34 C
Jakarta

Perselingkuhan Kelompok Anarko dan Kaum Radikal

Artikel Trending

Milenial IslamPerselingkuhan Kelompok Anarko dan Kaum Radikal
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Coretan vandalisme di Tangerang Kota membuat heboh. Polisi menangkap 5 pelaku, yang ternyata berasal dari kelompok anarko. Menurut Irjen Nana Sudjana, Kapolda Metro, vandalisme tersebut terjadi dilatarbelakangi ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah. Anti-kemapanan, anti-kapitalisme. Di tengah musibah COVID-19, vandalisme ini menjadi musibah baru yang sangat meresahkan masyarakat.

Ada banyak motif, sebenarnya, dari tindakan vandal ini. Dilansir CNN Indonesia, 4 pelaku vandalisme yang ditangkap di Kota Banjar mengaku terinspirasi film Joker. Mereka berusaha menghasut masyarakat, menghina pemerintah, dengan menyemprotkan cat pilox berbunyi: “Kill The Rich”. Berbeda dengan kasus sebelumnya yang menulis: “Sudah Krisis Saatnya Membakar”.

Siapa sebenarnya aktor-aktor vandal ini? Kenapa mereka beraksi ketika kita dalam keadaan resah akibat COVID-19? Apa yang mereka harapkan?

Anarko sendiri mengacu kepada anarki atau anarkisme, yakni suatu paham atau ideologi yang menganggap segala bentuk negara dan kepemerintahan adalah lembaga yang menumbuh-suburkan penindasan terhadap kehidupan. Tahun lalu, anarko juga berbuat ulah. Jika hari ini berulah kembali, kita patut bertanya, apa yang mereka inginkan?

Kalau dihubungkan dengan radikalisme, kita akan menemukan kesamaan spirit. Anarko ingin menciptakan chaos, syukur-syukur bila sampai pemerintah tumbang. Kaum radikal juga demikian. Sekalipun kita tidak bisa buru-buru menyimpulkan, jangan-jangan ini adalah perkawinan anarko dengan orang –orang radikal, atau disebut anarko-radikalisme?

Baik anarko maupun kaum radikal sama-sama berbahaya. Keduanya dapat merongrong eksistensi NKRI. Anarkisme memang memuat ajaran radikal, dan setiap radikalisme selalu anarkis. Ada timbal-balik antara keduanya. Kerja sama alias kongkalikong menghancurkan negeri ini menjadi patut untuk dicurigai. Kita pun wajib waspada, menghindari diri dari hasutan anarko sang pengacau itu.

Anarko: Sang Pengacau

Melihat dari sepak terjangnya, sulit untuk tidak mengatakan bahwa ada jabat tangan antara anarko dengan kaum radikal. Anarkisme memang, secara pelaku, identik dengan anak punk. Artinya, tidak nafas agama di dalamnya. Sekalipun ingin membuat chaos, atau membuat chaos di tengah chaos, tetapi motif mereka murni untuk memberontak kebijakan pemerintah.

Tidak ada pembenaran menggunakan agama, di dalamnya. Ini berbeda dengan kaum radikal, yang secara zahir, misalnya, bisa kita lihat dari bendera mereka. Bisa kita lihat, dari bagaimana mereka membawa simbol-simbol Islam. Narasinya menegakkan khilafah yang diajarkan Nabi. Sekalipun tidak sedikit pemuka agama menentang doktrin mereka, namun hingga saat ini mereka belum bungkam sepenuhnya.

Anarko dan kaum radikal juga memiliki karakteristik yang sama, yaitu menjadi pengacau. Memancing di air keruh adalah lelakonnya. Wabah COVID-19 yang masyarakat resahkan hari-hari ini, justru bagi mereka adalah peluang melancarkan aksi. Narasi anarko adalah anti-kemapanan dan anti-penindasan pemerintah. Sedangkan kaum radikal menuduh pemerintah sebagai thaghut.

Lalu kenapa mesti harus memakai topeng anarko? Kenapa kaum radikal tidak beraksi terang-terangan saja? Jawabannya sederhana: mengumpulkan kekuatan. Di Indonesia, nasib ideologi radikal malang sekali. Mereka dikucilkan, minoritas tapi mengaku mayoritas. Setiap satu gerakan dilakukan, yang siap mengkonternya juga tak kalah besar. Kedok agama pun sudah tak laku di pasaran.

BACA JUGA  Propaganda HTI di Lapas; Upaya Menyeret Narapidana Jadi Begundal Khilafah

Satu-satunya cara adalah menggabungkan kekuatan besar tersebut, dan yang ditampilkan ke permukaan adalah topeng anarko. Kalau berhasil, apa yang akan terjadi? Kekacauan. Itu jelas. Kalau ekonomi sudah anjlok, rakyat tak percaya pemerintah, dan anarkisme terjadi di mana-mana, siapa yang paling diuntungkan di republik tercinta ini?

Seperti dalam pepatah Prancis: “Kawan dari musuh saya adalah musuh saya, musuh dari musuh saya adalah kawan saya.” Pemerintah adalah musuh bagi anarko, juga musuh bagi kaum radikal. Maka mereka berdua berteman untuk menghancurkan pemerintah. Lagi pula tak ada tumpang tindih kepentingan antara keduanya, justru senafas dalam satu agenda utama: menciptakan kekacauan.

Denyut Radikalisme

Radikalisme bukan problem baru. Setiap suatu bangsa didirikan, maka potensi radikalisme sudah ada. Karena itu, ia ssama tuanya dengan bangsa itu sendiri. Menariknya, orang-orang radikal itu selalu memakai topeng agama, sehingga segala perbuatannya memiliki payung pembenaran. Lalu apakah ada radikalisme yang tidak berpayung di bawah doktrin agama? Jelas. Anarko adalah salah satunya.

Di tengah momentum COVID-19, mendelegitimasi pemerintah adalah satu hal yang rentan. Sebagaimana diulas tulisan sebelumnya, semua ini adalah jenis-jenis teror di tengah pandemi. Ragam kepentingan menyatu, berusaha menciptakan kesangsian masyarakat terhadap kinerja pemerintah. Denyut radikalisme ini berbahaya, dan berpotensi menjadi terorisme.

Penting untuk dicatat, denyut radikalisme bisa menyerupai apa saja. Bukan tumpangan yang ia pedulikan, tetapi tujuan dari tumpangan tersebut. Tidak ada yang peduli mereka tengah berkongkalikong dengan siapa. Kalau bisa menguntungkan agenda utama, kenapa tidak? Tetapi denyut ini tak di jantung, melainkan di otak. Ia adalah mindset, alias konstruksi berpikir.

Perselingkuhan ini harus dikonter sekuat mungkin. Tidak ada kesempatan berkuasa bagi anarko, maupun kepada kaum radikal. Selihai apa pun radikalisme menyusup untuk menciptakan kekacauan, azimat kita adalah kepercayaan terhadap pemerintah. Adapun vandalisme hanyalah gertakan belaka, mereka tidak benar-benar mampu menciptakan kekacauan.

Perselingkuhan anarko dengan kaum radikal adalah wujud persekongkolan makar di tengah krisis ekonomi. Ia berusaha memantik masyarakat agar membenci pemerintah. Teror yang mereka lakukan adalah untuk menambah kadar keresahan masyarakat. Sebab, di tengah situasi resah, mereka akan rela berbuat apa saja.

Denyut radikalisme melingkar dalam kepentingan politik kekuasaan. Ramai-ramai serangan kepada pemerintah dilakukan, memprovokasi rakyat sebagai pihak yang tertindas oleh kebijakan-kebijakan. Kaum radikal, sebagaimana kita tahu, suka sekali menunggangi momentum. Mereka gemar mem-flashback masa lalu yang buruk, untuk menghasut masa kini yang menurut mereka ambruk.

Dilansir Kompas, polisi mengatakan, anarko akan buat onar di Pulau Jawa pada 18 April ini. Ada perselingkuhan atau tidak, siapa yang suka mengumumkan rencana aksinya sebelum terjadi kalau bukan kaum radikal?

Wallahu A‘lam bi ash-Shawab…
Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Mahasiswa SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru