32.1 C
Jakarta

Pesan untuk Pak Anwar Abbas: “Tolong Jangan Buat Umat Islam Semakin Takut”

Artikel Trending

KhazanahTelaahPesan untuk Pak Anwar Abbas: “Tolong Jangan Buat Umat Islam Semakin Takut”
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – “Kepanikan adalah separuh penyakit. Ketenangan adalah separuh obat. Kesabaran adalah awal dari kesembuhan”. Begitu sebuah nasihan dari Ibnu Sina yang sering kita dengar selama pandemi ini berlangsung. Kepanikan dan ketakutan rasanya melebur menjadi satu, apalagi semenjak kasus Covid-19 semakin melonjak dengan berbagai varian baru yang begitu ganas.

Kabar kematian selalu ada setiap waktu. Kasus pada 1 Juli 2021 saja, ada 504 orang yang meninggal menurut data via BNPB yang dilansir dari detik.com. Jumlah ini adalah peringkat terbanyak semenjak adanya Covid-19 di Indonesia. Ini masih data yang tercatat, bagaimana dengan kabar kematian yang secara mendadak, tanpa diketahui dan diperiksa ke rumah sakit akibat rumah sakit penuh, serta tidak sempar dirujuk ke rumah sakit. Ya, keadaan saat ini memang mengkhawatirkan. Angka kematian terus bertambah.

Kebijakan demi kebijkan kian diberlakukan, pilihan kebijakan seperti apa yang dikatakan oleh Sultan Hamengkubuwono X, dengan tetap berfikir tentang laju perekonomian masyarakat, nyatanya membuat Covid-19 semakin naik drastis. Gambar seluruh relawan Covid-19 di Yogyakarta, yang menyebar di linimasa facebook, twitter, dan instagram menunjukkan betapa parahnya kasus Covid-19 saat ini. Respon dari berbagai LSM, dan organisas-organisasi kemanusiaan  lainnya yang terus gencar bersuara agar mengambil keputusan secara sigap, kian menjadi pertimbangan pemerintah.

Akhirnya kebijakan PPKM Darurat Jawa-Bali  atau tepatnya di 122 kabupaten/kota di 7 provinsi. Rinciannya, 48 kabupaten/kota yang nilai asesmen situasi pandeminya level 4, dan 74 kabupaten/kota yang nilai asesmen situasi pandeminya level 3, menjadi kebijakan yang ditetapkan oleh melihat dengan melihat berbagai situasi dan kopndisi yang ada. Kebijakan ini, diberlakukan pada 3 Juli-20 Juli 2021.

Komentar Anwar Abbas yang tidak seharusnya

Kebijakan PPKM tersebut juga berakibat pada aktifitas masjid. Dilansir dari wartakotalive.com, Anwar Abbas selaku wakil ketua umum MUI menanggapi kebijakan ini dengan membandingkan aktifitas kerja/kantor yang seharusnya bisa diterapkan oleh pemerintah. Alih-alih kritik demi kebebasan beragama yang tercantum pasal 29 ayat 2 UUD 1945, komentarnya justru sangat tidak apik untuk didengar oleh khalayak.

BACA JUGA  Yahya Waloni: PR Toleransi Para Penceramah

“Kalau kantor ditutup, ya akan menimbulkan masalah, dan kalau masjid ditutup, bangsa ini bisa dimarahi Tuhan,” kata Waketum MUI tersebut.

Diksi yang disampaikan oleh Anwar Abbas ini tidaklah pantas diberikan oleh tokoh agamawan yang menjadi salah satu panutan masyarakat muslim. Apalagi, sebagai orang yang pernah menjabat ketua umum organisasi Muhammadiyah, tentu ia sudah sangat paham bagaimana komunikasi publik yang seharusnya diterapkan kepada masyarakat.

BACA JUGA  Penutupan Masjid Saat PPKM: Kemanusiaan Lebih Penting di Atas Apapun

Narasi ketakutan semacam ini akan memperparah kondisi masyarakat dengan panic dan khawatir kepada  virus covid-19. Belum lagi dengan narasi dogmatis semacam ini  akan memunculkan narasi-narasi yang berbeda, narasi liar yang dapat mengganggu ibadah sosial masyarakat ditengah pandemi. Timing pernyataan semacam ini tidak layak diberikan ditengah pandemi.

Tokoh publik seharusnya memberikan narasi positif

Selayaknya tokoh publik, Anwar Abbas adalah panutan masyarakat banyak. Komentar semacam itu sangat tidak mencerminkan seorang tokoh. Apalagi diwaktu pandemi, seharusnya narasi positif dan semangat untuk masyarakat agar terus mematuhi protokol kesehatan dan menekan laju pandemi yang semakin tinggi. Pun komentar atar kebebasan beragama, seharusnya pemilihan diksi dan timing penyampaian harus disesuaikan.

Tidak hanya itu, menutup masjid sementara dengan beberapa pertimbangan yang begitu urgen, dan demi nyawa manusia, dibenarkan sesuai kaidah fiqh dan maqasid syari’ah. Anjuran untuk terus memtauhi protokol kesehatan, mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, haruslah dengan penyampaian yang baik dengan  pertimbangan waktu yang cukup.

Sehingga narasi yang diberikan, tidak menambah ketakutan masyarakat. Sudah takut karena pandemi, mendengar pernyataan tokoh publik semacam Anwar Abbas ini semakin membuat membuat takut masyarakat, karena dimarahi Tuhan.

Seluruh elemen pemerintah, tokoh publik, yang dijadikan panutan masyarakaat seharusnya satu suara dengan kebijakan PPKM. Ini demi menekan penyebaran Covid-19 yang semakin tidak terkendali.

Suara yang sama dengan terus mendukung segala upaya para masyarakat, relawan, organisasi kemanusiaan semata-mata merupakan bentuk kepedulian antar sesama dalam relasi kemanusiaan tanpa melihat ras, agam, suku dan budaya. Semua harus bersatu untuk memulihkan Indonesia dari pandemi. Wallahu a’lam

 

Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru