27.4 C
Jakarta

Pentingnya Mengusir Kaum Radikal Karena Menjajah NKRI

Artikel Trending

KhazanahOpiniPentingnya Mengusir Kaum Radikal Karena Menjajah NKRI
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Adalah suatu momok bagi ketenteraman dan kedamaian masyarakat luas. Melegalkan segala cara, intoleransi digalakkan, keberagaman dinafikan. Penanaman virus radikal pada khalayak ramai terus dilakukan. Agama dibaca seenak jidat. Prinsip kemanusiaan dianggap titipan Barat. Rasa cinta tanah air dikesampingkan, lebih memilih cinta tanah gersang yang jauh di sana; Suriah.

Menengok masa lalu berarti kita memandang masa depan. Tentu bukan hanya melihat, memandang dengan pandangan dan pikiran kosong. Namun, masa lalu itu dipelajari, diambil butir-butir mutiara kebijaksanaan, dan terakhir, diterapkan pada hari ini untuk membentuk masa depan.

Tak heran, sejarah, yang diserap dari bahasa Arab, yakni syajaratun yang artinya pohon. Diilustrasikan sebagai kerangka yang berisikan buah, yang siap dipetik pengalaman kebijaksanaannya yang telah ditulis dalam manuskrip bertinta emas.

Masa Kini Membentuk Masa Depan

Masa lalu (kita) atau lebih lekat jika istilah yang digunakan ialah sejarah Indonesia. Sebagai Bangsa yang besar yang memiliki perbedaan dari suku, agama, ras, budaya, warna kulit, makanan khas, permainan anak-anak dan lain sebagainya.

Perbedaan tersebut dihadapkan dengan musuh besar yakni kolonialisme, yang mewujudkan dirinya menjadi berbagai negara penjajah. Mereka (kolonial) tidak hanya merampas hak hidup warga setempat, namun juga mengeksploitasi sumber daya alam dan sumber daya manusia.

Namun, tak lupa, para kolonialis juga mengobrak-abrik sistem budaya atau tradisi lokal setempat. Tak lain, proyek mereka adalah melakukan internalisasi paham mereka kepada bangsa kita.

Kolonialis berusaha membuat bangsa kita hancur berantakan. Membuat bangsa kita sebagai pemasok kebutuhan industri negara penjajah. Sebut saja karet yang dipanen di Indonesia lalu dibawa ke negeri penjajah dan diolah disana namun mereka membawan kembali ke negeri kita untuk dijual. Kita sudah jatuh, tertimpa tangga pula.

Para penjajah datang ke negeri kita tidak hanya membawa para tentara dan serdadu perang. Namun juga membawa ilmuwan dan para peneliti untuk melakukan apa yang sekarang disebut dengan riset. Risetnya pun, bukan berdasar apa yang kita kenal sekarang dengan pengetahuan objektif, namun hasilnya pun sangatlah subjektif.

Mereka meneliti kita, tanpa berbicara kepada kita sepatah kata pun. Anehnya, sebagian dari kita mengamininya dan lebih mendengar hasil riset mereka terhadap kita ketimbang mendengar mbah-mbah kita yang berbicara.

Hal tersebut sangatlah disayangkan. Padahal mbah-mbah kita termasuk pejuang kemerdekaan. Sebagai pejuang kemerdekaan peran mereka tak tanggung-tanggung. Mereka rela meneteskan darah perjuangan melawan penajajah. Rela terjaga di setiap malam untuk melakukan penjagaan di setiap sudut-sudut desa.

Perlu diingat pula, para ulama juga merupakan pahlawan. Mereka terjaga disetiap malamnya melakukan perlawanan lewat jalur langit juga menggerakkan para santri-santrinya melakukan perlawanan. Di bawah seruan para ulama, terbentuklah laskar-laskar rakyat seperti Hizbullah, Sabilillah, dan Mujahidin.

Kita ingat “Resolusi Jihad” yang dikumandangkan oleh K.H. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Juga, Muktamar NU XVI di Purwokerto 26-29 Maret 1946. Isinya menyebutkan bahwa berperang melawan penjajah adalah kewajiban fardhu ‘ain bagi orang yang berada dalam jarak 94 km dari kedudukan musuh.

Dari penganut agama Kristen pun demikian, kita mengenal Pattimura dan Thomas Matulessia yang merupakan penganut Kristen taat yang juga turut melawan penjajah. Juga dari para kalangan Kristen Jawa di bawah pendeta Ngabdullah yang memisahkan dari jemaat Kristen Belanda. Di samping itu, penganut Katolik juga menghendaki demikian, melalui Perkumpulan Politik Katolk Djawa (PPKD) yang dibentuk pada 1923.

Segala perbedaan yang kita miliki dapat dilebur menjadi satu. Juga menghasilkan musuh yang satu, yakni para penjajah.

Hari ini, lawan kita masih sama, yakni penjajah. Namun bukan penjajah yang telah diusir oleh mbah-mbah kita dahulu. Penjajah hari ini, ialah para penganut faham radikalis, yang sama halnya dengan para kolonial, yakni menghancurkan bangsa kita.

Doktrin ajaran para radikalis dilakukan dengan berbagai cara seperti pengajian umum, pencetakan buku-buku, konten-konten media online, ajakan door to door, organisasi kemahasiswaan, maupun chat whatsapps grup keluarga. Sebenarnya masih banyak lagi cara yang mereka lakukan. Namun tidaklah memungkinkan ditulis di sini.

Akan sangat mengerikan jika radikalisme ini dapat merasuki masyarakat, dan menjadi paham yang dianut masyarakat luas. Akhirnya, pun, dapat melakukan kudeta negara tercinta kita ini. Alhasil, ideologi negara akan digantikan dengan asas tunggal mereka.

Kemajemukan NKRI akan dimonopoli oleh paham radikal mereka. Nama baik agama akan tercoreng menjadi momok yang identik dengan kekerasan. Bagaimana masa depan kita ?. Sungguh mengerikan.

Untuk membendungnya, kita perlu menyatukan ide, gagasan, dan paham. Terlebih mengetahui bahaya laten atas ajaran radikalis yang terus mereka khotbahkan. Memang Penyatuan akan hal tersebut diperlukan bagi segala lini masyarakat.

Apa pun agamanya, apa pun ideologinya, apapun warna kulitnya, apapun jenis kelamin, apa pun suku yang dianutnya, bagaimana budaya yang diyakininya, apa makanan khasnya, dan perbedaan lainnya.

Haruslah melebur menjadi satu melawan paham radikal. Seperti mbah-mbah kita dahulu, mereka bersatu, melawan penjajah. Kita juga harus bersatu melawan penjajah, yakni paham radikal maupun penganut radikalisme.

Satrio Dwi Haryono
Satrio Dwi Haryono
Pegiat Komunitas Dianoia. Minat pada kajian kefilsafatan, keislaman, dan kebudayaan.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru