29.5 C
Jakarta

Propaganda Khilafah HTI di Era TikTok

Artikel Trending

Milenial IslamPropaganda Khilafah HTI di Era TikTok
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Sejak dibubarkan, HTI gentayangan. Umat Islam di Indonesia terhantui oleh keberadaan mereka, terancam oleh indoktrinasinya yang sangat menipu. Propaganda khilafah tidak pernah surut, justru berdinamika. Para aktivis khilafah memang tidak pernah kehabisan akal. Saat Ramadhan tiba, mereka pakai istilah ‘tadarus’ untuk memasarkan khilafah palsunya. Saat Rajab tiba, mereka juga bikin acara sepekan berupa Ekspo yang isinya juga memasarkan khilafah.

Semua metode dipakai. Semua momentum dimanfaatkan. Sejarah dimanipulasi, Islam dibajak. Al-Qur’an dijadikan pembenaran ambisi politik. Seluruh media sosial dijadikan kendaraan radikalisasi. Facebook, Instagram, dan Twitter sudah. Kini mereka juga merambah ke dunia TikTok; platform berbagi video yang saat ini menempati pengguna terbanyak di antara platform lainnya bahkan YouTube. TikTok jadi fenomena baru yang menarik dan, tentu saja, paling digandrungi milenial.

Memang, secara jumlah user, TikTok belum menang dari Twitter karena masih terbilang belia di dunia permedsosan. Tetapi persentase peningkatan penggunanya jauh lebih tinggi dari para pendahulunya dalam rentang tahun yang sama. Menurut riset Insider Intelligence, seperti dilansir Kompas, reputasi TikTok akan semakin populer di tingkat global dan menjadi media sosial terbesar ketiga di dunia. TikTok bakal lebih besar dari Twitter, dan akan membayangi Facebook dan Instagram.

TikTok memiliki pengguna aktif 755 juta orang pada tahun 2022. Sementara itu, Facebook diperkirakan bakal memimpin di posisi pertama dengan total pengguna aktif bulanan sebesar 2,1 miliar pada tahun 2022. Tercatat bahwa jumlah pengguna aktif Facebook mengalami pertumbuhan sebesar 6 persen dari tahun ke tahun. Tepat di bawah Facebook, Instagram mempunyai total 1,28 miliar pengguna aktif dalam satu tahun ke depan. Pendek kata, TikTok berpeluang besar jadi media propaganda baru.

Peluang tersebut dibaca betul oleh para agen khilafah HTI. Mereka mulai menyusun siasat untuk melakukan indoktrinasi radikalisme di TikTok. Terpantau saat ini, video-video bertagar #khilafah dan #islamkaffah sudah marak, meskipun belum ada akun resmi atas nama HTI. Simpatisan HTI bergerak secara personal dari komando belakang dan protokol hantu; itu semua ditempuh untuk menyulitkan penindakan. Namun tetap, mereka merupaakan tiktokers HTI.

Tiktokers HTI

Tiktokers HTI tidak mempunyai akun official atas nama HTI, sebab itu sama saja dengan bunuh diri. Sebagai organisasi terlarang, propaganda HTI mesti berjalan di bawah pengawasan dengan narasi yang bahkan tidak disadari oleh si korban, sehingga korban tidak merasa terjerumus propaganda HTI melainkan merasa selamat dari fitnah akhir zaman. Untuk melihat itu, harus diketahui pula apa saja motif seseorang main TikTok.

Ada tiga jenis orang yang aktif di TikTok. Pertama, melihat TikTok sebagai platform hiburan belaka. Ini meliputi pengguna umum yang biasanya kalangan milenial; TikTok jadi solusi rebahan dan paling banter saling komen dan saling menyapa satu sama lain. Kedua, melihat TikTok sebagai ladang bisnis. Jualan online di TikTok sudah marah juga, melalui endors oleh influencers maupun konten biasa yang berisi tentang bisnis. Ketiga, melihat TikTok sebagai edukasi.

BACA JUGA  Konsistensi Perjuangan Melawan Radikalisme

Jenis ketiga ini yang rentan jadi media diseminasi propaganda khilafah. Edukasi yang dimaksud tak melulu edukasi positif, melainkan edukasi pada sesuatu yang manipulatif: terlihat edukatif meskipun aslinya malah sebaliknya. Para tiktokers HTI membuat konten propaganda, disebarkan sebagai klaim kebenaran, dipoles untuk menarik simpati banyak pihak, sehingga tersembunyi niat asal bahwa mereka, para tiktokers HTI sebenarnya punya satu tujuan: ingin NKRI tumbang.

HTI Ingin NKRI Tumbang

Ini bukan lagi rahasia umum. Tokoh yang diustazkan macam Ismail Yusanto memikat banyak orang. Bahkan Baim Wong, youtuber yang tidak tahu-menahu soal ideologi Yusanto, sudah lama ikut pengajian yang diisi oleh para ideolog khilafah. Sontak netizen reaktif. Semua orang sudah menyadari, selaku dedengkot Hizbut Tahrir, Yusanto adalah sosok berbahaya bagi Indonesia.

Keinginan HTI sejak masuk ke negeri ini memang untuk menumbangkan pemerintahan yang sah, mengubah tatanan negara dengan dustur mereka. Para agennya barangkali melihat peluang memanfaatkan TikTok untuk agenda politik makar mereka. Maka tidak mengherankan, meski senyap, bahkan tak disadari oleh para tiktokers itu sendiri, pelan tapi pasti, mereka akan menguasainya.

Sampai NKRI tumbang, HTI tidak akan berhenti berulah. Masabodoh dengan celaan orang-orang, justru yang menentang khilafah bagi mereka adalah thaghut. Transformasi pergerakan politiknya adalah yang paling riskan. Kalau pemerintah, suatu saat, berniat melarang TikTok karena sudah jadi sarang indoktrinasi khilafah, maka catat satu fakta: semua gara-gara para dedengkot HTI yang menyelundup ke media sosial tersebut.

Sampai di sini, menjadi wajib kita pahami duduk masalahnya. Musuh bersama kita bukan hanya organisasi tertentu, melainkan ideologi. Ia tidak berbentuk, tetapi terpampang jelas di otak setiap korbannya. Khilafah palsu yang diindoktrinasi kepada mereka melampaui sekat organisasi apa pun, juga media sosial apa pun. Sekarang, di hadapan kita, hal itu mewujud. TikTok bukan lagi yang dulu: tidak hanya jadi platform video, melainkan platform indoktrinasi.

Pertanyaannya, bagi Anda yang selama ini aktif di TikTok, masihkan merasa media sosial tersebut ama seperti dulu atau sudah tercemar para aktivis khilafah seperti HTI? Pertanyaan lainnya, masihkah ada bebas dari propaganda khilafah HTI atau justru tanpa terasa telah terperosok ke dalamnya? Konten HTI sangat jelas dan mudah dibaca. Ia tidak terikat dengan nama akun TikTok tertentu. Para simpatisan mereka akan bergerak suka rela melalui TikTok untuk menipu umat Islam Indonesia.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Analis, Penulis

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru