24.6 C
Jakarta

PLT Kapolresta Solo Temui Pengurus LDII Bahas Radikalisme Hingga Bullying

Artikel Trending

AkhbarDaerahPLT Kapolresta Solo Temui Pengurus LDII Bahas Radikalisme Hingga Bullying
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Solo — Pelaksana tugas (Plt) Kapolresta Solo, Kombes Pol Alfian Nurrizal, melakukan kunjungan atau silaturahmi ke Kantor DPD Lembaga Dakwah Islam Indonesia atau LDII di Ponpes Budi Utomo Solo, Selasa (13/9/2022) siang.

Kedatangan Alfian disambut Ketua DPD LDII Solo Muhammad Zein dan jajaran pengurus. Selanjutnya mereka melakukan pertemuan sekitar satu jam. Isu tentang keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) menjadi topik utama pembicaraan mereka.

Saat diwawancarai wartawan, Muhammad Zein, mengaku menyambut baik kedatangan Plt Kapolresta Solo yang mengajak untuk menjalankan program-program tentang kamtibmas, utamanya di kalangan warga LDII Kota Bengawan.

“Ada kesepakatan, program, terkait informasi atau pemberian informasi, pemantapan kepada warga kami dari Plt Kapolresta Solo, agar bisa memberikan informasi ke warga kami terkait kamtibmas. Juga agenda lain,” ujarnya.

Zein menyatakan LDII Solo siap berkolaborasi dengan Polresta Solo dalam menjaga kamtibmas di Solo. Sikap itu menurutnya sebagai komitmen dan dedikasi LDII Solo yang memegang teguh Pancasila dan UUD 1945.

“Kami ingin warga kami diberikan bagaimana menjadi warga negara yang baik, yang bisa menjaga kamtibmas di lingkungan masing-masing. Juga sempat disinggung tentang radikalisme dan bullying di pesantren,” terangnya.

Saat menerima kunjungan Plt Kapolresta Solo itu, Zein menegaskan LDII Solo memberikan perhatian serius terhadap potensi terjadinya bullying dan radikalisme di pondok-pondok pesantren yang dikelola. Menurutnya, radikalisme dan bullying tidak boleh ada di pesantren.

BACA JUGA  Gus Miftah Orasi Kebangsaan, Tangkal Radikalisme di Madiun

Menjalin Silaturahmi dengan Tokoh Agama

“Bullying ini jangan sampai terjadi lagi. Karena orang tua itu kan memercayakan kepada ponpes dan menitipkan anak mereka agar dididik menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik. Mereka kan jauh dari orang tua,” imbuhnya.

Menurut Zein, santri yang mengalami bullying harus melapor ke kantor pengelola ponpes. Setelah itu, korban dan pelaku bullying didamaikan. Tak sampai di situ saja. Pelaku bullying diberi pengertian tak boleh melakukan itu.

“Bullying sangat tidak boleh, dan dilarang di pondok. Terkait bullying ini menjadi program utama kami, juga radikalisme. Di pondok kami ada pelajaran sejarah nasional dan wawasan kebangsaan bersama TNI/Polri,” urainya.

Sedangkan Kombes Alfian Nurrizal mengaku telah dan terus bersilaturahmi dengan tokoh-tokoh agama dan ormas Islam Solo. LDII Solo menjadi salah satu yang dikunjungi guna menjalin silaturahmi dan kesamaan pandangan.

“Kami bersilaturahmi dengan tokoh-tokoh agama, bertemu langsung Ustaz Zein di Ponpes Budi Utomo, tentu agar ke depan kegiatan wawasan kebangsaan dan nasionalisme kepada anak ponpes terus ditingkatkan,” ujarnya.

Alfian mengapresiasi komitmen LDII Solo dalam memberikan materi tentang wawasan kebangsaan, Pancasila, dan nasionalisme, kepada para santri. Hal itu penting untuk mencegah munculnya bibit-bibit paham radikalisme.

Ahmad Fairozi
Ahmad Fairozihttps://www.penasantri.id/
Mahasiswa UNUSIA Jakarta, Alumni PP. Annuqayah daerah Lubangsa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru