25.3 C
Jakarta

Perjalanan Menemukan Rumah Untuk Hijrah: Pernah Ikut Gerakan Anti Pacaran dan Anti Barat

Artikel Trending

KhazanahTelaahPerjalanan Menemukan Rumah Untuk Hijrah: Pernah Ikut Gerakan Anti Pacaran dan Anti...
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com- Saya meyakini bahwa dalam fase kehidupan seseorang akan menemukan sesuatu yang bisa diambil hikmah untuk dipelajari dalam kehidupan yang akan datang. Yang paling penting dalam proses perjalanan itu, ia harus terus mencari, belajar dengan banyak orang, serta terus ikhtiar untuk bergerak menjadi lebih baik

Saya mengawali kalimat diatas setidaknya sebagai bahan refleksi, bahwa dalam setiap sudut kehidupan seperti apapun, potret kehidupan seseorang masa kini tidak bisa dijadikan gambaran hidupnya di masa yang akan datang. Pun kehidupan masa lalunya, tidak bisa dijadikan alasan negatif untuk menilainya pada masa kini.

Fenomena semacam itu juga pernah saya alami di masa lalu. Menjadi perempuan millenial, aktif di berbagai kegiatan toleransi dan melakukan advokasi di berbagai forum, khususnya anak muda seperti sekarang, bukanlah kegiatan yang saya temukan secara langsung. Kegiatan semacam ini adalah proses panjang dari perjalanan hidup yang saya temui. Saya pernah aktif di aksi jumatan dengan membagikan selebaran kertas yang berisi ajakan hijrah, aksi bulanan anti pacaran, hingga boikot barat dan menentang hal-hal yang bersinggungan dengan Barat, termasuk Indonesia yang menganut sistem kapitalisme saya menolak keras.

Gerakan anti pacaran adalah awal mula saya belajar

Saya berasal dari Jawa yang menetap di Riau. Pendidikan sejak SD hingga SMA juga ditempuh di Riau. Semua jenjang pendidikan tersebut saya lakukan di Asrama. Tentu, kehidupan di asrama merupakan kehidupan yang sangat terbatas. Dengan semangat pencarian jati diri terus dilakukan, suatu waktu tepatnya dalam rentang waktu 2013-2016 saya  berkenalan dengan karya Felik Shiauw, yang berjudul “Udah, Putusin Aja” menjadi buku pertama yang membuat saya jatuh cinta.

Kehadiran buku itu kemudian mengubah paradigma saya tentang kehidupan. Kegiatan lain yang saya lakukan yakni aktif di organisasi Indonesia Tanpa Pacaran. Dua basis pengetahuan itu membuat saya semakin terarah untuk terus hijrah, dan melakukan perbaikan diri dalam melihat hubungan dengan lawan jenis.

Dengan dasar itu, saya aktif di kampanye untuk melakukan penolakan terhadap pacaran, dan melakukan berbagai ajakan untuk menghindari pacaran, menjauhi zina. Pengalaman semacam itu juga berdampak terhadap pemikiran dalam melihat orang lain, serta menilai dan memperlekukan orang lain.

BACA JUGA  Masa Depan FPI di Tangan Munarman?

Pemikiran hitam-putih yang saya bangun berdasarkan kegiatan rutinitas, membuat saya eksklusif, tidak mudah bergaul dengan orang lain, serta menolak perbedaan yang tercipta atas dasar pemahaman itu.

Selanjutnya perubahan penampilan adalah hal paling penting. Alasan lainnya mengapa penampilan ini penting untuk berjilbab panjang, menutup aurat,  karena berislam seharusnya dilakukan secara kaffah, sehingga penampilan dan sikap harus mencerminkan bagaimana selayaknya Islam.

PMII rumah pertama saya kenal

Dengan gerakan yang saya lakukan selama masa sekolah, kebiasaan tersebut berpengaruh besar terhadap pola pikir saya ketika ingin menempuh pendidikan tinggi. Memilih belajar di Jawa menjadi salah satu anugerah besar yang ada dalam hidup. Saya memilih Semarang sebagai wadah belajar, tumbuh dan mengembangkan diri. Di UIN Walisongo Semarang, saya menempuh pendidikan strata 1.

Pada waktu pendaftaran ulang kampus, saya bertemu dengan PMII. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang berkiprah di kampus UIN pada waktu itu memberikan secercah kehidupan baru bagi perjalanan saya  di bumi Semarang.

Jika di masa pendaftaran, saya berpikir untuk mengganti pakaian dengan kostum cadar, pikiran semacam itu bubar ketika saya bertemu PMII. Apakah organisasi buruk? Tentu bagi saya adalah rumah yang memberikan saya kenyamanan luar biasa. Saya sangat bersyukur bertemu dengan PMII.

Bagi saya organisasi ini memberikan pemahaman baru tentang perbedaan, keanekaragaman, hingga pelajaran dan pengajaran keaswajaan yang lekat sekali dengan tradisi NU (Nahdlatuh Ulama). Tidak hanya di PMII sebagai rumah saya belajar, saya pu bertemu dengan Jaringan Gusdurian Semarang yang menambah pengetahuan saya tentang keberagaman dan toleransi.

Perjalanan hidup semacam itu menjadi semakin asik tatkala sering bertemu dengan orang yang berbeda. Beberapa diantaranya memiliki pengalaman yang sama dengan saya, kami berbagi cerita dan pengalaman. Tidak sedikit ternyata memiliki kehidupan yang sama seperti saya. Pernah menjadi bagian dari kelompok-kelompok demikian, dengan usahanya, Allah merestui, dan jadilah bagian dari penyampai ceria-cerita untuk dibagikan kepada anak-anak muda agar tidak terjerat dalam kesalahan yang sama. Wallahu a’lam

Penulis memanggil Luqy, perempuan yang kini aktif di Jaringan Gusdurian. Tulisan ini sudah melalui kesepakatan narasumber.

Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru