25.7 C
Jakarta

Prof. Azyumardi Azra dan Perjuangannya dalam Menyelamatkan Indonesia dari Paham Radikal

Artikel Trending

Islam dan Timur TengahIslam dan KebangsaanProf. Azyumardi Azra dan Perjuangannya dalam Menyelamatkan Indonesia dari Paham Radikal
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Hari Minggu ini Indonesia sedang berduka karena kepergian guru besar Prof. Azyumardi Azra setelah menghembuskan nafas terakhirnya di Malaysia. Nama beliau tidak asing lagi di benak masyarakat Indonesia, terlebih di tengah-tengah akademisi.

Ada banyak perjuangan Prof. Azra semasa hidupnya. Satu di antara yang berkesan adalah perjuangan Prof. Azra dalam menyelamatkan Indonesia dari gempuran paham radikal. Paham berbahaya ini telah merambah dan masuk, bukan hanya di lingkungan masyarakat umum, tetapi juga di perguruan tinggi. Hal ini justru sangat memprihatinkan melihat bangsa ini diacak-acak masa depan dan kebhinekaannya.

Melihat kenyataan itu, Prof. Azra melakukan deradikalisasi dengan menyatakan bahwa radikalisme bukan paham yang dibenarkan. Paham ini jelas bertentangan dengan kebhinekaan yang dipegang teguh di Indonesia. Karena, negara merah putih ini termasuk negara plural yang di dalamnya terbingkai aneka ragam perbedaan, mulai perbedaan pemikiran sampai perbedaan keyakinan.

Negara yang dibangun dengan perjuangan ini akan hancur tiada bersisa jika dibiarkan atau dipimpin oleh kelompok radikal. Karena, kelompok ini bersikeras mengganti ideologi negara Pancasila dengan sistem berbasis agama dan model negaranya berubah menjadi Negara Islam (atau yang dikenal dengan istilah Daulah Islamiyah).

Deradikalisasi yang dilakukan Prof. Azra dimulai dengan langkah pengenalan ciri-ciri kelompok radikal itu. Katanya, ciri-ciri kelompok radikal biasanya gemar mengklaim orang lain yang tidak sepemikiran atau tidak seagama dengan “thaghut” (atau setan) dan kafir. Ini menunjukkan bahwa orang lain yang mendapat klaim itu bukan kelompok mereka dan darahnya halal dibunuh. Naudzubillah!

Pengenalan terhadap ciri-ciri kelompok radikal merupakan cara paling jitu dalam menyadarkan bangsa ini untuk lebih berhati-hati dengan tebar jala yang dilakukan kelompok radikal itu. Kelompok ini memang pintar dalam melakukan perekrutan anggota.

BACA JUGA  Yayasan Cinta Quran Diduga Kuat sebagai Sayap Juang Eks-HTI

Langkah berikutnya yang dilakukan Prof. Azra adalah mengajak pemerintah untuk menghapus atau meng-take down situs-situs atau konten radikal yang tersebar di dunia maya. Yang paling berhak untuk melakukan tugas ini adalah Kementrian Komunikasi dan Informasi (Kominfo).

Penghapusan situs-situs radikal ini akan menyelamatkan warganet terjebak dalam tebar jala mereka. Banyak warganet yang terpapar radikalisme karena membaca konten-konten radikal yang tersebar di dunia maya. Mereka mulai benci pemerintah. Benci perbedaan. Gemar ikut halaqah (kajian kelompok Hizbut Tahrir Indonesia atau HTI). Dan seterusnya.

Langkah terakhir yang ditawarkan Prof. Azra dalam menyelamatkan bangsa ini dari radikalisme adalah membangun kerja sama yang baik dan solid antara pemerintah dan masyarakat. Sangat sulit berhasil peran Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) tanpa peran masyarakat. Bukankah masyarakat ini punya lingkungan yang tertutup dari monitoring pemerintah, sehingga dengan lingkungan semacam itu radikalisme sangat mungkin tumbuh dan berkembang.

Kerja sama yang solid antara BNPT dan masyarakat akan menciptakan sinerji positif dalam memberantas radikalisme. BNPT bertugas menyediakan konsep yang matang, sedangkan masyarakat cukup mempraktikkan konsep tersebut. Konsep yang dibangun menumbuhkan nilai-nilai moderasi dengan mencintai negeri ini. Karena, cinta terhadap negeri merupakan bagian dari deradikalisasi itu sendiri.

Sebagai penutup, Prof. Azra sudah berpulang untuk selamanya. Tapi, perjuangan guru besar ini untuk negeri akan tetap hidup. Nama beliau akan selalu dikenang sepanjang masa. Beliau adalah pahlawan negeri ini. Indonesia pasti kehilangan.[] Shallallah ala Muhammad.

Khalilullah
Khalilullah
Penulis kadang menjadi pengarang buku-buku keislaman, kadang menjadi pembicara di beberapa seminar nasional

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru