh hanya untuk bersenang, dan berkuasa, tetapi dengan pencarian menemukan makna. Makna yang dimaksud adalah rahmah, kebahagiaan. Bukan kebencian apalagi tindakan teroristik.

Adalah arti paling mendalam dalam hidup jika bisa menerapkan rahmah atau welas asih atau ramah. Sebab, cermin baik dalam diri seseorang ketika memberi dan melayani dengan spontanitas tanpa sempat berpikir agama, ormas, suku, kepentingan atau keuntungan apa yang bakal dia dapat. Apalagi di Ramadan bergelimang berkah.

Bahkan, bisa dikatakan, rahmah sumber dari spiritualitas dan moralitas. Ia utama yang merupakan raison d’etre agama. Tanpa spiritualitas yang rahmah, agama justru jadi sumber kesengkarutan, peperangan, seperti di Suriah, Irak, Israel, dan di berbagai negara. Mungkin juga di Indonesia.

BACA JUGA  Remoderasi Pendidikan di Indonesia

Tanpa moralitas yang rahmah, agama bisa jadi sumber sikap marah: radikal dan agresif. Sikap-sikap ini, kini makin kelam dan tebal, akibat ulah-ulah politisi yang menjual agama, ormas radikal, dan agamawan yang kehilangan nurani kebajikan.

Sebaiknya sebagai Pemeluk Agama

Kiranya, dengan sikap rahmah atau ramah inilah pelaku agama (seperti FPI) dapat pancaran spritualitas yang memancarkan berkah melimpah bagi sesama, dan juga penangkal dari kesesatan dan kelaliman. Sebagaimana disebutkan: “Kasih sayang-Ku meliputi apa saja” dan kasih sayang-Ku menundukkan murka-Ku.

Dan bahkan, Tuhan menyebut dirinya dari sejumlah 114 ayat (kecuali al-Taubah, dengan akar “rahmah” (kasih sayang). Yakni, rahman-rahim: yang menyayangi seluruh makhluknya, tanpa terkecuali sebagai petunjuk kepada manusia yang menapaki jalannya.

Tapi jalan itu tak dimiliki oleh ISIS dan FPI, bila masih menatap agama dengan berlebihan dan menatap negara Pancasila sebagai musuh dan bukan bagian dari Islam.

Mengutip Haidar Baqir, Nabi-Islam pun adalah nabi yang disebut Tuhan sebagai berakhlak karena cinta dan kasih-sayangnya kepada manusia, “yang sangat berat menanggung kesusahan orang, sagat ingi orang mendapatkan segala kebaikan, dan kepada orang-orang yang beriman penuh belas kasihan dan sayang.

Dan Tuhan sendiri yang menfirmankan bahwa seseungguhnya Dia mencipta manusia—karena cinta dan sayang—hanya agar manusia itu belajar kembali mencintainya, melalui pengenalan atas dirinya, “sebagai yang Pengasih, Penyayang, dan Penutup Aib.”

Maka, sebagai bukti bahwa mencintainya, adalah hanya dengan mencintai sesamanya, yang oleh Tuhan disebut sebagai kerabat (‘iyal)-nya sendiri.

Atas semua itu, setiap pemeluk agama (muslim) punya kewajiban berdakwa, mengajak kepada Tuhan, kepada kebaikan, dengan cara-cara rahmah, bukan dengan cara marah. Sebab, dakwah atau peribadatan yang hampa kasih-sayang, rahmah, ramah, dapat mengerdilkan kehidupan, dan bisa jadi menghalalkan kekerasan. Dan Islam tidak demikian.

Agus Wedi
Agus Wedi
Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru