27.4 C
Jakarta

Perempuan, Kekerasan, dan Terorisme

Artikel Trending

KhazanahPerempuanPerempuan, Kekerasan, dan Terorisme
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Keterlibatan perempuan dalam terorisme dan segala bentuk organisasi yang pro-kekerasan sudah berlangsung cukup lama. Di Rusia, sejak masa gelombang anarkis kelompok Narodnaya Volya, perempuan berperan sebagai tokoh kunci dalam pembunuhan gubernur jenderal St. Petersburg.

Sementara dalam kelompok pro-kekerasan yang berbasis keagamaan, perempuan telah mengisi berbagai peran, mulai sekadar pendukung hingga pelaku aksi teror dalam pemberontakan (Banks, 2019). Pengebom bunuh diri perempuan pertama yang berhasil melancarkan serangannya adalah seorang gadis Lebanon yang dikenal sebagai The Bride of the South.

Peristiwa tersebut membuka peluang perempuan Lebanon bertindak atas nama organisasi terorisme untuk melakukan aksi bunuh diri (Knop, 2007: 398). Selain itu, ada juga fenomena baru dalam aksi pemberontakan di Rusia, yakni black widows, di mana perempuan-perempuan Chechnya yang kehilangan pasangan laki-laki dalam perang melawan Rusia ingin melakukan balas dendam.

Munculnya ‘black widows’ pada musim panas bersamaan dengan pecahnya intifada di Palestina bulan September 2000 yang dicirikan oleh penggunaan bom bunuh diri oleh perempuan (Russell, 2009).

Dalam konteks Indonesia, keterlibatan perempuan dalam aksi-aksi terorisme merupakan fenomena baru. Kejadiannya beragam, mulai dari rencana teror bom panci yang menargetkan Istana Negara yang mana pelakunya adalah perempuan pada tahun 2016, Bom Surabaya Mei 2018, sampai dengan bom bunuh diri di Sibolga Sumatera Utara pada awal 2019 yang dilakukan oleh perempuan dengan melibatkan anaknya dalam kedua serangan terakhir.

Gelombang terorisme keempat menjadi aktor yang berorientasi pada perkembangan zaman, yakni kefanatikan, martir, di mana mereka menggunakan dalil agama sebagai justifikasi untuk memusnahkan manusia.

Beberapa Faktor

Ada banyak faktor yang menyebabkan perempuan terlibat dalam aksi terorisme. Global Government Forum pada tahun 2018 lalu menyebutkan bahwa ketidaksetaraan ekonomi, kurangnya kepemimpinan oleh perempuan, serta kemiskinan, menjadi faktor yang berkontribusi terhadap munculnya ekstremis perempuan.

Fauziya Abdi Ali, Presiden organisasi Women in International Security Kenya, yang bekerja untuk Journey to Extremism UNDP mengatakan, banyak perempuan bergabung dengan kelompok teror karena mereka kekurangan layanan penting seperti akses ke air dan listrik. Selain itu, pembalasan dendam terhadap kelompok ataupun individu menjadi kesempatan besar bagi perempuan untuk bergabung dengan kelompok teror.

Banyak sekali keuntungan yang diharapkan oleh para teroris laki-laki terkait keikutsertaan perempuan dalam kelompok ekstremis. Ketika mereka melakukan objektvikasi perempuan dengan persenjataan, maka secara otomatis hal itu menjadi promosi terorisme sekaligus melanggengkan tujuan.

Selain itu meningkatnya ketakutan dan memperluas jumlah calon yang direkrut adalah alasan perempuan terlibat dalam terorisme. Media juga memiliki peranan penting dalam melakukan rekrutmen dan menebar rasa takut (Banks, 2019).

Perempuan sering menjadi korban dan selamat dari beberapa kekejaman yang dilakukan oleh teroris. Seperti halnya dalam bentuk perang dan konflik yang lebih konvensional, di mana pemerkosaan dan bentuk-bentuk kekerasan seksual lainnya terus menjadi alat perang.

Para ekstremis brutal menggunakan kekerasan seksual untuk mengendalikan perempuan dan mengerahkan kekuasaan atas kelompoknya. Mereka juga digunakan sebagai “mesin produksi” yang melahirkan generasi jihadis dengan menikahi kombatan.

Serangan yang dilakukan perempuan memang tidak bisa dibenarkan, akan tetapi mereka memiliki alasan tersendiri. Perempuan umumnya dimotivasi oleh alasan pribadi dan bukan karena alasan ideologis. Bloom (2011) dalam bukunya, Bombshell: Women and Terrorism, mengatakan bahwa perempuan Palestina yang terlibat dalam terorisme merasa diberdayakan dan menikmati “rasa pembebasan”.

Perempuan dan terorisme merupakan fenomena yang tidak baru. Perempuan memang ikut terlibat dalam aksi terorisme, tetapi banyak faktor yang menjadikan mereka sebagai korban. Perempuan bukan hanya korban tetapi juga memainkan peran penting dalam mengembangkan strategi untuk melawan terorisme dan ekstremisme.

Peran mereka antara lain membentuk komunitas dan membangun nilai-nilai perdamaian dalam keluarga, mengidentifikasi dan mengintervensi tanda-tanda awal radikalisasi, serta menggunakan berbagai bentuk media untuk mempromosikan narasi-narasi perdamaian.

Novi
Novi
Alumnus Kajian Terorisme, Sekolah Kajian Stratejik Global (SKSG) Universitas Indonesia

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru