Pesantren, Literasi dan Cinta yang Beretika

Dinamika kehidupan dalam dunia pesantren telah menghadirkan beragam cerita dengan rasa dan aroma yang khas, sarat dengan nuansa-nuansa spiritual religius.


4
55 shares, 4 points

Judul               : Mengintip Senja Berdua

Penulis            : Khalilullah

Tahun Terbit    : Cetakan Pertama, Januari 2019

ISBN               : 978-602-0708-17-1

Penerbit           : Spasi Book

Tebal               : 236 Halaman

Dinamika kehidupan dalam dunia pesantren telah menghadirkan beragam cerita dengan rasa dan aroma yang khas, sarat dengan nuansa-nuansa spiritual religius. Sehingga agama senantiasa menjadi warna dalam setiap segi sendi kehidupan.

Penulis mencoba menghadirkan sebuah cerita dengan aroma spiritual religius tersebut dalam novel ini dengan mengangkat Pesantren sebagai latar belakang utamanya. Kita akan dipertemukan dengan berbagai ritual-ritual yang biasa menjadi tradisi dan budaya dalam dunia pesantren, seperti ajian kitab kuning, shalat berjamaah dengan kiai dan lain sebagainya yang merupakan representasi dari Pesantren pada umumnya.

Sebagaimana sebuah cerita yang jamak kita ketahui, akan terasa kurang menarik jika tidak menuangkan bumbu cinta dalam narasi-narasinya. Penulis berusaha mewarnai kembali khazanah percintaan yang biasa malang melintang dalam jagat kesusastraan dengan mengangkat dunia Pesantren sebagai latar belakang dan sudut pandangnya. Hal ini yang menjadi keunikan tersendiri, karena latar belakang dan sudut pandang seperti ini masih sedikit disentuh oleh penulis-penulis cerita lainnya.

Pesantren bukanlah tempat yang gersang akan cinta. Cinta tidak pernah berpihak pada tempat dan keadaan, dimanapun kaki berpijak disitu cinta ikut bersemai. Dalam pandangan Syekh Mozaffer Ozak, cinta pada hakikatnnya merupakan manifestasi dari dzat yang Maha Mulia (Tuhan), tak terkecuali cintanya seorang laki-laki kepada perempuan. Dan karena tidak ada zona yang bebas dari dzat yang Maha Mulia, maka manifestasi tersebut akan selalu ada dalam setiap pijak kaki melangkah.

Baca Juga:  Mendobrak Kejumudan dalam Beragama

Sosok Diva dan Fairuz adalah tokoh utama dalam novel ini. Keduanya merupakan santri Pondok Pesantren Annuqayah, hanya saja Diva di komplek Putri, sedangkan Fairuz di kompleks Putra. Dengan latar belakang keluarga dan kondisi ekonomi berbeda. Diva adalah putri dari Kiai besar. Sedangkan Fairuz hanya keturunan orang biasa dengan kondisi ekonomi serba terbatas.

Berawal dari sebuah Puisi Fairuz yang dimuat dikoran nasional, membuat Diva tergugah untuk menulis dan berkenalan dengan Fairuz. Perkenalan ini yang kemudian mengantarkan Diva pada proses menulis, hingga pada puncaknya, Diva bisa menjadi juara dalam sebuah sayembara menulis nasional yang diselenggarakan oleh UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Benih-benih cinta yang tumbuh pada keduanya dimulai ketika Diva mengirimkan surat ta’aruf (perkenalan) kepada Fairuz. Balas membalas surat berjalan sampai beberapakali ketika di Pesantren. Mereka saling mengirim surat dengan perantara pengurus keamanan. Karena Pondok Putra dan Putri dibatasi oleh pagar tinggi dan keduanya kompleks tersebut tidak diperkenankan berinteraksi secara langsung. Hanya bisa melalui pengurus keamanan.

Hingga pada akhirnya, Diva terpaksa harus menerima kenyataan mengenai hatinya yang kandas dihati seorang Fairuz. Namun apa-daya, budaya yang sudah berjalin kelindan di daerah mereka menjadi tembok penghalang bagi bertemunya kedua hati tersebut. Persoalan pelik tersebut sangatlah sulit untuk diselesaikan, bahkan penulis sendiri mungkin tidak menemukan solusi yang pas menarasikannya, sehingga novel ini diakhiri dengan anti klimaks atau kita kenal dengan istilah alur gantung.

Dalam novel ini, cinta didefinisikan dengan merelakan. Tidak ada sakit hati bagi orang yang mencintai, karena mencintai itu merelakan. Termasuk saat melepaskan dan kehilangan (Hal.22). Pencinta Bukan orang yang mengharapkan imbalan dari kekasihnya atau mengejar sebuah tujuan dari sang kekasih (Hal.151). Semakin rela seseorang, semakin besar cintanya. Kerelaan mengajarkan keikhlasan, dan tidak akan pernah mengharap balasan.

Baca Juga:  Membongkar Khilafah HTI dan Meneguhkan Pancasila

Novel ini mengajarkan kepada pembaca bahwa dalam mencintai juga perlu untuk belajar agar tidak salah dalam menggapai cinta sejati (Hal.153). Cinta yang baik hendaknnya dikemas dengan sikap yang baik pula (Hal.146). Pada taraf ini pengetahuan dalam cinta sangatlah dibutuhkan.

Bentuk pengekspresian cinta seseorang tergantung pada kualitas pengetahuannya. Pengetahuan sendiri dalam pandangan Sigmund Freud adalah penolakan yang paling lengkap atas prinsip-prinsip kesenangan yang mampu dicapai oleh aktivitas fisik manusia. Manusia tanpa pengetahuan akan bersikap erotis dan binal dalam upayanya menggapai kesenangan dari aktivitas fisiknya. Oleh sebab itu, cara seseorang mengekspresikan cintanya dipengaruhi oleh kualitas pengetahuannya. Orang berpendidikan akan berbeda cara mengekspresikan cintanya dengan orang berandalan. Maka cinta tidak cukup hanya bermodal perasaan, tapi juga harus punya modal pengetahuan.

Cerita yang bergenre cinta dalam novel ini tidak semata hanya terfokus pada kisah percintaannya, ada maksud lain yang ingin disampaikan penulis dalam novel ini. Mencoba mengkritisi sebuah budaya “Kasta” yang sudah menjadi kebiasaan selama ini, dimana keturunan orang besar hanya boleh menikah dengan yang sepadan dengannya. Sehingga akan kita temukan didalam novel ini Pergulatan antara cinta dan budaya.

Disamping itu, penulis berupaya mengajak pembaca untuk menumbuhkan semangat literasi. Terlihat dari cerita yang diangkat dalam novel ini yang mengisahkan semangat literasi, bahkan kisah cinta antara Diva dan Fairuz dimulai dari sebuah puisi karya Fairuz yang dimuat di sebuah koran nasional, sehingga menggugah Diva untuk berkenalan dengan Fairuz.

Novel ini mengajarkan kepada kita makna cinta dan hakikat mencintai. sudah seharusnya cinta di implementasikan dengan cara-cara yang lebih bermoral dan lebih terhormat. menjaga cinta yang merupakan manifestasi dari dzat tuhan yang Maha Mulia merupakan bagian dari menghidupkan dimensi ketuhanan dalam diri kita. Jangan sampai ada hijab antara cinta dengan manifestasi cinta tersebut. Wallahu A’lam.

*Nuvilu Usman Alatas, Pustakawan PP. Annuqayah daerah Lubangsa. Sekaligus Mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika)

Baca Juga:  Optimisme Kerukunan Beragama dalam Masyarakat Plural


Like it? Share with your friends!

4
55 shares, 4 points

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
1
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
4
Suka