30.3 C
Jakarta

Peringati Sumpah Pemuda, Harakatuna Gelar FGD Anti-Radikalisme dan Anti-Khilafah

Artikel Trending

AkhbarNasionalPeringati Sumpah Pemuda, Harakatuna Gelar FGD Anti-Radikalisme dan Anti-Khilafah
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Dalam rangka menyemarakkan peringatan Sumpah Pemuda, Harakatuna menggelar Focus Grup Discussion (FGD) tentang anti-radikalisme dan khilafahisme, pada Kamis (27/10) kemarin. Acara yang mengusung tajuk “Geliat Radikalisme dan Ancaman Khilafah di Indonesia” digelar di Ruang Mahoni 8, Swiss-Belresidences Kalibata, Jakarta Selatan.

Dalam acara FGD tersebut, tiga pemateri dihadirkan. Sebagai keynote speaker ada Prof. Mustafa Zahran, Ph.D., penulis dan peneliti gerakan Islam asal Mesir yang mempresentasikan tentang islamisme di ranah global dan Indonesia. Sementara dua pembicara lainnya ialah Prof. Dr. Sukron Kamil, MA., Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Dr. Moch Syarif Hidayatullah, Ketua Umum Asosiasi Dai-Daiyah Indonesia. Ketiga pembicara sama-sama concern dalam kajian islamisme.

Faizi selaku CEO Harakatuna dalam sambutannya mengatakan, kegiatan FGD sengaja digelar untuk membahas isu-isu terkini tentang diskursus islamisme di Indonesia. Geliat radikalisme dan ancaman khilafah, menurutnya, tidak bisa dianggap remeh, dan butuh kajian komprehensif untuk mencari penanggulangannya, terutama berdasarkan kajian dengan para praktisi dan akademisi yang pakar di bidangnya.

“FGD ini sekaligus juga menjadi upaya membahas buku yang tengah kami terbitkan tentang radikalisme dan khilafah. Kedua buku tersebut merupakan antologi sejumlah kontributor Harakatuna dalam periode tertentu, baik tentang radikalisme maupun khilafah. Nantinya kedua buku tersebut sekaligus akan ditelaah oleh pemateri yang sudah ahli dalam kedua diskursus tersebut untuk kemudian diberikan prolog,” terang Faizi.

Dalam presentasinya, Mustafa Zahran menjelaskan, Fenomena terakhir dalam pergerakan Islam yang terjadi di Timur Tengah sudah bersifat dan harus dilihat secara global. Yang mereka gerakkan dari fenomena ini adalah Daulah. Daulah di sini adalah khilafah. Gagasan tentang khilafah dan Daulah, menurutnya, harus menjadi perhatian penting. Sebab mereka pergerakannya dapat memotivasi kelompok- kelompok yang lain di seluruh dunia.

BACA JUGA  Intensitas Politisasi Agama pada Pemilu 2024 akan Berkurang

“Sekarang ini, kita dihadapakan dalam ancaman negara-negara Islam yang keberadaannya mudah berubah-ubah. Ini terjadi sudah di Afrika yang dikuasai oleh kelompok Jihadi. Dalam konteks Indonesia, pergerakannya bisa menempuh jalur laut. Maka ini mesti menjadi perhatian bersama,” tegasnya.

Sementara itu, Prof. Sukron Kamil mengatakan, gerakan radikalisme perlu dilihat dari pendekatan mental sebagai sebuah tindakan yang terjadi lantaran orang dan wilayah sekitar. Cara melihat radikalisme, menurutnya, juga bisa dilihat dari tiga aspek, yakni fundamentalisme dakwahis seperti HTI, fundamentalisme politis seperti Ikhwanul Muslimin, dan fundamentalisme radikal seperti Al-Qaeda dan ISIS. Namun kepentingannya beragam, misalnya ekonomi.

“Radikalisme bergerak juga karena faktor ekonomi. Jadi, basis politik Islam lahir dari kepentingan ekonomi. Gerakan Islam tidak melulu kepentingan ideologi Islam. Dalam konteks zaman modern, gerakan politik Islam cenderung persoalan ekonomi, seperti di Arab dan Timur Tengah lain,” terangnya.

Jika Prof. Sukron Kamil memfokuskan kajiannya terhadap fenomena radikalisme, ustaz Syarif Hidayatullah sebagai pemateri terakhir memfokuskan kajiannya terhadap diskursus khilafah. Menurutnya, khilafah sesungguhnya hanya mekanisme. Namun banyak orang menyebut itu adalah jalan syariat.

Sebagai mekanisme, dalam pemaparan ustaz Syarif, khilafah mengorientasikan dua hal penting, yakni, pertama, bisa melaksanakan syariat Islam, dan kedua, negara dan pemerintahan bisa menjamin hidup dan kedamaian masyarakatnya. Ia kemudian menyimpulkan bahwa khilafah hanyalah ijtihad, bukan syariat. Karenanya, tidak khilafah juga tidak menyebabkan kekafiran. Ia juga mengapresiasi buku tentang khilafah yang disajikan bersamaan dengan FGD tersebut.

“Buku ini sangat penting disebarkan kepada khalayak. Karena buku-buku baik dan harus menjadi bahan bacaan wajib oleh masyarakat Indonesia. Buku ini di samping langka, buku ini juga menyajikan beragam gagasan, wacana dan dinamika yang terjadi pada masyarakat Indonesia,” pungkasnya. (Khr)

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru