34.2 C
Jakarta

Radikalisme Vs Jihad Pesantren

Artikel Trending

KhazanahPerspektifRadikalisme Vs Jihad Pesantren
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Salah memahami jihad membuat seseorang rentan menjadi radikal, bahkan kita sering mendengar radikalisme dewasa ini begitu marak lewat aksi slogan khilafah kembali didengungkan. Fenomena radikalisme juga menjadi perhatian penting dari pesantren. Ini tentu saja merupakan tugas berat yang harus dilaksanakan oleh para santri, seperti memberikan pelurusan terhadap pemahaman akan sejarah.

Kaum radikal, banyak tidak mengerti aspek kesejarahan dalam Islam, mereka seringkali bersikap ahistoris dalam arti menganggap masa dulu dan sekarang adalah sama saja, yang dibutuhkan hanyalah bagaimana dapat menerapkan sistem Islam yang sudah baku tersebut. Ini lagi-lagi, merupakan problem epistemologis. Dalam banyak hal, kelompok radikal ini keliru dalam memahami agama. Mereka menganggap kondisi dahulu dan sekarang tidak mengalami banyak perubahan, dengan begitu sistem syari’at dapat diterapkan dalam kondisi apa saja.(Rahmatul Izad, 2018)

Di era milenial ini, masyarakat yang mengalami sekuralisasi, dedikasi moral dan krisis kepemimpinan, sehingga memantapkan niat bahwa solusi dari problem tersebut adalah Islam. Di antara indikator lahirnya radikalisasi yang tumbuh di kalangan Muslim adalah efek domino dari kebobrokan sistem sosial masyarakat yang tidak lagi mengindahkan peraturan agama. Oleh karenanya, mereka yakin Islam mampu menyelesaikan semua problem masyarakat sehingga Indonesia harus menjadi negara Islam.

Jihad dan Radikalisme

Pemahaman sebagian muslim dengan doktrin agama yang sangat kaku, dengan seruan kembali ke masa klasik yakni Islam secara kaffah.  Sikap liberal yang memahami teks berkesesuaian atau sama dengan perilaku Nabi membuat Islam sebagai agama kontekstual. Ini juga menjadi indikator lahirnya akar radikalisme di negeri ini. Kita sering mendegar ajakan jihad fi sabilillah sebagai salah satu seruan yang mereka dengungkan, namun interpretasi jihad fi sabilillah oleh gerakan radikal dan teroris sebetulnya telah melenceng dari konteks hukum dalam ajaran agama Islam.

Hal ini karena prinsip jihad fi sabilillah harus memperhatikan aspek maslahat yang tidak merugikan masyarakat. Penafsiran jihad fi sabilillah yang selain Islam adalah kafir dan wajib diperangi. Menghancurkan kemungkaran atau membunuh pelakunya adalah interpretasi yang salah dan harus diluruskan. Interpretasi tersebut jelas akan mengguncang tatanan sosial yang multikultur yang berbeda agama dan keyakinan sehingga perlu kiranya makna jihad fi sabilillah (berjuang di jalan Allah) diinterpretasikan dengan menggunakan teori maslahah dalam maqasid syariah sebagaimana yang dikemukakan oleh Imam al-Syasthibi.

Dalam dekade ini masyarakat yang mengalami sekuralisasi, dedikasi moral dan krisis kepemimpinan, sehingga memantapkan niat bahwa solusi dari problem tersebut adalah Islam. Radikalisasi yang tumbuh di kalangan muslim adalah efek domino dari kebrobokan sistem sosial  yang tidak lagi mengindahkan peraturan agama. Karenanya, mereka yakin Islam mampu menyelesaikan semua problem masyarakat sehingga Indonesia harus menjadi negara Islam. Pancasila merupakan solusi berlangsungnya radikalisme di Indonesia.

BACA JUGA  Darurat Solidaritas: Lawan Polarisasi Politik dan Perpecahan Bangsa!

Pancasila di Pesantren

Kita mengetahui bahwa karakteristiknya Pancasila mengadung beberapa nilai antara lain. Pertama, nilai ketuhanan, berarti kewajiban bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk memeluk agama. Tidak ada ajaran kekerasan dalam agama apapun di Indonesia. Kedua, nilai persatuan. Indonesia terdiri dari berbagai macam budaya, ras dan agama, bersatu menjadi kesatuan yakni bangsa Indonesia.

Ketiga, nilai keadilan sosial. Masyarakat harus mendapatkan hak dan pemberlakuan yang sama dalam sosial sebagaimana telah diatur dalam UUD 1945. Keempat, nilai kesejahteraan dan kerakyatan. Nilai tersebut bermakna hak bagi masyarakat Indonesia mendapatkan kehidupan yang layak.

Nilai-nilai tersebut menjadi jawaban bahwa Pancasila adalah pemersatu bangsa yang dapat menumpas radikalisme di Indonesia, karena paham radikal sangat bertentangan dengan ide dan karakteristik Pancasila. Radikal itu sendiri terbagi dua. Radikal dalam arti sebuah perjuangan, dan radikal dalam akidah, politik, dan lain-lain.

Pesantren tidak melahirkan paham radikalisme, apalagi terorisme. Paham radikalisme lahir akibat seseorang tidak mempelajari ilmu agama secara utuh dan kaffah. Tidak bisa kita pungkiri, sederet aksi terorisme selama ini menggunakan simbol umat Islam. Namun, setelah kita telusuri teroris tersebut memang tidak paham agama dengan cara belajar agama secara otodidak dan tidak bersanad.

Kita semua telah sepakat bahwa Indonesia merupakan negara republik berasaskan Pancasila. Pesantren sebagai garda depan bagi penjangaan nilai-nilai keislaman yang mengedepankan nasionalisme, sudah sepatutnya memiliki peranan yang lebih penting dalam menangkal radikalisme agama. Jika pemahaman keagamaan kaum radikal ini keliru, maka pesantrenlah yang dapat meluruskan. Di samping itu, sebagai lembaga keagamaan, pesantren justru lebih dekat dengan masyarakat ketimbang pendidikan formal, karena pesantren lebih mengedepankan kultur atau budaya. Itu artinya bahwa pesantren justru lebih dapat berinteraksi secara langsung dengan masyarakat dalam hal mensosialisasikan Islam yang terbuka dan selalu waspada terhadap bahaya radikalisme ini. Pesantren sebenarnya memiliki jaringan para ulama yang begitu luas, komunikasi antar pesantren juga merupakan mediasi penting yang dapat menyatukan pandangan yang seragam kepada masyarakat. Melakukan dialog, juga merupakan media yang sangat penting. Pesantren paling tidak, memiliki gerak pada dua arah, pertama mengembangkan kajian keislamaan yang begitu kaya dan selalu menanamkan sikap yang inklusif dalam memahami Islam. Jika keragaman aliran dalam Islam tidak bisa dihindari, maka dengan sikap inklusif inilah Islam dapat bersatu menjadi agama yang damai dan tidak menimbulkan konflik antar sesama.(Rahmatul Izad, 2018)

Tgk. Helmi Abu Bakar El-Lamkawi
Tgk. Helmi Abu Bakar El-Lamkawi
Guru Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga dan Dosen IAI Al-Aziziyah Samalanga, Bireuen dan Ketua PC Ansor Pidie Jaya, Aceh.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru