25.9 C
Jakarta

Perjalanan Meraih Mimpi (Bagian XI)

Artikel Trending

Revolusi Akhlak Butuh Wali Mursyid Bukan Imam Besar

Pidato Rizieq Shihab pada acara Reuni Aksi Bela Islam 212 kemarin, terlihat daya juang Rizieq Shihab mulai melemah. Dari suaranya, seperti orang sedang sakit....

Ampuhnya Doa Orang Puasa

Berbicara tentang manjurnya doa orang puasa sejenak kita akan langsung tertuju pada sebuah hadis dalam Sunan Ibnu Majah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr...

Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi Menurut Islam

Tali pusar adalah jalan yang menghubungkan antara ibu dan bayinya ketika masih dikandungan. Tali pusar ini berfungsi untuk menyalurkan makanan dan oksigen dari ibu...

Habib yang Menjamur

Dulu, saat saya kecil, di jalan-jalan tidak pernah terpampang baliho. Suasana damai sekali, bahkan tatkala gaduh pun, ya, paling itu karena persoalan biasa. Tidak...

Makna Rahmat dalam Al-Qur’an Al-Karim

Rahmat terdiri dari tiga huruf râ’, hâ’, dan mîm. Menurut Ibnu Faris dalam Maqâyîs al-Lughah setiap kata Arab yang berakar dari tiga huruf râ’,...

Wudhu Menurut aL-Qur’an dan Sunah

Wudhu merupakan ritual penting dalam Islam untuk menjaga kesucian dalam beribadah. Perintah dan dasar landasan berwudhu berangkat dari firman Allah swt dalam QS al-Maidah...

Presiden Soekarno, Waliyul Amri Dhoruri Bi-Syaukah

Presiden Soekarno, Waliyul Amri Dhoruri Bi-Syaukah Usai Kuliah Subuh, para santri yang menonton tayangan Khazanah dari sebuah stasiun televisi terlibat kegaduhan karena saling berkomentar tentang...

Apa Itu MaʻRûf dan Apa Itu Munkar

Kedua kata maʻrûf dan munkar merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab. Kemudian keduanya diserap ke dalam bahasa Indonesia. Sehingga penulisan keduanya dalam Kamus...

Menulis setiap hari menjadi agenda rutin Diva di pesantren. Menulis apa saja yang terbersit di pikirannya, termasuk menulis catatan harian di buku diary. Belajar menulis tidak harus muluk-muluk. Biasa memulainya dengan menulis diary seperti yang dilakukan Diva.

Beberapa buku diary telah penuh dengan catatan harian. Diva belum puas dengan hasil yang digapai, apalagi tidak se-fantastis Fairuz. Semangat Diva makin tumbuh semenjak tulisannya dimuat di koran Radar Madura, dan dengar-dengar Kak Nadia yang mengirimkan tulisannya ke redaksi media.

Semangat untuk mencoba menulis pada level yang lebih tinggi terus memotivasi Diva. Tulisan dimuat di koran nasional membutuhkan keuletan dan kesabaran. Seorang penulis jangan patah semangat mengirim tulisannya sampai dimuat, kendati pun berkali-kali gagal.

Saat jalan-jalan menuju kantin yang menjajakan nasi bungkus, segerombolan santri membaca selembar kertas berisikan informasi yang ditempel di tempok dekat kantor pesantren. Diva belum tahu itu informasi tentang apa. Ia mencoba mendekat. Ternyata informasi sayembara menulis.

“Lumayan besar hadiahnya,” seorang santri berkata ketus kepada temannya.

Diva melihat informasi itu benar. Hadiah berupa tropi dan uang sebesar sepuluh juta bagi juara satu. Temanya lumayan menarik Berinteraksi dengan Al-Qur’an di Era Kontemporer.

“Ikut yuk!” bisik seorang santri yang lain pada teman sebelahnya.

Diva tidak berbicara sepatah kata pun. Beberapa sayembara kepenulisan pernah diikuti, termasuk sayembara menulis di Malang kemarin. Tapi, belum ada ada kesempatan presentasi alias gagal. Berkali-kali gagal.

Diva coba bebicara pada diri sendiri. Memotivasi diri untuk terus bangkit, kendati sering gagal. Apalagi tema sayembara itu sangat cocok dengan predikatnya sebagai santri yang banyak bersinggungan dengan Al-Qur’an, termasuk penafsiran.

“Di kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta!” Diva kaget membaca tempat presentasi naskah yang bakal terpilih. Jakarta itu kan rumah Si Adel! Dekat nggak ya?, batinnya.

Jakarta itu selalu dipersepsikan negatif oleh masyarakat pedesaan. Pergaulannya yang bebas. Tidak terkontrol, dan lain-lain. Persepsi itu juga mengakar kuat di pesantren yang serba tertutup. Sering Diva mendengarkan bisik-bisik sebagian santri yang dilarang orangtuanya kuliah di luar pesantren karena alasan pergaulan yang tidak terkontrol.

“Jika Jakarta seperti yang banyak orang desa persepsikan, kira-kira Abah dan Ummi memperbolehkan atau nggak ya?” Diva berpikir sejenak dan memutuskan, “Tapi tak ada salahnya mengirim naskah tulisannya dulu. Persoalan nanti naskahnya terpilih untuk presentasi dan mendapat izin dari orangtua tidak penting dipikirkan sekarang.”

Orangtua Diva bukan seperti orangtua banyak teman-temannya. Mereka orang yang terdidik dan berilmu. Secara tidak langsung, mereka dapat membedakan mana yang persepsi dan mana yang fakta. Sedikit banyak orangtua yang berpendidikan akan selalu berbeda cara berinteraksi dengan anak-anaknya dalam menyongsong masa depannya.

Mulai kanak-kanak sampai sekarang pun, Diva belum pernah mendengar Abah dan Ummi membatasi hidupnya dalam berkarya. Diva dibebaskan berinteraksi dengan siapa pun. Bahkan, belajar pun Diva tidak pernah didekte. Hanya karena kehidupan sehari-harinya di pesantren, lingkungan membentuk kepribadian Diva belajar dan mendalami ilmu keagamaan, temasuk Al-Qur’an.

Persepsi orang Madura yang kasar tidak selamanya benar. Karena, orangtua Diva sendiri belum pernah berkata dan bertindak kasar terhadap anak-anaknya. Bahkan, tetangganya sendiri ramah-ramah. Diva tahu, carok di Madura bukan budaya kekerasan, tapi prinsip keberanian. Orang Madura memiliki prinsip yang sampai sekarang dipegang: Lebih baik berputih tulang daripada berputih mata. Lebih baik bagi orang Madura mati daripada menanggung rasa malu.

Carok merupakan cara suku Madura dalam mempertahankan harga diri dan keluar dari masalah yang pelik dan sangat esensial seperti saat kehormatan diinjak-injak dan dicemarkan. Budaya carok dengan pakai celurit dikenal pada zaman Pak Sakera, seorang mandor tebu dari Pasuruan yang hampir tak pernah meninggalkan celurit setiap pergi ke kebun untuk mengawasi para pekerja. Celurit bagi Sakera merupakan simbol perlawanan rakyat jelata.

Tapi, di tengah memegang prinsip itu keramahan orang Madura dibuktikan dengan sikapnya yang sangat menjaga sopan santun, terutama kepada orang yang lebih tua. Siswa hendaknya selalu menghormati gurunya kapan pun dan di mana pun. Tidak ada bagi orang Madura guru bekas. Status guru tetap selalu melekah hingga akhir hayat di hati muridnya. Maka, sebagai bentuk penghormatan, guru selalu menyarankan hendaknya tidak lupa mendoakan gurunya selepas shalat lima waktu.

* Tulisan ini diambil dari buku novel “Mengintip Senja Berdua” yang ditulis oleh Khalilullah

Khalilullah
Khalilullah
Lulusan Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru

Otak Politik Terorisme

Judul Buku : Politik Para Teroris, Penerbit : Kanisius, Yogyakarta, Penulis : Mutiara Andalas Radikalisme seakan tidak pernah mati di Nusantara ini. Dasawarsa ini di...

Ustadz Maaher dan Tren Ceramah Hinaan

Ustadz Maaher at-Thuwailibi, sebutan ustadz milenial dengan nama lengkap Soni Eranata yang memiliki banyak followers, mulai dari Instagram, Twitter bahkan Facebook. Ini baik, sebab...

Memanas, Iran Akan Serang Pangkalan Israel di Luar Negeri

TEL AVIV - Rezim Zionis Israel mulai khawatir bahwa kepentingan pangkalan Israel di luar negeri akan jadi target yang diserang Iran. Kekhawatiran muncul setelah...

Ulama Harus Tunjukkan Sikap dan Perilaku yang Baik

Harakatuna.com. Jakarta - Dakwah hakikatnya adalah mengajak kepada kebaikan, maka mengajak kepada kebaikan harus dengan cara yang baik. Seperti itulah metode yang dilakukan para...

Tiga Amal Saleh Yang Menyelamatkan Anda

Dalam sebuah hadis yang yang riwayatkan oleh Bukhori dan Muslim terdapat sebuah kisah yang menakjubkan. Yaitu selamatnya tiga orang yang terjebak dalam gua lantaran...

Gabungan TNI dan Polri Tangkap Kelompok Teroris MIT di Kabupaten Sigi

Harakatuna.com. Sigi - Hingga sepekan pascaserangan terorisme di Desa Lemban Tongoa, Kabupaten Sigi, aparat gabungan TNI dan Polri mengintensifkan pengejaran kelompok teroris MIT. Tak hanya...

Agar Tidak Bosan Saat Menulis

Writer’s block, sebuah istilah yang diperkenalkan oleh psikoanalis Edmund untuk menggambarkan keadaan penulis yang tidak bisa menggambarkan apapun dalam tulisannya. Situasi seperti ini hampir...