25.7 C
Jakarta

Pesantren Kehidupan Diva (Bagian XXVI)

Artikel Trending

Habib yang Menjamur

Dulu, saat saya kecil, di jalan-jalan tidak pernah terpampang baliho. Suasana damai sekali, bahkan tatkala gaduh pun, ya, paling itu karena persoalan biasa. Tidak...

Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi Menurut Islam

Tali pusar adalah jalan yang menghubungkan antara ibu dan bayinya ketika masih dikandungan. Tali pusar ini berfungsi untuk menyalurkan makanan dan oksigen dari ibu...

Rizieq Shihab Mati Langkah?

Pesta penyambutan kepulangan Rizieq Shihab berubah menjadi bencana bagi masa depan perjuangan politik Rizieq Shihab dan kawan-kawan. Belum genap satu bulan menginjak kaki di...

Ampuhnya Doa Orang Puasa

Berbicara tentang manjurnya doa orang puasa sejenak kita akan langsung tertuju pada sebuah hadis dalam Sunan Ibnu Majah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr...

Makna Rahmat dalam Al-Qur’an Al-Karim

Rahmat terdiri dari tiga huruf râ’, hâ’, dan mîm. Menurut Ibnu Faris dalam Maqâyîs al-Lughah setiap kata Arab yang berakar dari tiga huruf râ’,...

Relasi Iman, Keadilan dan Demokrasi ala Cak Nur

Nurcholish Madjid, atau yang biasa dipanggil Cak Nur, dikenal luas sebagai salah satu cendekiawan Muslim terbesar di Indonesia. Pemikirannya merupakan suatu usaha untuk mencari...

Bagaimana Hukum Memberi Nasehat dalam Islam?

Tahukah kalian, mengapa agama merupakan suatu nasehat? Kehidupan seseorang bisa berubah dengan nasehat anda. Jalan kehidupan seseorang juga bisa berubah sedemikian baik lantaran duduk...

Presiden Soekarno, Waliyul Amri Dhoruri Bi-Syaukah

Presiden Soekarno, Waliyul Amri Dhoruri Bi-Syaukah Usai Kuliah Subuh, para santri yang menonton tayangan Khazanah dari sebuah stasiun televisi terlibat kegaduhan karena saling berkomentar tentang...

“Selamat datang seorang pembicara yang tulisannya baru nongol di tingkat nasional! Diva Rizka Maulia.” Seorang moderator mempersilakan Diva naik ke atas panggung.

Sore itu sehabis jamaah Ashar, Diva diminta oleh Pesantren Annuqayah untuk menjadi pembicara pada acara seminar motivasi di sebuah aula pesantren. Audiens duduk bak lautan. Yang hadir tak hanya santri putri, tapi juga santri putra. Baru kali ini Diva berdiri di depan santri putra. Semangat Diva berapi-api, apalagi harapan dalam hati terdalam hadir sosok Fairuz.

Diva memulainya dengan salam kemudian menyapa penonton. Suara bergemuruh menyesaki ruangan. Semua mata menyorot sosok Diva. Siapa pun pasti tak mau melepas pandangannya. Siapa pun membenarkan. Diva sosok yang menarik, pintar, dan hafidzah tiga puluh juz Al-Qur’an. Banyak yang berkeinginan kenal dekat dengan Diva, tapi sebagian santri yang berharap itu merasa keder duluan, takut ditolak sehingga berujung patah hati.

Santri yang nakal bersuit-suit tiada henti. Begitulah kehidupan pesantren. Diva tidak menghiraukan dan tetap fokus sebagai pembicara. “Aku bukan orang hebat. Tidak seperti kalian yang sudah bertahun-tahun belajar di pesantren. Aku baru beberapa bulan.” Diva bersikap rendah hati di depan para audiens yang fokus mendengarkan. Suara Diva lantang menyesaki ruangan.

“Aku belajar di pesantren dengan modal ketekunan dan kesabaran. Orang pintar yang tidak tekun akan dikalahkan oleh orang bodoh yang tekun. Aku termasuk orang yang tidak begitu pintar. Aku hanya punya bekal ketekunan.”

Terjeda sebentar. Diteguk air gelas di atas meja. Kemudian ceritanya dilanjutkan, sehingga penonton semakin termotivasi.

“Aku terlahir dari orangtua yang belajar dari nol. Awal-awal dahulu, Abah dan Ummi hidup terlunta-lunta. Hampir setiap malam Abah dan Ummi menyisihkan waktu shalat Tahajud untuk memohon kepada Allah agar dipermudah segala impiannya, termasuk yang diimpikan anak-anaknya. Di siang hari Abah dan Ummi fokus bekerja, berdagang sana-sani. Sehingga, makin kedepan rezeki orangtua makin membaik. Dan, alhamdulillah sekarang Abah dan Ummi tidak kerepotan untuk banting tulang kembali.”

Suara nakal santri tidak terdengar kembali. Seketika suasana jadi sunyi, seakan mereka dibawa tenggelam dalam cerita Diva yang mengharukan.

“Abah dan Ummi mengajari Diva banyak hal. Kata Abah, hasil tidak membohongi proses. Keberhasilan hanya menghampiri orang yang menjemput, bukan menunggu. Bahkan, Ummi berpesan : ‘Masa depanmu, Nak, ada di tanganmu sendiri. Ummi dan Abah hanya mensupport, tapi kalau kamu tidak memulai, masa depanmu tidak akan terwujud’.”

Pesan-pesan Abah dan Ummi masih kuat dalam ingatan Diva, sehingga setiap waktu pesan bijaksana itu terus menginspirasi Diva untuk terus belajar.

“Sahabat santri,” ucapnya, “bermimpilah untuk hidupmu. Aku masih mengingat pesan novelis Andrea Hirata: Bermimpi dan berdoalah karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu itu. Betapa indahnya mimpi sampai Tuhan ikut berperan menjaga mimpi itu. Bahkan, dalam buku Sang Alkemis Paulo Coelho menulis: Dan saat engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya bersatu padu untuk membantumu meraihnya.

Diva mengakhiri presentasi yang panjang lebar, sehingga semangat yang mati bangkit kembali. Seorang moderator mengulas sekilas dari apa yang disampaikan Diva tadi. Kemudian mempersilakan kepada para audiens untuk menyampaikan sekelumit pertanyaan. Seorang santri berpeci hitam mengajungkan tangan. Dipersilakan untuk bertanya dan menyebut namanya. Dia Faried Muhammad. Banyak santri memanggilnya Kang Madrid, karena penggemar sepak bola Real Madrid. Setiap ada pertandingan Real Madrid, Kang Madrid selalu melanggar keluar pesantren sekedar nonton di tetangga terdekat. Anehnya, dia selalu selamat dari geledahan pengurus pesantren.

“Ukhti Diva yang keren,” goda Kang Madrid dan di-cie-cie-in oleh para santri yang lain, “Bagaimana cara membingkai mimpi yang hanya terbayang di angan-angan?”

Pertanyaan ini terkesan menarik. Kadang orang punya keinginan yang banyak, tapi kadang seiring pergantian waktu, mimpi itu jadi hilang dan terlupakan.

Diva menjelaskan, “Tulislah. Tulis di mana saja, termasuk di kertas yang udah kusut. Karena, yang terjadi adalah yang tertulis. Maka, tulislah mimpi itu. Sebelum belajar di pesantren aku tidak punya bakat menulis. Sukanya hanya membaca. Tapi, pas sampai di sini aku kenal dengan Kak Nadia. Dia guru pertamaku. Kemudian diperkenalkan dengan pesantren ini yang mengajarkan dunia menulis. Akhirnya, aku jatuh cinta untuk menulis sehingga jadilah impian terindah jika aku jadi penulis sehebat M. Quraish Shihab yang diimpikan Abah, maka aku tulis impian itu, aku masih ingat saat aku menulis mimpi itu, aku belum bisa apa-apa. Okey, that’s it.

Banyak pertanyaan yang datang bertubi-tubi. Dijawablah dengan pengalaman Diva sendiri sehingga para penanya terinspirasi dari cerita yang sederhana. Berakhirlah acara seminar. Banyak yang meminta tanda tangan tak ubahnya artis yang baru naik daun.

* Tulisan ini diambil dari buku novel “Mengintip Senja Berdua” yang ditulis oleh Khalilullah

Khalilullah
Khalilullah
Lulusan Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Hayya ‘Alal Jihad, Mari Berjihad Berantas FPI!

Boleh jadi, setelah membaca tulisan ini, atau sekadar membaca judulnya saja, Hayya ‘Alal Jihad, sementara orang akan berkomentar: “Bocah kemarin sore kok mau bubarkan...

Israel Musnahkan Tangga Bersejarah Masjid Al-Aqsa

Harakatuna.com. Yerusalem - Pemerintah Kota Yerusalem Israel menghancurkan tangga bersejarah yang mengarah ke Bab Al-Asbat, Masjid Al-Aqsa dan Kota Tua Yerusalem. Penghancuran tangga bersejarah ini...

Benarkah Ulama Itu Harus Jadi Oposan Pemerintah?

Saya pikir, hari ini kita sedang berada dalam kegamangan berbagai masalah kenegaraan yang tidak kunjung usai. Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) baru sudah terpilih,...

Video Hayya Ala Al-Jihad Bagian dari Penyalahgunaan Agama

Harakatuna.com. Jakarta – Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Saadi menyebut seruan jihad yang dilantunkan seorang muazin saat melantukan azan Hayya Alal Jihad dalam video...

Hukum Menambah Kalimat Adzan “Hayya Ala Al-Jihad“, Bolehkah?

Dunia media media sosial kembali dihebohkan dengan penambahan lafal adzan “Hayya ala Al-Jihad” oleh simpatisan ormas Islam di Petamburan, Jakarta. Tentu penambahan adzan ini...

GP Ansor DIY Tolak Radikalisme dan Intoleransi

Harakatuna.com. Sleman - Barisan Ansor Serba Guna (Banser) dan Gerakan Pemuda (GP) Ansor DIY berkomitmen untuk menjaga ketentraman dan kondusivitas keamanan dan ketertiban masyarakat...

Mengapa Teroris MIT Berulah Kembali?

Kini, masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Sulawesi Tengah sedang berduka. Pasalnya, kehidupan seseorang (hak asasi) di sana dengan mudahnya direnggut oleh sekelompok teroris. Kelompok teroris...