31.4 C
Jakarta

Perempuan Prematur yang Terjerat dalam Gerakan Radikal

Artikel Trending

KhazanahTelaahPerempuan Prematur yang Terjerat dalam Gerakan Radikal
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Judul buku: Seperti Memakai Kacamata Yang Salah, Membaca Perempuan dalam Gerakan Radikal, penulis; Lies Marcoes, penerbit: Afkaruna, Tahun terbit: Februari, 2022, juml. Hlm: 126

Harakatuna.com-Membaca tulisan Lies Marcoes, seperti saat bertemu dengan tulisan-tulisannya yang lain, selalu tajam mengkritik tentang ketidakadilan perempuan dengan dogma yang melekat terhadap perempuan. Lies Marcoes adalah salah satu penulis perempuan yang cukup lantang menyuarakan tentang perempuan dan radikalisme. Tulisan ini adalah satu suara itu. Saya membayangkan bahwa, buku kecil ini merangkum banyak sekali perspektif penulis dalam melihat perempuan yang terlibat pada gerakan radikalisme. Ada 8 esai pendek dalam tulisan ini yang menjadi penguatan pemahaman pembaca berkenaan dengan keterlibatan perempuan dalam gerakan radikal.

Seperti judul yang dipilih penulis, buku ini menjadi salah satu kacamata untuk pembaca, bahwa ada banyak hal yang dilakukan oleh perempuan untuk terlibat dalam gerakan radikal. Termasuk dogma yang dipahaminya menjadi jembatan bagi jalan hidupnya. Salah satu esai dalam tulisan ini adalah tentang single story atau narasi tunggal tentang terorisme. Selama ini narasi terorisme selalu menekankan para prasangka tentang Islam, narasi tunggal tentang posisi negara yang tidak Islam serta aktor tunggal dari pelaku terorisme yakni laki-laki.

Melalui tulisannya, Lies justru menggugat adanya narasi tunggal itu dengan memberikan penjelasan bahwa, sejarah perjuangan umat Islam selama ini adalah menentang ketidakdilan, penindasan dan sejenisnya. Negara yang selama ini memiliki eksistensi besar terhadap hidup manusia di dalamnya, tidak hanya terancam dengan keberadaan terorisme, akan tetapi juga terancam dengan teror kemiskinan, kelaparan, ekonomi, dll. Lies menggugat narasi tersebut dengan memberikan perspektif bahwa, ancaman yang ada di dunia ini, baik berkenaan dengan terorisme, salah satu hal faktor yang terlibat aktif adalah perempuan.

Pendekatan gender dari penulis, sangat terlihat sekali dengan menjadikan perempuan sebagai subjek dari tulisan ini. Beberapa perspektif yang sampaikan oleh penulis, menjadikan tulisan ini sangat kaya akan keterlibatan perempuan dalam gerakan radikal. Lies Marcoes juga melihat bagaimana dogma yang dimiliki oleh perempuan dalam gerakan radikal dan berpengaruh terhadap pilihan hidup seorang perempuan untuk bergabung dalam gerakan tersebut.

Selain itu, menurut Lies Marcoes, gerakan perempuan yang tergabung dalam gerakan radikal, dibantu oleh faktor biologis dalam dirinya. Hal ini berarti bahwa, sebagian perempuan yang lantang di depan publik untuk melakukan teror, sebagian perempuan yang lain justru menunaikan tugas biologisnya dengan memproduksi tentara tuhan sebanyak-banyaknya supaya bisa menjadi penerus agama di masa yang akan datang. Menarik sekali ternyata, mindset bahwa kelompok radikal adalah penyelamat tuhan sudah melekat kuat, sehingga perlu regenerasi. Pandangan ini menurut penulis, merupakan sesuatu yang cukup kuat mengakar bagi perempuan yang terlibat dalam gerakan radikal.

Sebab tugas reproduksi hanya dimiliki oleh seorang perempuan, maka perempuan memiliki peran sentral terhadap keberlanjutan kehidupan para kombatan. Selain itu, saya sangat tertaik dengan tulisan akhir dari buku ini tentang, pandangan Lies Marcoes yang membandingkan hasil kedua penelitian yakni Saba Mahmod tentang agensi perempuan Islam di Mesir dengan Rinaldo yang membahas soal agensi perempuan Islam di Indonesia. Menurut penelitian Rinaldo, ia membagi 3 varian agensi perempuan yakni; agensi feminis inklusif, agensi kesalehan aktif dan agensi kesalehan kritis. Ketiganya adalah sesuatu hal yang

Membaca buku Lies Marcoes semakin memberikan kekayaan pandangan bahwa, perempuan memiliki banyak faktor dalam keterlibatannya menjadi teroris. Selama ini kita memahami dari narasi arus utama saja. Sejauh ini pandangan tentang keterlibatan perempuan dalam terorisme, berhenti kepada faktor biologis dan psikologis seorang perempuan yang sudah melekat dalam dirinya. Padahal perspektif gender harus menjadi dasar untuk mengetahui keterlibatan perempuan dalam aksi terorisme.

Dari sinilah juga menjadi alasan bahwa selama ini, kita terlalu menafikan peran perempuan dalam aksi terorisme sehingga cukup gagap menjelasan keberadaan perempuan yang cukup banyak memiliki menjadi pelaku teroris terutama di Indonesia. Buku Lies Marcoes ini menjadi salah satu bacaan yang sangat informatif dan eksploratif dalam menyajikan pengetahuan tentang keterlibatan perempuan dalam terorisme. Menggunakan kaca mata gender, penulis menyampaikan dengan berbagai sudut pandang melalui esai-esai yang terdapat di dalamnya. Wallahu a’lam

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru