31 C
Jakarta
Array

PKI dan HTI: Aksi Sepihak

Artikel Trending

PKI dan HTI: Aksi Sepihak
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

PKI dan HTI: Aksi Sepihak

Oleh: Dr. Ainur Rofiq al-Amin*

Saya mendefinisikan aksi sepihak dalam judul ini sebagai tindakan yang dilandasi keyakinan akan kebenaran tindakannya dengan mengambil alih sesuatu tanpa prosedur yang diakui oleh negara.

Lantas apa kaitannya dengan judul di atas?  Sewaktu PKI jaya, mereka banyak melakukan tindakan yang bersifat provokatif dan agitatif. Contohnya adalah upaya aksi sepihak menyerobot tanah dengan alasan landreform. Ada dua kasus, *pertama,* perkebunan tebu milik H. Abu Sudjak, Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Kediri. Tanaman tebu seluas tiga hektar itu ditebang PKI/BTI dan langsung dijual ke Pabrik Gula Ngadirejo. Karena pemilik tanah itu sudah kenal dengan pimpinan pabrik, maka tebu yang dijual PKI itu uangnya diambil oleh Abu Sudjak. Tentu saja PKI sangat marah, merasa terkecoh, PKI tidak habis akal kemudian memagari lahan tebu yang masih tersisa dan mengklaim sebagai lahan BTI. Ketika pemimpinnya diganggu, pimpinan Ansor, bahkan para pendekar, merasa tersinggung. Lalu semuanya berangkat dan mengambil tindakan merobohkan dan mencabuti pagar lahan yang dibuat oleh BTI, lalu ditancapi bendera Ansor. Karena jumlah mereka sedikit, sementara jumlah Ansor lebih banyak,  maka mereka lari meninggalkan ladang tebu yang sebelumnya sudah mereka kuasai.

*Kedua,* kisah ini disampaikan oleh guru pencak saya,  mbah Samsul (almarhum). Saat itu di daerah Kertosono Nganjuk ada rame rame di sawah.  Maka sebagai Ansor yang pendekar dengan rambut gondrong,  dan mungkin juga agak nekat, beliau berangkat sendirian ke sawah.  Ternyata ratusan orang BTI mematoki sawah tersebut dan diklaim sebagai miliknya. Sudah kepalang basah dekat BTI,  dan BTI tahu bahwa beliau adalah pemuda Ansor,  maka beliau digeruduk BTI dengan dipukul pakai bambu plus dipacul badannya dan dibacoki pakai arit. Kalah jumlah,  beliau jatuh tengkurap dan pingsan. BTI pergi karena mungkin mbah Samsul dianggap sudah tewas. Selang beberapa waktu,  mbah Samsul bangun,  alhamdulillah tidak luka,  apalagi tewas.  Selanjutnya apa yang terjadi? Suatu saat ketika ada PKI lewat, langsung ditantang dan ditebas lehernya hingga putus.

Itu aksi sepihak ala PKI dengan BTI nya dan reaksi warga NU.  Lalu apa kaitan dg HTI? Tentu harus dikatakan bahwa HTI bukan PKI.  Tapi HTI juga melakukan aksi sepihak yang juga mengatasnamakan kebenaran. HTI mengambil hati rakyat dengan iming iming khilafah.  Rakyat diajak mengganti sistem politik apapun yang tidak bernama khilafah.  Tentu Indonesia adalah NKRI, bukan khilafah. Padahal Indonesia telah disepakati para ulama dan tokoh pendiri bangsa sebagai NKRI.  Tapi HTI ngotot menjual khilafahnya kepada rakyat Indonesia dengan dalih kebenaran yang harus ditegakkan.  Kayak PKI yang ngotot dengan kebenaran landreform. HTI ngotot dan menyalahkan sistem yang berjalan di Indonesia,  mulai dari model republik,  demokrasi,  dan HAM dianggap kufur,  bobrok,  bahaya,  rusak dll. Tak ketinggalan,  Islam nusantara dianggap wajah sekular,  liberal, dicela Nabi, dan anti khilafah.

Ketika PKI marajalela,  maka warga NU bersikap tegas,  demikian juga Tentara, kemudian PKI  disapu oleh para musuhnya,  mereka merengek minta perlindungan, merasa tidak bersalah,  merasa dizolimi, padahal ketika itu PKI membuat aksi dan tidak pernah mengakui tindakannya selama belasan tahun sebelum peristiwa 1965 yang penuh teror dan kekejaman sebagai kesalahan.

Saat HTI dibubarkan pemerintah,  anda tahu semua yang tegas turun ke lapangan sebelum pemerintah bertindak adalah  warga NU baik dari organisasinya seperti PBNU, Ansor, Pagar Nusa,  dan pendekar serta para intelektualnya. Sepengtahuan saya tidak ada ormas lain yang sejenis yang mendukung. Alih alih mendukung,  malah ada yang mencemooh. Tapi pegangan warga NU jelas,  jaga NKRI dan Pancasila warisan ulama.

Saat dibubarkan,  HTI juga merasa tidak salah,  dizalimi, bahkan menganggap pemerintah menghentikan dakwah yang itu bertentangan dengan UU, hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat,  juga bertentangan dengan ajaran Islam  itu sendiri (lihat situs HTI).  Bahkan masih mencari alasan pembubarannya sebagai pengalihan isu vonis Ahok (pojoksatu.id).

Semoga kasus HTI ini tidak sampai terjadi konflik horizontal.  Karena kalau sudah konflik horizontal,  kayak kasus PKI, mana korban mana pelaku, menjadi sangat rumit, tetapi motifnya sangat jelas, yang satu menyerang untuk mewujudkan ambisinya, pihak yang lain bertahan untuk membela negara dan agama. Motif itu yang membedakan keduanya,

Saran saya, wahai aktifis HTI,  mari membangun negeri ini agak tidak bobrok seperti yang sering anda sampaikan.  Buktikan dan abdikan tenaga dan pikiranmu untuk membangun NKRI,  bukan mengganti NKRI. Alfatihah.

*Penulis adalah dosen UIN Surabaya

Rujukan:

– H.  Abdul Mun’im DZ,  Benturan NU-PKI

– Wawancara dengan mbah Samsul

Padepokan Al Hadi 2 Tambakberas

 

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru