25 C
Jakarta

Quraish Shihab dan Nilai-nilai Moderasi yang Diperjuangkan

Artikel Trending

Islam dan Timur TengahIslam dan KebangsaanQuraish Shihab dan Nilai-nilai Moderasi yang Diperjuangkan
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Pada tulisan ini saya ingin menceritakan perjalanan intelektual saya selama belajar di Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) yang didirikan oleh M. Quraish Shihab. Publik memang lebih mengenal sebutan Quraish Shihab dibanding PSQ itu. Mungkin, naman Quraish Shihab lebih populer dan punya power dalam ranah keilmuan, khususnya spesialis tafsir.

Yang menarik belajar di PSQ–tanpa saya melebih-lebihkan–adalah mengacu pada spirit yang diusungnya, yaitu menegakkan nilai-nilai moderasi beragama. Pendiri lembaga ini menguatkan nilai-nilai moderasi ini dalam sebuah karyanya, Wasathiyah: Wawasan Islam tentang Moderasi Beragama. Sesuai dengan judul bukunya, sudah tergambar bahwa buku ini fokus membahas tentang moderasi berbagai sisi.

Spirit moderasi yang diusung oleh PSQ bukan hanya tergambar dalam satu karya Quraish Shihab tersebut. Hampir keseluruhan–jika enggan berkata semua–karya Quraish Shihab selalu berpagang teguh pada nilai moderasi itu. Baca dan pahami masterpiecenya yang berjudul Tafsir Al-Mishbah yang di dalamnya memuat penafsiran yang dikutip dari ulama-ulama–yang menurut sebagian umat Islam–yang saling bertentangan. Sebut saja, ulama Syiah dan ulama Sunni.

Seorang ulama Syiah yang sering muncul dalam tafsir Quraish Shihab adalah Thabaththaba’i. Meski begitu kenyataannya, Quraish Shihab tidak “taklid” buta. Quraish Shihab juga melakukan kritik terhadap ulama Syiah tersebut. Misalkan, kritik terkait penafsiran Thabaththaba’i mengenai ahlul bait.

Sedang, penafsiran ulama Sunni yang dikutip justru lebih banyak dibanding ulama Syiah. Misalnya, penafsiran Fakhruddin ar-Razy yang dikenal dengan tafsir filsafat, penafsiran Thahir Ibnu Asyur yang dikenal dengan tafsir semantik, dan masih banyak yang lainnya. Bahkan, penafsiran ulama Muktazilah az-Zamakhsyari juga sering dikutip.

Tidak membatasinya kutip-mengutip dalam karya tafsirnya menunjukkan bahwa Quraish Shihab itu adalah ulama yang terbuka terhadap perbedaan. Terbuka terhadap perbedaan ini merupakan implementasi dari nilai-nilai moderasi. Biasanya orang yang terbuka ini tidak gampang menyesatkan, apalagi mengkafirkan orang lain yang berbeda, baik secara pemikiran maupun keyakinan dengan kita. Perbedaan bagi Quraish Shihab bukanlah petaka, melainkan rahmat.

BACA JUGA  Yayasan Cinta Quran Diduga Kuat sebagai Sayap Juang Eks-HTI

Nilai-nilai moderasi selain itu yang diperjuangkan PSQ atau Quraish Shihab lebih tepatnya adalah menghadirkan cinta terhadap tanah air. Perjuangan cinta Quraish Shihab terhadap tanah airnya Indonesia tentu memiliki dasar yang kuat. Selain ada nas dalam Al-Qur’an, cinta tanah air ini merupakan bagian dari hal yang diperjuangkan Nabi Muhammad SAW. Perhatikan saja cinta beliau yang diungkapkan dalam doa-doanya sehingga menjadikan tanah kelahirannya Mekkah menjadi tanah haram atau tanah yang di sana dilarang terjadi pertumpahan darah.

Cinta tanah air yang diperjuangkan Quraish Shihab tergambar dalam karya-karyanya yang menjadikan tafsir itu harus “membumi” di mana tafsir itu berpijak. Sebagai tafsir yang ditulis di Indonesia, karya-karya Quraish Shihab selalu merespon isu-isu yang berkembang di Indonesia. Sebut saja, kesalahpahaman masyarakat tentang jilbab yang dianggap sebagai pakaian wajib perempuan muslim.

Padahal, bagi Quraish Shihab, jilbab itu tidak selamanya wajib dipakai perempuan muslim. Karena, ulama berbeda-beda pendapat terkait status wajib dan tidaknya pakai jilbab. Bahkan, anak perempuan Gus Dur tidak pakai jilbab dan Gus Dur tidak menegurnya. Bahkan, Najwa Shihab, putri kedua Quraish Shihab, sering tidak pakai jilbab dan Quraish Shihab membiarkannya.

Sebagai komentar terhadap Al-Qur’an yang diturunkan di Arab, Quraish Shihab mampu menghadirkan pesan kitab sucinya dapat berbicara langsung dengan masyarakat di Indonesia. Jadi, tafsir yang disampaikan tidak ke-Arab-arab-an. Tetapi, tafsir itu mampu membumi di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang jelas secara budaya berbeda dengan masyarakat Arab.

Sebagai penutup, saya merasa beruntung bisa belajar dengan Quraish Shihab di PSQ. Paling tidak, saya paham bahwa moderasi beragama itu penting dipelajari agar tidak terjebak dalam doktrin radikalis yang menyesatkan umat. Bukankah banyak umat saat ini yang terjebak dalam sesat pikir yang anti-perbedaan dan Islam itu adalah Arab?[] Shallallah ala Muhammad.

Khalilullah
Khalilullah
Penulis kadang menjadi pengarang buku-buku keislaman, kadang menjadi pembicara di beberapa seminar nasional

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru