31.7 C
Jakarta

Pesantren; Lembaga Pendidikan Utama Kita dan Tugas Suci Kontra-Radikalisasi

Artikel Trending

KhazanahTelaahPesantren; Lembaga Pendidikan Utama Kita dan Tugas Suci Kontra-Radikalisasi
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.comPesantren masih tetap menjadi lembaga pendidikan yang banyak diminati oleh masyarakat. Di kampung kelahiran saya, pesantren menjadi pendidikan utama dalam menjalankan kehidupan. Dengan kata lain, tidaklah hidup seseorang ketika dia tidak pernah mengenyam pendidikan pesantren, bahkan  menjadi apa pun dia, setinggi apa pun jenjang pendidikannya.

Melihat urgensitas pendidikan pesantren sebagai lembaga pendidikan bagi sebagian masyarakat, setidaknya kita melihat ada beberapa elemen pesantren yang membedakan dengan lembaga pendidikan lain, yaitu: pondok tempat menginap para santri, santri: peserta didik, masjid: sarana ibadah dan pusat kegiatan pesantren, kiai: tokoh atau sebutan seseorang yang memiliki kelebihan dari sisi agama, dan karisma yang dimilikinya, kitab kuning: sebagai referensi pokok dalam kajian keislaman.

Dengan demikian, kehadiran pesantren bagi masyarakat menjadi pokok pendidikan yang utama dalam perkembangan wacana keislaman. Hal ini karena jika kita melihat pelbagai tokoh penting di Indonesia, berasal dari pondok pesantren.

Gus Dur, misalnya. Sosok bapak pluralisme yang bisa melihat konflik perbedaan antar kelompok, antar agama dan antar etnis tersebut berasal dari pondok pesantren sebagai pendidikan utama.

Tidak hanya itu, Nurcholish Madjid melalui wacana keislaman yang selalu relevan hingga saat ini, ia berasal dari pondok pesantren. Selain dua orang tersebut, banyak sekali tokoh-tokoh besar yang lahir dari pesantren. Mereka tidak menafikan kehadiran agama ketika beriringan dengan negara.

Pesantren Wahabi menjamur di pelbagai daerah Indonesia

Adakah pesantren yang radikal? Menyerukan untuk membunuh orang kafir, tidak mengajarkan kemanusiaan bahkan saling mengafirkan satu sama lain dengan dalil yang sah dalam Al-Qur’an bahkan terang-terangan menolak negara Indonesia? jawabannya sangat banyak. Jika kita lihat secara gamblang di laman google dengan pencarian pesantren Wahabi, setidaknya ada banyak sekali muncul berbagai lembaga pesantren Wahabi yang eksis dengan pelbagai branding yang menyertai.

Di luar itu, yang menjadi masalah adalah sudahkah masyarakat kita paham persoalan ini? bagaimana cara mereka untuk memilih pondok pesantren sebagai pendidikan utama bagi kehidupan?

Bagaimana memilihnya?

Dalam buku “Islam Berkebudayaan” (Jadul Maula; 2019) menjelaskan bahwa cita-cita dan imaji membangun bangsa yang kuat, berdaulat dan sejahtera disadari telah  “dipancangkan” bersama-sama pada era kebangkitan nasional. Kenyataan ini yang membuat semua organisasi lintas etnis, agama, sama-sama bekerja sama untuk membangun imajinasi tersebut.

BACA JUGA  Arus Wacana Keagamaan dalam Kegiatan Jogja Halal Fest

Dengan fakta demikian, konsep Islam Nusantara hadir sebagai salah satu konsep mampu mengusung cita-cita tersebut dengan melihat aspek historis Indonesia yang terdiri dari pelbagai budaya, suku, tradisi serta agama yang berbeda dan terus mengusung nilai-nilai kemanusiaan dengan prinsip dan ajaran Islam ramah terhadap seluruh kalangan serta tidak mendiskreditkan kelompok lain di luar Islam. Konsep ini juga menjadi alternatif yang lebih ramah dan cocok bagi masyarakat dibandingkan Islam versi Wahhabi, Ikhwan atau Hizbut Tahrir.

Dengan kesadaran seperti di atas, maka seyogianya hal tersebut juga diimplementasikan dalam pemilihan pesantren sebagai lembaga pendidikan yang akan ditempuh oleh seseorang, baik ketika memilih untuk anak, kerabat, atau pun orang terdekat agar tidak salah memilih pesantren dengan kenyataan yang disampaikan sebelumnya.

Memilih pondok pesantren merupakan awal dari ikhtiar menerapkan nilai-nilai perdamaian di Indonesia yang sangat beraneka ragam ini. Sebab dari sanalah anak-anak akan memahami agama, bertarung dengan wacana keilmuan yang luas dengan berbagai referensi kitab klasik, ditambah dengan aktivitas yang menuntut diri disiplin, hingga fokus terhadap program yang dilakukan oleh pesantren.

Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdatul Ulama (RMI-NU) meluncurkan program Gerakan Nasional Ayo Mondok. Aplikasi ayo mondok juga bisa menjadi salah satu rujukan bagi para masyarakat yang ingin memasukkan anak atau pun keluarganya untuk belajar di pesantren.

Hal ini sangat penting melihat betapa kurangnya informasi tentang pesantren yang bisa dipercaya untuk menjadi rumah bagi anak-anak sebagai tempat belajar agama. Di samping itu, masyarakat juga bisa mengetahui pondok pesantren yang mengajarkan nilai-nilai agama dengan prinsip Ahlus-sunnah wal jama’ah.

Tidak hanya itu, melalui gerakan tersebut pula, pondok pesantren bisa mendaftarkan diri agar terdaftar dan bisa direkomendasikan kepada seluruh masyarakat sebagai tempat mengenyam pendidikan. Dengan demikian, sinergisitas seluruh elemen, mulai dari ormas seperti NU, pondok pesantren hingga masyarakat, saling membahu untuk menjadi bagian solusi dari maraknya pesantren yang bisa merusak persatuan dan kesatuan Indonesia. Wallahu a’lam.

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru