27.3 C
Jakarta

Polemik Masker di Masjid; Antara Eksklusivisme dan Mindset Anti-Pemerintah

Artikel Trending

Milenial IslamPolemik Masker di Masjid; Antara Eksklusivisme dan Mindset Anti-Pemerintah
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Adalah sesuatu yang memilukan, ketika masjid, alih-alih meningkatkan kesalehan sosial, justru meningkatkan eksklusivisme beragama. Seorang jemaah bernama Roni, diusir oleh Abdul Rahman, Ketua DKM Masjid Al Amanah, Kecamatan Medansatria, Kota Bekasi, karena memakai masker. Sempat terjadi adu mulut antara kedua pihak bahkan salah seorang pengurus DKM hampir saja memukul Roni. Polemik memakai masker di masjid ini sangat memalukan.

Ketika Roni mengatakan bahwa ia mengikuti anjuran prokes dari pemerintah, pihak DKM menyanggah bahwa kita harus ikut Allah bukan pemerintah. Juga bahwa masjid adalah tempat yang aman, dengan mengacu pada surah Ali Imran [3]: 97: wa man dakhalahû kâna âminâ (siapa pun yang masuk ke dalamnya akan aman). Padahal konteks ayat tersebut sama sekali tidak ada kaitannya dengan masalah keamanan di masjid. Masker di masjid saat masa pandemi, karena itu, hukumnya tetap keharusan.

Memahami surah Ali Imran [3]: 97 tidak bisa dilakukan secara sepotong, karena ia berkaitan dengan ayat sebelum dan sesudahnya: 96 dan 98. Konteks pembahasannya adalah Ka’bah sebagai bangunan pertama di muka bumi, yang di dalamnya ada maqam Ibrahim, dan tentang perintah haji. Dengan demikian, menariknya secara sepotong untuk melegitimasi ketidakbolehan memakai masker di masjid adalah tafsir yang keliru dan eksploitatif.

Dari polemik tersebut, kita bisa menarik dua kesimpulan. Pertama, eksklusivisme beragama. Masker merupakan perkara sepele, tetapi menjadi masalah besar bagi Muslim eksklusif yang hanya membenarkan pendapatnya sendiri dan menyalahkan selainnya. Pemikiran yang diperlihatkan oleh Ketua DKM dan sejumlah pengurus, dalam video tersebut, sangat sempit dan intoleran. Kedua, mindset anti-pemerintah. Ini lantaran terpengaruh oleh pemuka agama idola mereka.

Dua hal tadi bersarang di kepala mereka. Kalau diselisik lebih jauh, akarnya adalah indoktrinasi bahwa COVID-19 murni konspirasi Yahudi untuk merusak umat Islam. Penggunaan masker di masjid kemudian mereka pandang sebagai ketundukan terhadap Yahudi. Ustaz idola mereka bertanya: “Mau ikut aturan Allah atau Yahudi?”. Dan ketika pemerintah menerapakan prokes, mereka mengharamkannya.

Masker di Masjid Haram?

Mereka adalah korban indoktrinasi. Itu poinnya. Ustaz yang sering kali mengaitkan COVID-19 dengan konspirasi Yahudi, salah satunya, ialah ustaz Ihsan Tanjung. Pelarangan masker di masjid merupakan buah dari tuduhan konspirasi tersebut. Pemerintah diproyeksikan sebagai penerus konspirasi, sementara kita sebagai Muslim harus berpengang terhadap ajaran Allah. Shalat berjarak dan masker di masjid menjadi haram karena tidak mengikuti ajaran Allah.

Bagaimana bisa sang ustaz meracuni pikiran para pengurus masjid? Jawabannya adalah intensitas dakwah. Andai saja sang ustaz tidak mencekoki jemaahnya dengan eksklusif dan kecurigaan kepada Yahudi, maka mengatakan bahwa masker di masjid tidak akan banyak menentang. Namun karena pijakannya seolah-olah kokoh, yaitu konspirasi Yahudi, maka doktrin tidak masuk akan pun akan jemaah terima. Para pengurus DKM adalah bukti konkretnya.

BACA JUGA  Idul Fitri, Memperkuat Kohesi Sosial dan Penyucian Diri

Ini tentu menjadi tantangan terhadap narasi keislaman, bahwa Islam yang terpraktikkan di masyarakat masih jauh dari kata moderat. Dai yang mereka idolakan juga bukan pemuka agama yang membawa narasi persatuan, melainkan pemuka agama yang gemar memprovokasi masyarakat dengan pemerintah bahkan di tengah musibah COVID-19. Seberapa pun tidak masuk akalnya larangan masker bukan soal, karena bagi mereka itu salah satu bentuk ketaatan beragama.

Masker di masjid menjadi haram. Shaf renggang jadi celah setan. Anggapan sejenis ini banyak sekali kita temukan di masjid-masjid yang sedari awal memang antipati terhadao kebijakan pemerintah. Bahkan terhadap musibah global seperti COVID-19, mereka masih mencari pembenaran bahwa pandemi ini murni cita-cita Yahudi untuk menjauhkan umat dari ajaran Allah, menjauhkan Muslim dengan sesamanya, dan menjauhkan umat Islam dengan aktivitas dan rumah ibadahnya.

Tidak Perlu Heran!

Itu semua sudah diawali dengan mindset anti-pemerintah, yang kemudian isu konspirasi Yahudi menjadi jimat penakluk kepercayaan umat. Antara eksklusivisme dengan mindset anti-pemerintah kerap kali berjalan beriringan dan saling memengaruhi satu sama lain. Eksklusivisme menggiring seseorang untuk membenarkan diri sendiri dan intoleran terhadap yang berbeda, sementara mindset anti-pemerintah menggiring sikap intoleran menemukan argumennya.

Alhasil, terjadilah kasus di masjid kemarin. Masjid selaiknya menjadi pusat damai antarkeberagaman, jutru sebaliknya, ia menjadi ladang intoleran. Mau pakai masker atau tidak sebenarnya masalah personal, tetapi bagi para pengurus yang terdoktrin, itu sudah berada di ranah akidah—dan mereka pun merasa memiliki tanggung jawab untuk menasihati ke arah yang mereka anggap benar, yakni ketidakpedulian terhadap protokol kesahatan.

Kita tidak perlu heran. Akidah bagi mereka tidak bisa ditawar, kendati yang mereka anggap akidah sebenarnya isu belaka. Eksklusivisme mengurung mereka dalam kesempitan berpikir, sementara mindset anti-pemerintah menjadi sektor pedukung kenaifannya. Boleh jadi, polemik pelarangan memakai masker di masjid tidak hanya terjadi di Bekasi, melainkan di semua masjid yang jemaahnya terpengaruh narasi ustaz Ihsan Tanjung.

Kendati fatwa tentang shalat berjarak dan bermasker sudah mendapat legitimasi hukum Fikih, bagi penganut eksklusivisme dan pembenci pemerintah itu tidak berguna. Bagi mereka, yang benar adalah mereka, dan selain mereka, itu salah semua. Sekarang, pihak pengurus DKM sudah berdamai dengan korban yang diusir. Yang melarang masker di masjid, setelah kejadian, ternyata juga memakainya. Di sini jelas, bahwa sebenarnya, duduk persoalan ada di ustaz Ihsan Tanjung yang memengarui mereka.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Analis, Penulis

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru