27.7 C
Jakarta

Pentingnya Mendidik UAS dan Menghancurkan Fasisme serta Khilafahisme

Artikel Trending

Milenial IslamPentingnya Mendidik UAS dan Menghancurkan Fasisme serta Khilafahisme
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Pencekalan UAS di imigrasi Singapura beberapa hari lalu masih belum kelar dari tanggapan banyak pihak. Sebagian ada yang nyinyir mengatakan islamofobia telah menggerogoti ulama dan habaib, dan pihak lain menghujat UAS sebagai ulama radikal-intoleran. Terlepas dari sosok UAS sendiri bagaimana, kedua pihak yang pro dan kontra saling mengglorifikasi kebencian masing-masing. Fasisme melawan khilafahisme. Saya menyebutnya demikian.

Di sini perlu saya luruskan bahwa yang menanggapi UAS bukan dari pemerintah, kecuali BNPT yang mengatakan kasus UAS harus jadi pelajaran bagi Indonesia akan pentingnya toleransi dan inklusivisme beragama. Namun saya tidak ingin menanggapi itu. Yang ingin saya tanggapi adalah dua kubu ekstrem yang membela dan menghujat UAS. Kedua kubu ekstrem tersebut adalah kubu fasis vs kubu khilafahis, ibarat perang nasionalis vs agamis. Perang wacana yang sangat buruk.

Misalnya, Eko Kuntadhi di Twitter menyebarkan berita hoaks bahwa UAS mengalami penolakan di Madura, sambil memberi caption bahwa orang Madura cerdas dengan menolak UAS. Abu Janda juga tampil ke muka, merepresentasi sebagai influencer nasionalis yang sangat cinta bangsa. Tanpa sadar, keduanya, juga gerombolan influencer sejenis, malah semakin memperkeruh masalah. Dan alih-alih nasionalis, mereka menjelma sebagai penganut fasisme.

Fasisme adalah gerakan radikal ideologi nasionalis. Seorang fasis selalu membayangkan adanya musuh, sehingga membangun gerakan dengan satu tujuan: menghancurkan musuh. Dalam pola pikir fasis, musuh berada di mana-mana, baik di medan perang maupun dalam bangsa sendiri sebagai elemen, misalnya tokoh masyarakat—UAS masuk kategori ini. Fasisme mengedepankan kecurigaan, dan bagian terburuk perilaku mereka adalah mengotori nasionalisme.

Pada saat yang sama, UAS diseret-seret ke dalam lembah khilafahisme. Padahal UAS tidak anti-NKRI, juga tidak memiliki agenda ideologi mendirikan khilafah. Namun karena UAS seolah terzalimi oleh rezim, para aktivis khilafah memanfaatkan keadaan dengan cara menyemarakkan narasi kezaliman rezim, maraknya islamofobia, merebaknya liberalisme, dan berbagai tuduhan murahan lainnya. Wacana ini bertabrakan dengan wacana fasisme; UAS berada dalam pusaran keduanya.

UAS dan Khilafahisme

Sekadar meluruskan, bahwa gaya dakwah UAS tidak sama dengan—misalnya—Quraish Shihab. Gaya dakwah UAS lebih mirip Habib Rizieq: menggebu-gebu, lurus, tidak kompromistis, dan dalam beberapa persoalan suka mendiskreditkan komunitas di luar Islam. Pernah, misalnya, menyebut patung ada jinnya. Itu sesuai dengan karakter UAS. Di ruang komunal, mungkin tidak masalah. Gaya dakwah semacam itu justru problematis ketika berada di ruang multikultural.

Sikap kaku UAS di ruang publik menjadi masalah besar karena berhubungan dengan toleransi antarsesama. Dalam konteks itu, saya setuju ia disebut dai intoleran, karena tidak menoleransi siapa pun yang berbeda bahkan enggan untuk melakukannya sekadar demi “menjaga perasaan orang lain”. Bijaknya, UAS silakan dengan pendiriannya sekaku apa pun, tetapi ia harus memahami posisinya sebagai public sphere yang tidak boleh menciptakan ketersinggungan dan memantik permusuhan.

BACA JUGA  Terorisasi Anak-anak: Ketika Deradikalisasi dan Moderasi Menjadi Sangat Urgen

Akibat ketidakcakapan UAS memahami keadaan, dua kelompok muncul sebagai respons. Pertama, kelompok yang menuduh UAS sebagai dai radikal yang anti-NKRI. Kedua, kelompok yang mengkristalisasi UAS sebagai pembela Islam garis depan. Kelompok terakhir ini yang kemudian membuat UAS lebih dekat dengan PA 212, FPI, bahkan dalam beberapa kesempatan ia dikawal aktivis HTI. Artinya, antara UAS dan khilafahisme tidak benar-benar dekat kecuali karena anggapan personal para khilafahers itu sendiri.

Namun begitu, UAS dan khilafahisme justru berkembang sebagai medan perang wacana baru yang mengglorifikasi kebencian masing-masing kelompok tadi. UAS semakin disanjung kelompok sebelah yang memang punya kepentinga politik ideologis dan anti-NKRI, dan pada saat yang bersamaan semakin dibenci oleh kelompok fasis—terlepas dari apa kepentingan mereka. UAS semakin tersudutkan sebagai penganut khilafahisme, pada ia hanya dimanfaatkan posisinya oleh aktivis khilafah.

Karenanya, perlu ada kesepahaman antarpihak baik yang pro UAS maupun yang kontra. Fasisme terhadap UAS harus diatasi, sama pentingnya dengan menghapus pengaruh-pengaruh aktivis khilafah yang menggerogoti UAS. Ada sekat yang membuat UAS seperti anti-NKRI, yaitu karena dirinya dipeluk erat oleh aktivis khilafah dan dihujat habis-habisan oleh para fasis. Fasisme dan khilafahisme mengglorifikasi kebencian, yang akibatnya UAS jadi sasaran hujatan.

Musnahkan Fasisme dan Khilafahisme

Dengan menghujat, kita terjebak pada dua sisi masalah, yaitu ketersalingan menyebarkan kebencian atas nama agama. UAS memang keliru dengan pidato-pidatonya yang menyinggung umat non-Muslim, tetapi jika kita menghujatnya, kita sendiri juga yang akan kena getah pendukungnya. Sudah begitu ia tidak akan taat bahkan akan semakin berani menentang. Karenanya, ketimbang menghujat, persuasi lebih mendesak dilakukan—aplikasi wasathiyah Islam.

Kita maupun UAS punya pandangan beragam tentang Islam, maka menghujat UAS sama sekali tidak dapat dibenarkan. Kebencian antarsesama tidak boleh kita rawat, justru saling menasihati adalah solusinya. Di sisi lain, UAS juga harus tahu diri; agar tidak dimanfaatkan para aktivis khilafah, dan berkomitmen menjaga perasaan umat yang berbeda. UAS punya kontrol atas dirinya. Sebagai tokoh, harusnya ia paham semua itu agar tidak dimanfaatkan pihak yang anti-NKRI.

UAS butuh diajari, dididik, dan dinasihati. Fasisme dan khilafahisme butuh ditanggulangi, bersama disadari bahwa keduanya sangat berbahaya bagi NKRI. Jika tidak demikian, maka pertanyaannya: apakah masalah akan selesai sesudah menghujat UAS? Apakah glorifikasi kebencian memberikan solusi untuk kemaslahatan NKRI? Bukankah kebencian hanya semakin menambah masalah baru? Penganut fasisme dan khilafahismelah yang harus diluluhlantakkan dari NKRI.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Mahasiswa SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru