32.2 C
Jakarta

Perjuangkan Perdamaian di Akar Rumput, Alissa Wahid Raih Penghargaan dari Jepang

Artikel Trending

KhazanahSuara PembacaPerjuangkan Perdamaian di Akar Rumput, Alissa Wahid Raih Penghargaan dari Jepang
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. – Direktur Jaringan GUSDURian Alissa Wahid mendapat penghargaan internasional The Niwano Peace Prize Visionary Award. Niwano Peace Prize Visionary Award (NPPVA) ini pertama kali diberikan oleh Niwano Peace Foundation setelah sejak tahun 1983 memberikan anugrah Niwano Peace Prize. NPF adalah organisasi Jepang yang berfokus pada perdamaian dunia, saat ini diketuai oleh Hiroshi Niwano dengan Nichiko Niwano sbg Presiden Kehormatan.

NPPVA bertujuan untuk memberikan penghargaan dan penghormatan kepada individu dan organisasi yang telah menunjukkan kiprah prestasi luar biasa dalam memperjuangkan masyarakat yang damai dan harmonis, namun dinilai memiliki potensi pengembangan khidmat lebih besar di masa depan. NPP beriktikad memupuk potensi upaya perdamaian yang otentik dan berakar dalam masyarakat, serta mengatasi masalah-masalah spesifik yang erat dalam kehidupan masyarakat.

Ada tiga tokoh yang mendapat NPPVA yang pertama kali ini, yaitu Alissa Wahid (Indonesia), Ruki Fernando (Sri Lanka), dan Jennifer Liang (India).

Alissa Wahid merupakan putri sulung Abdurrahman Wahid, Presiden keempat Indonesia. Dia mendirikan Jaringan GUSDURian untuk melanjutkan perjuangan ayahnya dalam menyebarkan Islam moderat dan Islam yang toleran di Indonesia. Alissa dianggap berhasil mewujudkan kemanusiaan Islam dalam aktivisme sosialnya dan mengembangkannya menjadi gerakan nasional dengan membela hak-hak minoritas yang menjadi sasaran persekusi dan penindasan oleh kelompok ekstremis.

Niwano juga menyoroti aktivitas Alissa dalam mendampingi petani yang tanah dan lingkungan hidupnya dirampas dan dirusak oleh korporasi. Sejak beberapa tahun terakhir, Alissa Wahid menjadi salah satu tokoh yang begitu vokal menyuarakan penolakan terhadap perusakan lingkungan. Ia mendampingi warga Kendeng, mengadvokasi kriminalisasi aktivis lingkungan di Kendal, membela Salim Kancil, serta membersamai warga Kulonprogo dan Wadas yang mengalami konflik agraria dan perampasan ruang hidup.

“Penghargaan ini merupakan hasil dari kerja keras semua pihak yang terlibat dalam kerja-kerja GUSDURian,” ujar Alissa. Ia menyebut bahwa tanpa dukungan dari para GUSDURian dan jejaringnya, kerja-kerja kemanusiaan ini tidak akan bisa berdampak luas. Ia secara khusus berterima kasih kepada para penggerak Jaringan GUSDURian yang saat ini jumlahnya sangat besar. Ada 155 komunitas di seluruh belahan dunia.

“Ini adalah hadiah Jaringan GUSDURian setelah menyelenggarakan Temu Nasional di Surabaya beberapa waktu lalu,” pungkas Alissa Wahid.

Ahmad Fairozi
Ahmad Fairozihttps://www.penasantri.id/
Mahasiswa UNUSIA Jakarta, Alumni PP. Annuqayah daerah Lubangsa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru