26.6 C
Jakarta

Pesan Kemerdekaan dan Bahaya Pengasong Khilafah

Artikel Trending

Indonesia telah menapaki usia ke-75 tahun dalam kemerdekaannya. Sejak diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 oleh Soekarno-Hatta, bangsa kita telah terlepas dari penjajahan politik dan militer, meskipun belum tentu terbebas dari penjajahan dalam bentuk lain, misalnya dari para pengasong khilafah yang kian hari menguat dalam mengkampanyekan sistem khilafah di Indonesia.

Dalam momentum kemerdekaan yang ke-75, ini mengingatkan kita pada sejarah perjuangan pahlawan bangsa yang rela mengorbankan jiwa dan raganya demi kemerdekaan Indonesia. Selain itu, mengajarkan kita untuk senantiasa bersyukur atas nikmat kemerdekaan dan dapat terbebas dari penjajahan negara lain.

Biasanya, dalam semarak HUT RI dilangsungkan dengan sangat meriah di seluruh penjuru Tanah Air. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyak aktivitas seperti perlombaan-perlombaan baik di tingkat RT, dusun, dan desa. Akan tetapi, semarak kemerdekaan kali ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, mengingat Indonesia tengah dilanda pandemi Covid-19.

Berangkat dari uraian tersebut dan di tengah menguatnya para pengasong khilafah, penulis teringat dengan pesan-pesan Ir. Soekarno.

Soekarno, meminjam bahasanya Bernard Dahm (1987) adalah sosok pemersatu ulung dan anti-imprealisme, pernah berkata, “Negara ini, Republik Indonesia bukan milik kelompok manapun, juga agama, atau kelompok etnis manapun, atau kelompok dengan adat dan tradisi apa pun, tapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke”.

Kalimat Bung Karno tersebut tak hanya mampu memberi semangat tetapi juga memiliki makna yang amat dalam, jika direnungkan. Tak heran jika rangkaian kata dan kalimat dari Soekarno ini terus diingat hingga sekarang.

Kemerdekaan merupakan kenikmatan terbesar bagi bangsa dunia ini termasuk Indonesia. Sebab, kemerdekaan yang kita nikmati hari ini bukanlah diperoleh dengan berlutut kepada penjajah melainkan kemerdekaan yang direbut melalui perang.

Bahkan, Bung Karno mengibaratkan kemerdekaan sebagai “jembatan emas” untuk meraih cita-cita luhur dan visi abadi bangsa: mewujudkan kesejahteraan umum, menciptakan kecerdasan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasar kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Dengan kata lain, meminjam bahasanya Syaiful Arif (2020), kemerdekaan tidak boleh mengantarkan rakyat pada penjajahan baru, penderitaan baru. Ia harus dibangun menjadi jembatan kesejahteraan rakyat, melalui sistem demokrasi yang tidak hanya memenuhi hak-hak politik, tetapi juga hak-hak ekonomi.

BACA JUGA  Frekuensi Trilogi Makna Islam, Salam, dan Silm dalam Bingkai Dinamika Multikurtural

Selain itu, perlu diketahui pula bahwa di dalam bumi Nusantara ini bersemayam para pahlawan kemerdekaan. Untuk mereka, para pahlawan yang jasadnya kini terbaring di seluruh pelosok negeri, seharusnya kita mendoakan mereka agar diberi tempat yang layak bukan malah sebaliknya, asyik mengkampanyekan sistem khilafah misalnya, melalui penayangan film “Jejak Khilafah“.

Oleh karenanya, sungguh aneh bin ajaib jika sebagian dari kita masih merindukan dan bahkan mengkampanyekan sistem khilafah di Indonesia. Sebab, para pahlawan bangsa sendiri tidaklah menghendaki pendirian negara yang berlandaskan pada agama tertentu.

BACA JUGA  Kiprah Santri dalam Menjaga Moderasi

Pada titik ini, seharusnya kita kritis terhadap dampak kemunculan dan bebasnya ruang gerak pada pengasong khilafah ini. Jika telusuri, pengasong khilafah kerap dikaitkan dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Kini, HTI dinyatakan sebagai organisasi terlarang lantaran dianggap bertentangan dengan ideologi Pancasila dan UUD 1945. HTI ini ternyata, Indonesia bukan satu-satunya negara yang melarang aktivitas organisasi ini. Sedikitnya ada 20 negara di seluruh dunia yang melarang Hizbut Tahrir berkembang di negaranya lantaran beberapa alasan, mulai dari dianggap mengancam kedaulatan negara, keterlibatan dalam kudeta hingga keterlibatan dalam aksi terorisme.

Kendati HTI dilarang oleh hukum Indonesia akan tetapi mereka tetap gencar melakukan kampanye khilafah di negeri ini. Di samping itu, keberadaan HTI ini malah digandrungi oleh sebagian masyarakat Indonesia. Bukankah ini sangat memprihatikan.

Realitas tersebut menunjukkan bahwa pertama, Indonesia merdeka dari penjajahan militer dan politik. Kedua, kemerdekaan Indonesia tercemari oleh ketidakmampuan kita khususnya pemerintah, mengusir para pengasong khilafah dari bumi Indonesia karena mereka adalah rakyat Indonesia.

Akhirnya, ini lah sebabnya mengapa Soekarno pernah mengatakan, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”.

Saiful Bari
Saiful Bari
Alumnus Program Studi Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Juga, pernah nyantri di Ponpes Al-falah Silo, Jember. Kini, aktif sebagai peneliti The al-Falah Institute Yogyakarta.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru