30.3 C
Jakarta

Penguatan Identitas Muslimah: Pola Gerakan Perempuan dalam Terorisme

Artikel Trending

KhazanahTelaahPenguatan Identitas Muslimah: Pola Gerakan Perempuan dalam Terorisme
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com-Keterlibatan perempuan dalam jaringan terorisme, menjadi suatu fakta yang tidak bisa dibantah apabila melihat pola gerakan terorisme saat ini. Gerakan terorisme yang biasa dilakukan oleh laki-laki merubah bentuk dari maskulinitas ke feminitas. Proses indoktrinasi yang berkembang dari kewajiban perempuan untuk melakukan jihad, membuat pergeseran yang cukup besar antara laki-laki dan perempuan. Tidak hanya itu, budaya patriarki dalam aksi kekerasan dan jaringan ISIS telah mengubah konsepsi perempuan terhadap tindakan terorisme, bahwa perempuan memiliki kesempatan untuk berjihad. Dari konsepsi ini akan memberikan peluang bagi perempuan yang tergabung dalam teroris untuk terus melakukan gerakannnya. Sementara bagi para perempuan yang belum tergabung dalam gerakan teroris, konsepsi ini akan menjadikan perempuan untuk memiliki kewajiban secara harfiah untuk bergabung.

Meskipun demikian, kita melihat bahwa, proses seseorang untuk bergabung dalam jaringan terorisme cukup banyak tahapan yang dilalui. Hal ini berdasarkan Basan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), memetakan 4 tahap, di antaranya: Pertama, pra radikalisasi yang berupa proses awal seseorang bersinggungan dengan ajaran radikal. Persinggungan ini bisa dilakukan secara sengaja atau tidak, seperti halnya persinggungan dengan keluarga ataupun dengan media belajar seperti media online yang bisa diakses untuk belajar. Seorang perempuan akan belajar otodidak untuk meningkatkan pengetahuan agamanya seperti yang sudah ditemukan pada kajian-kajian agama sebelumnya. Obsesinya dalam belajar agama sangat tinggi karena memiliki rasa penasaran cukup besar terhadap kajian yang sebelumnya sudah diikuti.

Kedua, identifikasi diri. Pada fase ini seseorang sudah menyerap informasi dari berbagai pihak untuk diinternalisasi dalam dirinya.  Berbagai informasi dari kajian-kajian Islam yang disampaikan oleh ustaz-ustazah akan memicu seseorang akan memilih seperti apa ia akan melakukan kehidupannya. Ketiga, indoktrinasi. Pada proses ini seseorang sudah masuk dalam ajaran radikal. Sehingga dari seluruh ideologi yang diajarkan oleh circle dalam lingkungannya, akan menjadi landasan hidup dalam dirinya sebagai pijakan untuk melakukan gerakan. Keempat, jihadisasi yang merupakan fase terakhir dalam ajaran radikal. Seseorang pada fase ini akan merencanakan teror baik secara personal ataupun bersama dengan timnya.

Melalui tahap ini, seseorang yang sudah terpapar ajaran radikal, akan senantiasa menguatkan dirinya untuk melakukan aksi pengeboman. Sebab ia sudah melampaui tahap yang sudah terjadi dalam hidupnya. Akhirnya, tinggal bagaimana ia mengaplikasi segala bentuk pengetahuan yang sudah menjadi keyakinannya. Dalam konteks perempuan, merupakan pembahasan yang cukup kompleks ketika melihat kerentanan dalam bergabung kelompok teroris. Ada banyak faktor yang menjadikan perempuan dalam terlibat gerakan teroris. Hal ini melihat bahwa, faktor psikis, biologis yang dimiliki oleh perempuan sangat berbeda dengan laki-laki. apalagi terjadi perubahan corak gerakan teroris yang terjadi, seperti yang disampaikan di atas bahwa, perubahan dari maskulinitas ke femininitas.

BACA JUGA  Peran Ulama Perempuan dalam Kontra Narasi Ekstremisme

Meskipun demikian, ada hal menarik yang bisa dikaji dari keterlibatan perempuan dalam gerakan terorisme yakni berkenaan dengan pola gerakan perempuan dalam jaringan terorisme. Beberapa pola tersebut di antaranya: Pertama kondisi terisolasi dari publik dan merasa tealienasi, tidak setara, terpinggirkan. Hal ini bisa diekspresikan dalam bentuk ketidakpuasan pada setiap kebijakan pemerintah baik lokal, nasional ataupun luar negeri. Sehingga kondisi ini membuat powerless. Kedua, ada harapan pada identitatas baru yang dilekatkan pada seorang muslim. Sehingga sebutan tentang muslim kaffah akan berdampak pada identitas sosial yang mengangkat derajat seorang perempuan untuk terus meningkatkan keimanan dan membutuhkan pembuktian keimanan. Ketiga, mendambakan pemberdayaan dan petualangan baru. Ideologi feminis yang selama ini menjadi gerakan pembaruan untuk memperbaiki kehidupan perempuan, nyatanya tidak menjawab kegelisahan perempuan, sehingga dari sinilah, ide tersebut dipatahkan dengan identitas sebagai seorang muslim yang harus terus diperjuangkan. Keempat, modes of engagement yang artinya merasa punya jaringan dan terkoneksi dengan orang lain.

Berdasarkan pola gerakan ini, kita dapat memahami bahwa, ideologi feminis nyatanya tidak berhasil membuat perempuan untuk melakukan gebrakan dalam dirinya agar mampu untuk mendobrak peran dirinya dalam ranah publik ataupun secara bebas untuk melakukan banyak hal. Kekecewaan itu bisa menjadi salah faktor perempuan untuk kembali kepada gerakan untuk pemurnian Islam yang membawa seorang perempuan loyal terhadap jaringan teroris. Dengan demikian, penguatan identitas muslimah melalui atribut keagamaan yang ditampilkan, menjadi salah satu pola gerakan terorisme yang terjadi pada perempuan. Wallahu a’lam

 

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru