27.1 C
Jakarta

Radikalisme di Tengah Wabah Virus Corona

Artikel Trending

Siapakah yang radikal? Pertanyaan ini sering terbersit dalam benak setiap orang. Kadang yang kita pikir kelompok itu radikal, sesungguhnya mereka moderat. Kadang kita yang merasa baik-baik saja, ternyata terjebak dalam jerat radikalisme.

Agar tidak bingung, mari kita lihat ciri-ciri orang yang radikal. Salah satunya, “kekeh”, ngotot dengan pendapatnya sendiri. Dia merasa paling benar, sehingga cenderung menyalahkan, bahkan menyesatkan orang lain. Orang semacam ini tak ubahnya kata pepatah: “Semut di seberang laut kelihatan, sedang gajah di pelupuk mata tak kelihatan.” Maksudnya adalah betapa mudahnya seseorang melihat kesalahan orang lain dibanding kesalahannya sendiri.

Dihadapkan pada situasi akhir-akhir ini, di mana Virus Corona menyerang Negara Indonesia, tipikal manusia radikalis tidak peduli dengan imbauan pemerintah untuk menerapkan “social distancing” alias menjaga jarak kurang lebih satu sampai dua meter. Para radikalis tetap “kekeh” dengan egonya sendiri. Mereka, misal, ngotot menjalankan shalat Jamaah di masjid. Jika ditanya dan dikomplain, mereka menjawab dengan entengnya: “Hidup dan mati sudah di tangan Allah.”

Memang umur di tangan Tuhan. Tapi, semua itu kembali pada ikhtiar masing-masing. Tidak cukup hanya bermodalkan nekat, sementara mereka belum memaksimalkan ikhtiar, semisal belum “social distancing“, belum menjaga kebersihan, dan seterusnya.

Terkait pentingnya berikhtiar dalam mengubah takdir dari yang tidak baik menuju yang baik, bahkan dari yang baik menuju yang paling baik, mari kita renungkan pesan Al-Qur’an: “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Qs. ar-Ra’d/13: 11).

Jelas, pada ayat tersebut Allah menekankan bahwa masa depan takdir atau keadaan hidup manusia ditentukan oleh ikhtiar masing-masing. Tuhan hanya merestui apa yang mereka sendiri ikhtiarkan, kalau meminjam judul buku Leo Tolstoy, “God Sees the Truth, But Waits” (Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu).

Ciri lain radikalisme adalah cenderung memahami teks secara tekstual. Orang radikal pada tahap ini sering mengabaikan kontekstualisasi teks. Teks seakan hampa dari makna. Teks dijerat dengan medan yang serba terbatas. Sehingga, makna teks tidak sampai di benak pembaca.

BACA JUGA  Sebab Tidak Mau Berbeda, Jepang-Belanda dan HTI-FPI Tersungkur di Tanah Indonesia

Kaum radikal akan terjebak begitu dihadapkan pada bunyi ayat: “Sesungguhnya yang memakmurkan Masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan tidak takut (kepada apapun) kecuali Allah, maka mudah-mudahan mereka termaksud orang yang mendapatkan petunjuk.” (Qs. at-Taubah/9: 18).

Memang benar pada ayat itu hanya orang yang beriman yang dapat memakmurkan masjid. Kaum mukminun juga melaksanakan shalat, bahkan tidak merasa takut kepada suatu apapun selain Allah. Terus, masihkah shalat jamaah diadakan dalam situasi genting sekarang karena wabah virus yang membahyakan?

BACA JUGA  Ternyata Islam Radikal Sudah Muncul pada Masa Nabi

Kaum radikalis yang picik akan berpikir kita tidak usah takut kepada wabah Virus Corona karena yang seharusnya ditakuti hanya Allah. Begini manusia yang terjebak dengan kebodohannya sendiri. Ingat, bedakan takut kepada Allah dan takut kepada selain-Nya semisal Virus Corona. Takut kepada Allah tentu dengan mendekat. Sedang, takut kepada Virus Corona seharusnya menjauh.

Takut kepada Allah tidak selamanya diekspresikan di masjid saja, tapi di mana pun kita berada. Sedang, takut kepada Virus Corona jelas kita menghindari berkumpul atau shalat jamaah di masjid. Takut kepada Allah itu sesuatu yang positif, sementara Virus Corona itu sesuatu yang negatif. Ketika dihadapkan dengan dua situasi yang dilematis ini, menghindar dari sesuatu yang negatif daripada mengerjakan sesuatu yang positif adalah pilihan yang tepat.

Kita menjadi manusia yang bertakwa tidak harus di masjid, tetapi di mana pun kita bisa menjalankan nilai-nilai takwa kepada Allah. Hanya orang yang radikal yang berpikir takwa terbatas di masjid, Islam di masjid, bahkan iman pun di masjid. Islam semacam ini sudah mulai tidak sehat. Semoga kita selamat dari Islam radikal yang sesungguhnya bukan Islam, tapi hawa nafsu.[] Shallallah ala Muhammad.

Khalilullah
Khalilullah
Lulusan Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru