25.4 C
Jakarta

Pemuda Pancasila, Pemuda Radikalis, dan Dua Titik Ekstrem Barbarian

Artikel Trending

Milenial IslamPemuda Pancasila, Pemuda Radikalis, dan Dua Titik Ekstrem Barbarian
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Aksi unjuk rasa ormas Pemuda Pancasila di depan Gedung DPR Senayan, Jakarta Pusat, yang berujung ricuh, Kamis (25/11) kemarin adalah peristiwa yang memalukan. Seorang anggota Pemuda Pancasila diduga terlibat pengeroyokan Kabag Ops Ditlantas Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Dermawan Karosekali hingga cedera dan harus menjalani perawatan intensif. Mengatasnamakan Pancasila tetapi melakukan aksi barbar. Sungguh, ini keterlaluan.

Meskipun polisi telah menangkap 21 orang anggota Pemuda Pancasila, dan 15 orang di antaranya sudah ditetapkan sebagai tersangka lantaran membawa berbagai macam senjata, tetap saja kejadian kemarin sangat disayangkan. Bahkan sekalipun Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Hengki Haryadi mengultimatum Pemuda Pancasila untuk menyerahkan pelaku pengeroyokan, itu tidak cukup. Para barbarian itu harus dihukum secara setimpal.

Pasalnya aksi kemarin bukan kali pertama. Pemuda Pancasila tidak jarang melakukan anarki. Kalau hendak didudukkan secara adil, mereka sama halnya dengan para Muslim radikalis yang suka kekerasan. Bedanya, radikalis Muslim mengatasnamakan Islam untuk melegitimasi aksi mereka, sementara Pemuda Pancasila mengatasnamakan ideologi negara. Tapi yang jelas, keduanya sama-sama mencederai satu mencederai Islam, satunya mencederai Pancasila.

Pemuda radikalis yang tergabung dalam kelompok keras seperti FPI, sebenarnya, dengan Pemuda Pancasila, sama-sama berada di kutub ekstrem sikap kebangsaan. Karenanya, jika pemerintah represif kepada satu kelompok, kelompok satunya juga mesti disikapi sama. Lagi pula, sumbangsih keduanya untuk bangsa tidak jelas, kecuali menyumbang kericuhan. Aksi-aksi barbar pun laik membuat mereka punya lebel setara: barbarian.

Fenomena barbarisme radikalis dan Pancasilais tersebut menunjukkan bahwa barbarian bukan saja satu wujud pertentangan globalisasi yang turut mewarnai fenomena multi-dimensi. Bahwa barbarian tidak muncul sebagai reaksi globalisasi semata, yang dianggap memperjelas ketimpangan dan diskriminasi baik dalam aspek ekonomi maupun sosial, melainkan juga sebagai pengejawantahan narasisme ideologi: ideologi Pancasila dan ideologi radikal.

Pancasilais dan Radikalis

Sebagai ideologi bangsa, loyalitas pada Pancasila wajib hukumnya. Juga sebagai landasan berpikir kritis, berpikir radikal, dalam arti mendalam hingga ke akarnya, merupakan keniscayaan. Namun terminologi Pancasilais dan Radikalis hari ini menjadi peyoratif. Pancasilais, yang seharusnya berarti hidup dengan menjadikan Pancasila sebagai falsafah kehidupan, ternyata justru menjelma sebagai sikap kesewenang-wenangan atas nama Pancasila.

Pemuda Pancasila sendiri bahkan bergeser signifikan dari fungsi idealnya dengan menjadi barbarian. Dengan mengacu pada ikrarnya, sebagai berikut,

Ikrar Pemuda Pancasila:

  1. Bertanah Air satu, Tanah Air Indonesia
  2. Berbangsa Satu, Bangsa Indonesia
  3. Berbahasa Satu, Bahasa Indonesia
  4. Berideologi satu, Ideologi Pancasila

SEKALI LAYAR TERKEMBANG SURUT KITA BERPANTANG

PANCASILA ABADI!!!

Barbarisme ekstrem yang mungkin berasal dari penyalahgunaan frase “Sekali Layar Terkembang Surut Kita Berpantang”. Artinya, yang salah bukan Pemuda Pancasila sebagai organisasi, melainkan para anggotanya yang salah tafsir akan loyalitas dan ketegasan. Lalu yang mengemuka sebagai perilaku mereka adalah keganasan yang tak pandang pilih. Istilah Pancasilais, pada akhirnya, menjadi menakutkan karena mereka mengimejkannya sebagai aksi kekerasan.

BACA JUGA  ACT, HTI, dan Perselingkuhan Radikalisme

Begitu pula dengan pemuda radikalis, yakni mereka yang menjadikan loyalitas terhadap Islam sebagai legitimasi bertindak dengan kekerasan. Oleh karena mereka, islamofobia muncul dan mencemari integritas Islam sebagai agama moderat. Namun, sebagaimana Pancasila, yang salah bukan Islamnya, bukan pula ajarannya, melainkan tafsir keliru terhadap ajaran Islam itu sendiri. Imbasnya, istilah ‘islamis’ menjadi negatif sebagai sosok fundamentalis.

Pemuda Pancasila dan pemuda radikalis merupakan dua kutub ekstrem agama dan negara. Yang satu mengaku paling setia pada negara sampai-sampai membenarkan barbarisme, dan yang satunya lagi mengaku paling setia pada Islam hingga mencederai moderasi Islam karena tampil sebagai barbarian. Keduanya jelas-jelas harus dilawan, ditindak apabila mengancam persatuan. Pancasila dan Islam tidak boleh diperkosa untuk kepentingan komunitas tertentu.

Keduanya, Pemuda Pancasila dan pemuda radikalis, justru seharusnya saling mengisi. Menjadi pemuda yang konsekuen terhadap Pancasila, maka ia harus paham makna-mana silanya, sehingga tampak nilai ketuhanan, persatuan, kemanusiaan, dan kehidupan demokratis. Sebaliknya menjadi pemuda Islam yang baik, di negara ini, harus juga konsekuen pada Pancasila. Artinya dua kutub ekstrem tadi bisa melebur, asal tidak mengedepankan egoisme.

Jalan Tengah Pemersatu

Itulah jalan pemersatu yang akan menyelesaikan masalah. Arogansi dalam mencintai negara dan agama memiliki dampak buruk yang mesti segera dibenahi. Dalam konteks Pemuda Pancasila, agar integritas Pancasila tidak tercemar aksi-aksi barbar seperti yang terjadi kemarin. Dan dalam konteks radikalis, agar Islam tidak tertuduh sebagai agama kekerasan. Yang terbaik adalah berada di tengah, meruwat persatuan yang sepertinya semakin terancam.

Indonesia bukan bangsa dengan riwayat barbarian. Islam masuk ke negara ini menggunakan cara penetrasi damai (penetration pasifique) dan nirkekerasan. Pancasila sendiri juga terbentuk karena konsensus para tokoh nasionalis dengan sejumlah ulama ketika itu, sehingga menghasilkan poros tengah: Indonesia bukan negara Islam tapi bukan negara sekuler, melainkan negara hukum yang menjadikan Pancasila sebagai falsafah, ideologi, dan pedoman.

Apa yang dilakukan Pemuda Pancasila kemarin sangatlah tidak terpuji, sama tidak terpujinya dengan yang dilakukan radikalis Muslim dalam aksi-aksi anarkis seperti pengrusakan dan teror. Dua titik ekstrem barbarian tersebut harus ditindak tegas oleh aparat. Ini bukan untuk keamanan belaka, melainkan menghindari tuduhan ketidakadilan dari mereka yang tertindak sebagai radikalis.

Mau namanya Pemuda Pancasila, Pemuda Islam, atau apa, jika menjadi sosok barbarian dan mengancam persatuan bangsa, maka semuanya harus diberangus.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Mahasiswa SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru