25.7 C
Jakarta

Pengkhianatan Pancasila: Indonesia Diprank Ustaz Abu Bakar Ba’asyir?

Artikel Trending

Milenial IslamPengkhianatan Pancasila: Indonesia Diprank Ustaz Abu Bakar Ba'asyir?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Ustaz Abu Bakar Ba’asyir kembali menghentak memori bangsa setelah pengakuannya terhadap Pancasila sebagai dasar negara. Abu Bakar Ba’asyir kini viral dan disebut-sebut telah mengkhianati Pancasila. Banyak orang menyebutnya ngepprank bangsa Indonesia.

Dalam sebuah video yang beredar luas di berbagai media sosia, Ustaz Abu Bakar Ba’asyir menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara toghut, karena tidak menjalankan syariat Islam. Di dalam video tersebut menyebutkan kalau santri, alumni Ponpes Al-Mukmin harus sama-sama memerangi negara toghut dan menjadikannya sebagai negara bersyariah.

Pernyataan Ustaz Abu Bakar Ba’asyir

Semua alumni Al-Mukmin diajak untuk berjuang mati-matian menegakkan Islam supaya bisa mengamalkan Islam secara berjamaah. Mengamalkan Islam secara berjamaah dalam bentuk khilafah, jadi daulah dan khilafah. Bukan bekerjasama dalam aktivitas memajukan negara toghut. Ceramah ini terjadi dalam acara 50 tahun Ponpes Al-Mukmin, Sabtu (20/8) lalu.

“Toghut artinya yang selalu melampaui batas, menolak hukum Islam. Semua pemerintah yang tidak mengatur negara dengan hukum Islam itu toghut, termasuk pemerintah Indonesia ini toghut. “Karena apa? Mereka menolak Indonesia ini diatur dengan hukum Islam. Nggak ada gunanya kalau tujuannya tidak merubah Indonesia menjadi negara yang diatur dengan hukum Islam. Meskipun mati semua nggak apa-apa. Pemerintah yang melarang hukum Islam itu penjajah,” ujarnya.

Ketika Ustaz Abu Bakar Ba’asyir berceramah demikian, tampak para jemaah diam dan takzim. Dari ceramah-ceramah di atas, banyak masyarakat tidak terima. Masyarakat mempertanyakan, dari sisi mana negara Indonesia bisa dikatan negara toghut. Karena tidak bersistem syariah, menurut banyak orang bukan berarti Indonesia adalah anti hukum Islam. Bahkan selama ini negara Indonesia selalu memakai hukum Islam sebagai prasyarat utama dalam memutuskan persoalan yang ada.

Kemudian di dalam video ceramahnya, ustaz Ba’asyir mengatasnamakan sebagai dirinya teroris. Bahkan mengucapkan bahwa sistem demokrasi adalah buatan orang kafir. “Mulai Sukarno hukum tauhid dibuang tapi hukum syirik ditegakkan yaitu demokrasi, itu syirik besar buatan orang kafir demokrasi,” kata Ba’asyir.

Artinya, sejak lama Ba’syir tidak terima dengan sistem yang dijalankan Indonesia. Demokrasi sebagai suatu perasan pikiran yang pertama kali diimplementasikan di Barat, menjadi barang yang menjijikkan di mata kelompok teroris. Karena dianggapnya bukan dari Allah, tapi buatan manusia.

Kemudian dalam video singkat itu, ustaz Ba’asyir mengajak seluruh alumni untuk berjuang menegakkan Islam. “Jadi semua alumni Al-Mukmin ini saya ajak untuk berjuang mati-matian menegakkan Islam supaya kita bisa mengamalkan Islam secara berjamaah. Itu kan arah-arah perjuangan kita mengamalkan Islam secara berjamaah dalam bentuk khilafah, jadi daulah dan khilafah. Kepada semua alumni Al mukmin ini mohon menerangkan ini kepada masyarakat kalau perlu kepada polisi juga terangkan. Menegakkan Islam yang sebenarnya, sekali lagi Islam harus berkuasa tidak boleh dikuasai. Bagi kami negara kami Indonesia ini harus diatur dengan hukum Islam dan itu harga mati,” kata Ba’asyir.

BACA JUGA  Teroris Al-Qaeda, JI dan Mencegah Terorisasi di Indonesia

Dalam video tersebut ustaz Ba’asyir memang mengucapkan secara lantang. Tapi apakah yang diucapkan itu benar adanya atau ada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab telah membuat susunan video tersebut seolah-olah ucapan ustaz Ba’asyir?

Benarkah Isi Video Tersebut?

Melihat klarifikasi keluarganya, muatan video tersebut adalah tidak benar. Menurutnya video tersebut telah dipotong-potong sehingga menimbulkan persepsi negatif. Namun demikian, jika memang ustaz Ba’asyir memberikan ceramah di acara reuni pondok, dan ternyata video tersebut ada meski dipotong-potong, artinya, ustaz Ba’asyir memang sebagian telah mengucapkan apa yang ada di dalam video tersebut.

Lebih-lebih, itu dikuatkan dengan klarifikasi keluarganya bahwa ustaz Abu Bakar Ba’asyir memang menginginkan Indonesia diatur sesuai syariat Islam. Jadi potensial video tersebut ada, dan tidak menerima Pancasila sebagai keharusan yang wajib diterima oleh bangsa Indonesia. Maka tak aneh jika banyak orang sampai saat ini meragukan “penerimaan ustaz Abu Bakaar Ba’asyir terhadap Pancasila”.

Jadi, jika sebelumnya Ustaz Abu Bakar Ba’asyir disebut-sebut media sudah menerima Pancasila, dengan hanya menghadiri gelaran upacara 17 Agustus di pesantrennya, Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki, Sukoharjo, sungguh hal itu adalah kecelakaan kepercayaan. Apalagi di acara gelaran upacara 17 Agustus kemarin, Ustaz Ba’asyir tidak berdiri menyanyikan lagu Indonesia Raya (alasan tua), dan tidak hormat berdera (meski bisa dilakukan dengan cara duduk di kursi). Ini sampai saat ini menjadi pertanyaan semua masyarakat.

Benarkah ustaz Ba’asyir benar-benar menerima, atau hanya sekadar bertaqiyah saja? Jika hanya sekadar bertaqiyah, maka sungguh benar statemennya ustaz Ba’asyir dari dulu bahwa Indonesia berhukum Islam adalah harga mati. Dan semua perayaan 17 Agustus, dan pemberitaan atas penerimaan terhadap Pancasila tak lebih dari prank semata!

Agus Wedi
Agus Wedi
Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru