30.3 C
Jakarta

Penipuan HTI (2); Program Indoktrinasi Khilafah Bertajuk Pengajian Hijrah

Artikel Trending

Milenial IslamPenipuan HTI (2); Program Indoktrinasi Khilafah Bertajuk Pengajian Hijrah
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Beberapa pekan lalu, saya membahas tentang adanya indoktrinasi ideologi khilafah oleh para aktivis Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di sejumlah rutan dan lapas. Saya membedah para tokoh yang ada dalam Cinta Quran Foundation dan Yayasan Indonesia Bisa Ngaji, dan menemukan fakta bahwa para founder-nya adalah dedengkot tulen HTI, yakni Fatih Karim dan Rezaldi Harisman. Ketika itu saya bilang, gerakan HTI menyasar ke segala arah. Ia menjadi tantangan besar bagi Negara.

Ternyata, belum lama ini, gerilya HTI kembali tercium. HTI yang ahli manipulasi bikin ulah dengan mencatut logo NU dalam rencana event di Surabaya, yang kemudian membuat event tersebut dipaksa batalkan. Orang NU paham siapa di balik Hijrahfest, sementara orang HTI lupa bahwa aksi penipuan mereka kali ini akan terungkap. Jika tahun-tahun sebelumnya mereka terbiasa mencatut ulama, kali ini kebiasaan buruk tersebut justru membuat borok mereka terbongkar.

Tidak ada yang jadi masalah, sebenarnya, dari sebuah event hijrah. Selama ia dalam rangka memperbaiki tatanan sosial-masyarakat, bukan sebagai program indoktrinasi khilafah dan alibi pengajian hijrah. Yang jadi masalah adalah penyesatan itu, mengelabui umat Islam yang polos, yang baru kenal Islam, dengan menjadikan para selebritas sebagai mitra. Arie Untung dan Teuku Wisnu, misalnya, yang jadi simbol Hijrahfest.

Apakah Hijrahfest merupakan satu-satunya program indoktrinasi khilafah? Tentu saja tidak. Hijrahfest juga punya yang lain, misalnya, aplikasi Takwa by Hijrahfest yang sudah terunduh lebih dari lima puluh ribu kali. Dalam aplikasi tersebut, beberapa hal ditawarkan yang bahkan tidak ditemui di akun official Instagram mereka. Mengapa harus sembunyi-sembunyi, alasannya karena mereka takut ketahuan identitasnya; agar umat Islam tidak sadar bahwa HTI adalah dalang dari semuanya.

Jadi penyesatan umat sudah banyak dilakukan. Desain hijrah palsu sudah tidak terhitung. Pengajian-pengajian HTI yang tujuannya mengindoktrinasi umat dengan paham khilafah merupakan bagian paling inti dari penipuan HTI di Indonesia. Karena masif, maka perlawanan yang juga masif merupakan keniscayaan. Jangan sampai para aktivis khilafah berjaya di tengah instabilitas politik, karena umat akan mudah terseret dan mudah untuk dipengaruhi menuju kesesatan.

Penyesatan Umat

Sesat adalah ketika apa yang terjadi tidak sesuai yang seharusnya. Sesat adalah ketika kebatilan dianggap sebagai kebenaran dan dibela tanpa henti. Sementara penyesatan adalah upaya dari seorang atau kelompok—jelas secara sengaja—untuk menyeret orang/kelompok lain ke dalam apa yang seharusnya dijauhi. Penyesatan umat artinya usaha menggiring umat keluar dari khitah; tidak hanya membuang hal yang harusnya ada, tetapi juga mengada-ada hal yang sejatinya tiada.

Indoktrinasi khilafah masuk kategori penyesatan yang terakhir ini. Islam tidak mengajarkan hijrah sebagai pindah ideologi negara, juga tidak mengajarkan khilafah sebagai sistem pemerintahan yang niscaya. Tetapi para aktivis khilafah, terutama HTI, membuat khilafah seakan-akan syariat Islam yang kalau tidak ditegakkan, keimanan seseorang dianggap belum sempurna. Mereka mensyariatisasi sesuatu yang Nabi Saw. sendiri tak mensyariatkannya. Bukankah itu penyesatan umat yang amat nyata?

BACA JUGA  Sumpah Pemuda 2022: Menyalakan Watak Pemuda Moderasi, Menghapus Watak Pemuda Intoleransi

Hijrahfest juga demikian. Berafiliasi dengan HTI, Hijrahfest menjadi nama lain HTI yang tidak akan terlacak oleh stakeholders pemberantasan radikalisme di Indonesia. Sebab, Hijrahfest tidak mengajarkan khilafah secara terang-terangan. Meski begitu, programnya sangat masif dan mobilitasnya tinggi. Dananya banyak, melalui berbagai donasi terutama dari penggalangan yang dilakukan oleh para selebritas di dalamnya. Finansial mapan, gerakan ideologisasinya juga semakin ke depan.

Bermodalkan hijrah palsu, umat dibawa terombang-ambing perdebatan kusir satu sama lain. Satu kalangan menyayangkan sikap NU ketika mendesak acara Hijrahfest dibatalkan, dan lainnya mengapresiasi ketegasan melawan gerilya ormas terlarang. Padahal, semua umat Islam yang waras di Indonesia setuju bahwa HTI haram tumbuh-berkembang di NKRI, tetapi umat jadi beda pendapat ketika namanya jadi Hijrahfest. Kamuflase HTI melahirkan polarisasi umat. Sungguh sangat tidak biadab.

Tangkap!

Dengan melihat penipuan-penipuan yang sudah HTI lakukan secara kamuflase, apakah yang harus diperbuat dalam rangka menanggulanginya? Haruskah rakyat minta ketegasan pemerintah untuk menangkap mereka, sebagaimana ketegasan pemerintah membubarkan organisasinya setengah dekade silam? Semua demi NKRI. Khilafah tidak bisa dibiarkan berkembang, terlebih melalui gerakan bawah tanah. Solusi terakhirnya adalah, tangkap siapa pun yang terlibat.

Namun tetap, semua itu tergantung pada kebijakan pemerintah. Selama pergerakan khilafah dibiarkan, selama indoktrinasi ideologi terlarang itu lancar-lancar saja, selama penipuan HTI masih berkeliaran bebas, HTI artinya masih jaya. Ini bukan lagi tentang kebebasan demokratis, sebab Hijrahfest tak semurni kelihatannya. Untuk apa negara memberi warganya ruang bebas, jika kebebasan tersebut justru akan memusnahkan eksistensi negara itu sendiri?

Tangkap. Ini merupakan solusi terakhir yang bisa dilakukan. Sebagaimana HTI melakukan segala cara untuk menyebarkan ideologinya, negara ini juga harus melakukan segala cara untuk memadamkan ideologi tersebut. Selebritas yang jadi antek-antek HTI juga harus diatasi, sebab mereka membawa pengaruh untuk fans mereka. Intinya, siapa pun yang terlibat dalam program indoktrinasi khilafah bertajuk pengajian hijrah, tanpa pandang bulu, semuanya harus diringkus.

Apakah pembatalan acara seperti yang terjadi di Surabaya tidak cukup? Itu adalah langkah awal, namun tidak boleh berhenti di situ. Sangat mungkin, Hijrahfest akan segera digelar di daerah lain yang aman dari sorotan banyak orang, dan para aktornya akan kembali bermain kamuflase. Yang terang, catut-mencatut dalam intrik politik dan gerilya ideologisasi HTI bukan hal baru. Sebelum ditangkap, itu akan kembali terulang, terulang, dan terulang, sampai khilafah mereka tegak. Na’udzubillah.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Mahasiswa SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru