27.6 C
Jakarta

Pesantren dan Kampus Dalam Himpitan Radikalisme dan Terorisme

Artikel Trending

Islam dan Timur TengahIslam dan KebangsaanPesantren dan Kampus Dalam Himpitan Radikalisme dan Terorisme
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Paham radikal tidak dapat disepelekan. Meski kita tidak takut menghadapinya, bukan lantas kita bersikap “bodo amat”. Kita tetap dan terus melakukan kontra-radikalisme dari waktu ke waktu. Jangan kasih celah, meski sedikit, paham membahayakan ini bertandang di negeri tercinta ini.

Pentingnya kontra-radikalisme beririsan dengan pentingnya menanamkan paham moderasi. Karenanya, masyarakat paling tidak paham bahwa Islam itu tidak radikal. Islam itu bersikap moderat alias luwes dalam melihat situasi dan kondisi. Sederhananya begini, Islam di Indonesia tidak dapat disamakan dengan Islam di Arab Saudi. Karena, budaya masing-masing dua wilayah itu berbeda.

Seseorang yang tidak paham pengaruh budaya dalam membentuk karakteristik Islam akan gagal paham dan ujung-ujungnya tergiring dalam kesesatan berpikir (paham radikal). Dia mulai menyalahkan Islam versi Indonesia atau yang dikenal dengan Islam Nusantara. Bahkan, dia menyesatkan Islam dengan gaya ke-Indonesia-an ini. Kesempitan berpikirnya meyakini bahwa Islam yang benar hanyalah Islam Arab.

Radikalisme yang menyelusup ke dalam pikiran seseorang akan menggiring ia melakukan perbuatan yang tidak terpuji. Sebut saja, ujaran kebencian. Biasanya dia menyesatkan dan mengkafirkan saudaranya sendiri, meski mereka sama-sama muslim. Ia disesatkan karena alasan yang tidak masuk akal: tidak sepemikiran atau tidak sefrekuensi.

Terkait bahayanya kafir-mengkafirkan (takfir) Nabi SAW bersabda: “Bila seseorang mengkafirkan saudaranya (yang Muslim), maka pasti seseorang dari keduanya mendapatkan kekafiran itu.” Hadis ini menegaskan bahwa siapa saja yang mengkafirkan orang lain, makan tuduhan itu kembali kepada pengucapnya. Maka, berhati-hatilah sebelum menuduh.

Ujaran kebencian biasanya diungkap dengan kata-kata yang kata-kata sampah alias kata-kata kotor. Mereka saling menghina. Padahal, perbuatan saling menghina ini dilarang dalam Islam. Allah mengingatkan dalam surah al-Hujurat ayat 11: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.

BACA JUGA  Lebih Baik Menjadi Ateis yang Berilmu daripada Menjadi Agamawan yang Bodoh

Perbuatan lain akibat paham radikal adalah melakukan aksi-aksi terorisme. Terorisme ini sudah masuk dalam kategori efek klimaks paham radikal. Paham ini sangat fatal, karena ia berpotensi membahayakan bagi si pelaku dan objek dari tindakan itu. Akan banyak korban jiwa dan rusaknya tatanan bumi. Allah melarang aksi-aksi terorisme dalam surah al-Maidah ayat 32: “Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.”

Ayat tersebut menunjukkan larangan tindakan terorisme. Karena, ia berpotensi membunuh jiwa yang semestinya dijaga. Membunuh satu jiwa, sebut ayat tadi, persis seperti membunuh banyak jiwa. Sebaliknya, menjaga satu jiwa termasuk menjaga seluruhnya. Saking pentingnya menjaga jiwa, Allah mengazab pelaku terorisme dalam surah an-Nisa’ ayat 93: “Barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.”

Bahayanya paham radikal terus kita waspadai. Paham ini akan sangat mungkin masuk ke dalam lingkungan pendidikan. Semisal, pesantren dan kampus. Banyak kedua lembaga pendidikan tersebut yang terpapar paham radikal. Agar selamat, pahami tanda-tandanya. Paham radikal tertutup dalam melihat perbedaan. Ia tidak mau melihat kebenaran di luar perbedaan itu. Selain itu, paham ini gemar menyesatkan. Selebihnya, mengekspresikan paham ini dalam bentuk aksi-aksi terorisme. Sungguh sangat berbahaya! Berhati-hatilah![] Shallallah ala Muhammad.

Khalilullah
Lulusan Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru