Penanggulangan Terorisme Di Mata Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto


0
2 shares

Debat pertama Pilpres 2019 telah usai. Debat pertama ini mengambil tema “Hukum, HAM, Korupsi, dan Terorisme”. Kedua pasangan calon presiden telah menyampaikan visi-misinya terkait dengan tema tersebut. Adu gagasan pun mulai terlihat ketika sang moderator membacakan pertanyaan maupun pernyataan untuk kedua pasangan calon. 

Akan tetapi, yang menarik untuk diperhatikan lebih lanjut dalam debat tersebut adalah isu terorisme. Sebab dalam isu ini kedua pasangan sama-sama menolak dengan keras adanya terorisme di Indonesia dan sepakat untuk diberantas hingga ke akar-akarnya. Bahkan Prabowo sendiri menyebutkan bahwa sebenarnya terorisme merupakan jaringan global yang harus dilawan hingga ke akar-akarnya. Prabowo kemudian menyetujui langkah-langkah yang diberikan oleh Ma’ruf Amin untuk mencegah adanya terorisme dan radikalisme.

Ma’ruf Amin memberikan gambaran yang jelas bagaimana seharusnya mengendalikan terorisme dan radikalisme. Namun terlebih dahulu Ma’ruf Amin memberi dasar hukum untuk menindaklanjuti adanya aksi terorisme. Ma’ruf Amin, sebagai ulama terkemuka di Indonesia, dengan organisasi yang selama ini dipimpin, yakni MUI, memberi fatwa bahwa terorisme bukan bagian dari jihad. Ma’ruf Amin kemudian mendasarkan pada al-Qur’an bahwa orang yang melakukan perusakan di muka bumi harus di hukum keras.

Melalui dasar hukum ini Ma’ruf Amin kemudian mengambil langkah pencegahan dan penindakan. Namun yang diutamakan adalah langkah pencegahan dengan cara deradikalisasi. Ma’ruf Amin menjelaskan bahwa pencegahan yang dilakukan dengan cara melihat bagaimana dia bisa menjadi radikal, karena paham keagamaan yang menyimpang atau faktor sosial/ekonomi. Kalau pahamnya yang menyimpang, langkah deradikalisasinya dengan cara meluruskan pemahaman, sedangkan jika faktor sosial atau ekonomi pendekatannya melalui pemberian lapangan pekerjaan atau santunan.

Kesepakatan Prabowo dengan langkah yang diberikan oleh Ma’ruf Amin menunjukkan bahwa adanya keseriusan dari kedua kubu untuk melawan terorisme. Jadi, siapapun presiden nanti yang terpilih, kedua pasangan ini akan memasang badan untuk menghadapi terorisme dan radikalisme yang sudah menjamur di Indonesia. Dari pihak Jokowi sendiri pengalaman Ma’ruf amin sangat dibutuhkan untuk menangani isu terorisme dan radikalisme. Pengalamannya di MUI menjadi modal penting untuk menyelamatkan Indonesia dari bahaya radikalisme dan terorisme. 

Sedangkan di pihak lain, Prabowo Subianto juga memiliki keterlibatan dalam pembentukan densus anti teror pada masa mudanya. Pada tahun-tahun pembentukan densus anti teror ini sebagai upaya negara dalam bentuk pertahanan untuk memberantas aksi terorisme di Indonesia. Mengingat bahwa setelah tragedi 9/11 dan serangkaian Bom Bali membuat Indonesia waspada terhadap terorisme. Oleh karenanya, adanya densus anti teror ini sebagai upaya negara untuk menjaga dan melindungi warga negara dari adanya aksi terorisme.

Kalau semisal kedua gagasan yang diuraikan oleh kedua pasangan ini di satukan, maka akan menjadi modal besar negara ini untuk memberantas terorisme. Apalagi Ma’ruf Amin juga berkeinginan untuk melibatkan ormas-ormas Islam untuk berjuang melawan terorisme, sehingga kekuatan untuk memberantas terorisme semakin besar. Meskipun sebenarnya banyak ormas-ormas Islam besar di Indonesia sudah mengupayakan proses deradikalisasi, akan tetapi ketika negara berkomitmen mengajak secara struktural, maka legitimasi untuk proses deradikalisasi akan semakin besar. 

Hal ini bukan berarti negara tidak mampu untuk memberantas dengan tangannya sendiri, akan tetapi persoalan terorisme dan radikalisme merupakan persoalan yang kompleks. Harus banyak pihak yang dilibatkan untuk melawannya. Kita sama-sama sepakat bahwa terorisme merupakan sebuah gerakan yang ingin melumpuhkan negara. Adanya terorisme juga akan menciderai rasa keberagamaan yang selama ini dibangun bersama untuk hidup rukun. Oleh karenanya, sudah seharusnya isu terorisme ini menjadi isu strategis dalam pemerintahan ke depan, di samping isu-isu yang lainnya.

Jika Ma’ruf Amin lebih menekankan pada aspek pencegahan, maka kekuatan dan kemampuan Prabowo Subianto bisa dimanfaatkan dalam segi penindakan. Ini bukan soal siapa yang menang nantinya. Ini merupakan persoalan bersama. Oleh karenanya, semua berkepentingan untuk terlibat, baik secara aktif maupun pasif, untuk menolak adanya terorisme dan radikalisme. 

Oleh karena itu, berbicara terkait dengan isu terorisme kita harus bersatu. Dari pihak Jokowi dan Prabowo harus menyepakati bahwa isu terorisme merupakan isu bersama. Jangan sampai ketika salah satu kalah dalam pilpres nanti, isu ini akan dilupakan. Ini yang harus kita perhatikan bersama. Cukup lah kita berdebat, kita terkotak-kotak oleh pilihan calon, akan tetapi jangan sampai itu membuat kita terpecah-pecah sehingga isu terorisme ini hanya diobrolkan ketika debat berlangsung. 

Baca Juga:  Teror Nz, ‘’Eggboy’’ dan Deradikalisasi Berbasis Edukasi

Like it? Share with your friends!

0
2 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
M. Mujibuddin Sm
bisa disapa melalui twitter @M_Mujibuddin