Pesantren Obyek Pendidikan Kebangsaan

Pesantren dianggap sangat layak menjadi prototype pendidikan kebangsaan karena di dalamnya ada pembangunan karakter yang bisa menjadi ideologi kebangsaan.


0
73 shares

Di tengah perkembangan pendidikan tradisional di pelbagai lembaga pendidikan keislaman. Pendidikan yang berbasis pesantren adalah kombinasi dari pelbagai sistem, tradisi pendidikan (at-tarbiyatul ‘urf) asli Nusantara dan tradisi keilmuan Islam dari Timur Tengah di mana konteks ini merupakan hasil pergumulan panjang para penyebar agama Islam dengan tradisi dan budaya lokalnya.

Tradisi perguruan agama berasrama atau nyantri, di mana para cantrik dan begawan atau pandhita hidup dalam satu komplek, sudah ada sejak jaman pra-Islam, yang tercermin dalam tradisi mandala, ashram, padepokan dan sebagainya. Namun begitu, para penyebar Islam generasi permulaan adalah para muballigh keliling, yang mengajarkan agamanya dari kampung ke kampung, atau dari masjid ke masjid.

Tradisi pendidikan mirip pesantren yang ada di Timur Tengah adalah zawiyyah-zawiyyah (perguruan dan perkumpulan tarekat sufi) di mana ada santri yang tinggal untuk waktu tertentu, ada asrama atau rubath, ada majelis dan kegiatan pembelajaran ilmu (atau zikir), ada syaikh yang mengajar dan mengawasi perkembangan pengetahuan dan pengamalan para santri, baik secara langsung maupun melalui para pembantunya (badal/khadam).

Pelajaran yang diberikan di zawiyyah lebih banyak yang terkait dengan fiqih dan tauhid dasar dan lebih banyak tentang tasawuf, berbeda dengan yang diajarkan di madrasah-madrasah timur tengah yang lebih banyak mengeksplorasi ilmu alat, fiqih, tafsir, hadits dan ilmu kalam. Ini juga terlihat di pesantren-pesantren generasi awal yang banyak mengkaji tasawuf.

Pesantren baru marak pertumbuhannya di akhir abad 18, bersamaan dengan berbondong-bondongnya orang Jawi naik haji, sebagai dampak positif semakin mudahnya perjalanan ibadah haji. Seperti kita ketahui, sembari berhaji, jamaah asal nusantara biasanya juga bermukim untuk waktu yang cukup lama guna memperdalam ilmu agama. Baik kepada syaikh-syaikh lokal, maupun syaikh-syaikh pendatang dari jawa atau santri-santri senior yang telah lebih dulu bermukim. Yang kedua ini lebih banyak, karena kebanyakan santri Jawah memiliki keterbatasan dalam berbahasa Arab. Selain mendalami ilmu-ilmu agama secara umum, kebanyakan santri jawa juga secara khusus mengambil bai’at satu dua tarekat sufi, dan beberapa di antaranya pulang dengan mengantongi ijazah kemursyidan.

Baca Juga:  Kiai-Kiai Perangkul NKRI

Variasi Model Pendidikan

Model pendidikan ala pesantren tradisional belakangan ini terus tergerus modernitas jaman. Pesantren dianggap kalah keren dan kalah menjanjikan dibanding sekolah modern. Menitipkan anak ke pesantren tradisional, bagi sebagian orang tua, dianggap akan berakhir dengan madesu (masa depan suram). Mereka lebih memilih sekolah-sekolah negeri atau bagi mereka yang berduit ke sekolah-sekolah Islam terpadu yang beberapa diantaranya juga mengadopsi sistem sekolah berasrama (boarding school) yang dilabeli pondok pesantren.

Permintaan pasar yang makin tinggi terhadap sekolah-sekolah modern, akhirnya membuat sebagian kalangan pesantren goyah dan mulai mengadopsi sistem sekolah modern ke dalam pesantrennya. Penambahan beban pelajaran umum itu pun kontan mengikis ruang untuk muatan lokal kepesantrenan. Dan perlahan, pesantren pun mulai tercerabut dari akar budayanya.

Perdebatan mengenai keunggulan pendidikan pesantren tradisonal dan sekolah modern ala Barat serta kecocokannya dengan karakter bangsa Indonesia bukanlah hal baru. Sejak dulu dan sepanjang waktu keduanya terus diperbandingkan, dan terus diperdebatkan. Bahkan perdebatan mengenai efektifitas kedua model pendidikan dalam membangun karakter bangsa sudah dimulai sejak sebelum kemerdekaan. Yang paling keras adalah perdebatan antara Dr. Soetomo, pendiri Perkumpulan Boedi Oetomo, bersama Ki Hajar Dewantara, pendiri Perguruan Taman Siswa, dan Adinegoro, seorang jurnalis dari Medan, yang mewakili pembela pesantren, dengan Sutan Takdir Alisyahbana (STA), dari Balai Pustaka, yang merepresentasikan pembela sekolah modern, dalam Polemik Kebudayaan.

Poin Kebangsaan

Pesantren dianggap sangat layak menjadi prototype pendidikan kebangsaan karena di dalamnya ada pembangunan karakter yang bisa menjadi ideologi kebangsaan: sumber pengetahuan, semangat perjuangan dan kebangsaan, serta kepedulian kepada kepentingan umum/bangsa telah mampu membakar semangat generasi dan masyarakat.

Karakter kebangsaan, kemanfaatan bagi lingkungan dan inisiator perubahan di lingkungan masyarakat yang disampaikan Dr. Soetomo hampir seratus tahun lalu ini terbukti sesuai dengan perumusan ulang karakter pendidikan pesantren yang dirumuskan ulang oleh kalangan pesantren belakangan. Buah dari sistem pendidikan pesantren yang secara konsisten dilakukan dari masa ke masa membuat lembaga ini dan alumninya memiliki kecenderungan untuk menjadi sosok yang bermanfaat bagi orang lain, bagi masyarakat, bagi bangsa dan bagi semesta.

Baca Juga:  Radikalisme dalam Spektrum Politik

Alhasil, dengan kekuatan eksistensi pendidikan seperti di pesantren-pesantren, maka bangsa Indonesia bakal beranjak pada arah pendidikan yang lebih baik serta mampu melakukan pendobrakan terhadap kehidupan generasi ke generasi yang akan datang, khususnya untuk mengembangkan model pendidikan ini dengan lebih bagus dan berkualitas seperti pesantren-pesantren yang kini masif pesantren modern, diajarkan perdamaian, menjaga kebhinekaan, menjaga toleransi, menjaga nilai demokrasi, dan menegakkan hukum
Paling tidak, dengan kehadiran pesantren yang demikian, maka kesemuanya adalah simbol dialektika kepesantrenan yang bermanfaat untuk masa depan bangsa dan negara.

Di satu sisi, sumber daya manusia dari kalangan pesantren yang bersentuhan dengan nilai-nilai kebangsaan akan mudah berkembang dengan baik tanpa harus memunculkan pelbagai macam persoalan yang hanya memburamkan pendidikan pesantren.

Oleh: Hasin Abdullah, Peneliti Muda Bidang Hukum UIN Jakarta, sekaligus Alumni SMA-Tahfidz Darul Ulum Pondok Pesantren Banyuanyar, Pamekasan.


Like it? Share with your friends!

0
73 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
2
Suka
Hasinabdullah