Peta Literatur Keislaman di Kalangan Generasi Millenial


1
5 shares, 1 point
Foto: Harakatuna

Menurut data yang dihimpun Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia  (APJII) disebutkan bahwa pada tahun 2017, pengguna internet di Indonesia mencapai 143 juta orang. Jumlah ini mengalami kenaikan cukup siginifikan jika dibandingkan dengan tahun 2016, yang mencapai 132 juta jiwa.

Tren kenaikan penggunaan internet tersebut berimplikasi terhadap perubahan pola konsumsi generasi millenial terhadap informasi agama. Artinya, pola konvensional, yakni mendapatkan atau belajar agama melalui buku-buku (kitab-kitab) dan pengajian ustadz-ustadz maupun da’i sudah mulai “ditinggalkan”, dan mulai bermigrasi ke media-media online yang kebanyakan menyajikan informasi agama secara instan dan parsial.

Kemajuan teknologi dan informasi ini mendatangkan kekhawatiran yang mendalam bagi sebagian kalangan. Generasi millenial, pelajar dan mahasiswa, memiliki tingkat kerentanan terhadap fenomena radikalisme dan terorisme. Hal ini tidak berlebihan karena ideologi-ideologi dan paham radikal sudah masuk melalui literatur keagamaan yang menjadi konsumsi mereka, terutama di dunia maya.

Dalam posisi seperti itu, materi/konten yang ada di dunia maya dapat masuk secara efektif ke dalam diri pembaca. Yang demikian itu dikuatkan oleh teori jarum hipodermik David K. Berlo, bahwa konten situs radikal digambarkan sebagai sebuah peluru yang memasuki pikiran khalayak dan menyuntikkan beberapa pesan khusus. Artinya, situs-situs radikal diibaratkan sebagai obat yang disuntikkan ke dalam pembuluh darah warganet kemudian warganet akan beraksi seperti yang diharapkan (dalam Maulana, 2018).

Tentu dari sini akan timbul sebuah pertanyaan mendasar, bahwa literatur keislaman seperti apa yang banyak diakses oleh generasi millenial?

Pada awal tahun 2018 ini,  Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bekerjasama dengan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Convey Indonesia melakukan penelitian tentang peta literatur keislaman generasi millenial.

Baca Juga:  Penguatan Pancasila sebagai Benteng Radikalisme

Dikutip dari situs resmi Pascasarjana UIN Jogja, menyebutkan bahwa dari hasil penelitian yang melibatkan para siswa dan mahasiswa di 16 kota di Indonesia ini, setidaknya dapat dipetakan bahwa literatur keislaman yang paling banyak diakses oleh generasi millenial adalah literatur keislaman populer, menyusul kemudian literatur keislaman Tarbawi, Tahriri, dan Salafi serta jihadi. Meskipun literatur keislaman popular sangat dominan di kalangan generasi ini, namun secara tidak langsung tetap ada pengaruh ideologi tertentu yang turut mewarnai konten literatur tersebut seperti ideologi Salafi dan Tarbawi.

Pertama, literatur keislaman popular. Literatur keislaman popular masih menjadi literatur yang paling banyak dicari generasi saat ini. Hal ini dipengaruhi oleh budaya dan kebutuhan generasi millenial yang dikit-dikit bertanya kepada “mbah google”. Jadi, literatur islamisme popular mengusung tema-tema keseharian dan menawarkan berbagai tuntunan praktis dalam kehidupan yang dikemas dengan renyah, trendy, dengan corak fiksi, popular, dan komik.

Kedua, literatur tarbawi. Menyebarkan misi ideologi Ikhwanul Muslimin yang berhasrat mengubah tatanan politik saat ini.

Ketiga, literatur tahriri. Ini temuan yang mengejutkan sekaligus mengkhawatirkan. Betapa tidak. Perlu diketahui bahwa literatur tahriri menekankan gagasan revitalisasi khilafah sebagai jalan mengembalikan kejayaan Islam. Dalam konteks Indonesia, narasi-narasi revitalisasi khilafah atau Turn Back The Khilafah sangat mengancam eksistensi NKRI.

Keempat, literatur salafi. Yaitu menawarkan landasan klaim identitas dan otentisitas yang merujuk langsung terhadap sumber-sumber utama Islam. Kelima, literatur jihadi. Menggambarkan dunia saat ini berada dalam situasi perang sehingga menekankan keharusan umat Islam mengobarkan jihad.

Temuan penelitian yang digagas  oleh Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bekerjasama dengan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah tersebut membuka mata kita semua bahwa generasi millenial gemar mengkonsumsi narasi-narasi menembalikan kejayaan Islam melalui penerapan sistem khilafah dan melakukan jihad mengangkat senjata.

Baca Juga:  Santri dan Tantangan Membasmi Intoleransi

Untuk itu, pemerintah, para tokoh agama, aktivis perdamaian dan seluruh elemen masyarakat harus mengimbangi penyebaran ideologi yang dapat membayakan NKRI. Memproduksi buku-buku dan menyebarkan konten-konten moderat di dunia nyata maupun maya adalah sesuatu yang tidak bisa ditunda-tunda lagi.


Like it? Share with your friends!

1
5 shares, 1 point

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.