28 C
Jakarta

Pemimpin Al-Qaeda Tewas, Haruskah Indonesia Siaga Aksi Terorisme?

Artikel Trending

Milenial IslamPemimpin Al-Qaeda Tewas, Haruskah Indonesia Siaga Aksi Terorisme?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Awal Agustus ini kita disuguhi dua kabar baik. Pertama, Pemimpin Al-Qaeda Ayman al-Zawahiri tewas dalam serangan drone Amerika Serikat di Afghanistan pada 31 Juli lalu. Kedua, mantan terpidana kasus terorisme, Abu Bakar Ba’asyir menyatakan dirinya kini setuju dengan ideologi Pancasila. Dua kabar tersebut tentu sama-sama mengejukan dan menyisakan sejumlah pertanyaan, di antaranya, haruskah Indonesia siaga dengan terjadinya aksi terorisme?

Untuk diketahui, al-Zawahiri adalah seorang ahli bedah asal Mesir yang menjadi salah satu teroris paling dicari di dunia. Ia diidentifikasi sebagai dalang serangan 9/11 di AS yang menewaskan hampir 3.000 orang. Al-Zawahiri telah melarikan diri dan mengambil alih Al-Qaeda setelah Osama bin Laden terbunuh di Pakistan pada 2011 silam. AS pun menawarkan hadiah USD 25 juta untuk nyawa al-Zawahiri. Setelah ia tewas kemarin, AS pun merasa operasi kontra-terorismenya selama ini sukses.

“Keadilan telah ditegakkan dan pemimpin teroris ini tidak ada lagi. Saya setuju serangan tepat memusnahkan dia dari medan perang,” kata Presiden AS Joe Biden, seperti dilansir CNN Indonesia.

Sementara mengenai Abu Bakar Ba’asyir yang setuju Pancasila, pihak keluarga menegaskan bahwa itu terjadi sudah sejak lama. Sang putra, Abdul Rochim Ba’asyir, menegaskan bahwa ayahnya tak pernah menolak Pancasila. Menurutnya, prinsip demikian sudah dipegang oleh Ba’asyir sejak lama, dan yang ia tolak dengan sekuat tenaga selama ini ialah Pancasila sebagai paham yang anti-Islam atau dibenturkan dengan Islam.

“Beliau (Abu Bakar Ba’asyir, red.) tolak jika Pancasila dibenturkan dengan Islam, sehingga upaya menegakkan syariat Islam di Indonesia dibenturkan dengan Pancasila. Itu yang beliau tolak. Jadi beliau melihat sila pertama Pancasila itu adalah bertuhan kepada Allah Swt,” tegas Rochim.

Lalu mengapa Indonesia perlu ditanya ihwal kesiapsiagaan dari terorisme karena hal tersebut? Ada dua alasan. Pertama, Ayman al-Zawahiri merupakan tokoh puncak Al-Qaeda pasca-Osama bin Laden. Ketika ia wafat, aksi balasan pasti dilakukan; entah kapan waktu dan di mana tempatnya. Bukankah peristiwa 9/11 dua dekade lalu juga berdampak pada Bom Bali? Kedua, Abu Bakar Ba’asyir merupakan teroris yang dekat dengan, bahkan menjadi representasi dari, Al-Qaeda di Indonesia.

Siaga dengan Kontra-Teror

AS sudah memperingatkan warganya, terutama yang bera di luar negeri, untuk waspada dengan aksi balasan Al-Qaeda. Artinya, AS sadar bahwa tindakannya membunuh pemimpin tertinggi Al-Qaeda akan memancing amarah Al-Qaeda di seluruh dunia. Apalagi, kelompok tersebut bukan militan abal-abal. Al-Qaeda adalah kelompok teroris paling militan dan mempunyai banyak cabang dan afiliasi di seluruh dunia. Di Indonesia, Jama’ah Islamiyah (JI) adalah salah satu afiliasinya.

Dalam aturan Al-Qaeda, jika pucuk pimpinan wafat, suksesi segera dilakukan. Tidak ada waktu berkabung, kepemimpinan harus menemukan penggantinya secepat mungkin demi kekuatan Al-Qaeda itu sendiri. Dalam laporan International Center for Counter Terrorism, al-Zawahiri akan diganti Saif al-Adel, komandan veteran Mesir dan anggota senior Al-Qaeda yang bekerja sama dengan Abu Musab al-Zarqawi dan mempunyai pengalaman luas soal operasi militer dan teror Al-Qaeda.

BACA JUGA  Habib Husein, Densus 88, dan Titik Terang Perdamaian

Namun, secara historis Adel lebih memilih tak menonjolkan diri dalam peran militer dan intelijen. Karena itu, spekulasi lain muncul bahwa kepemimpinan Al-Qaeda setelah al-Zawahiri akan dipegang oleh Abdul Rahman al-Maghribi menggantikan posisi al-Zawahiri. Siapa pun yang akan menggantikan al-Zawahiri, yang jelas ia tidak akan lebih lemah darinya. Artinya, berpikir bahwa setelah al-Zawahiri tewas Al-Qaeda akan lemah adalah salah fatal.

Karena itu, siaga dengan kontra-teror merupakan sesuatu yang niscaya. Di negara ini, kesiapsiagaan harus dilakukan sejumlah stakeholder, terutama BNPT dan Densus 88. Baiknya BNPT tidak sibuk dengan kegiatan yang terlalu formal, yang super birokratis, dan mengenyampingkan sesuatu yang teknis-empiris dari kontra-terorisme itu sendiri. Jika tidak, tragedi Bom Bali akan terulang, tanpa tahu mana lokasi dengan banyak turis AS berikutnya yang akan jadi sasaran teror.

Penting juga untuk dicatat, selama masa al-Zawahiri, Al-Qaeda tidak melakukan serangan teroris spektakuler di AS atau Eropa. Bagaimana jika pengganti al-Zawahiri mewariskan sikap agresif Osama bin Laden? Tidak salah lagi, AS membangunkan singa tidur, dan yang akan jadi amukan singa tersebut tidak hanya AS melainkan seluruh yang berkaitan dengan AS. Termasuk, yang paling rentan, adalah turis AS yang dalam anggapan Al-Qaeda adalah Salibis-kafir yang wajib dibunuh di mana pun berada.

Indonesia dalam Ancaman

Al-Qaeda memang satu organisasi, tetapi jihadisme yang terinspirasi dari Al-Qaeda di seluruh dunia jumlahnya tidak terhitung. Dalam konteks itu, Indonesia masuk radar yang mungkin akan terpancing dengan pembunuhan pemimpin Al-Qaeda di Afghanistan. Pada situasi ini, siap siaga aksi terorisme bisa memanfaatkan strategi Pentahelix dari BNPT yang melibatkan multipihak: pemerintah, akademisi, badan atau pelaku usaha, masyarakat atau komunitas, dan media.

Semuanya harus bersatu, berkoordinasi, serta berkomitmen untuk membentengi Indonesia dari segala ancaman ke depan. Edukasi masyarakat dengan dua pendekatan kontra-terorisme, hard approach dan soft approach, harus digalakkan. Siap siaga tersebut diorientasikan pada dua hal: mencegah terjadinya aksi terorisme di berbagai daerah di Indonesia dengan pengamanan yang ketat dan mengantisipasi masyarakat dari provokasi atas matinya pemimpin Al-Qaeda.

Lalu bagaimana dengan kabar ke-NKRI-an Abu Bakar Ba’asyir? Kabar tersebut, betapa pun menggembirakan, juga mesti kita sikapi dengan siap siaga. Sebab, dalam kultur jihadis, jika pucuk pimpinan dianggap keluar dari khitah organisasi, artinya tidak lagi mematuhi aturan kelompok untuk mengafirkan thaghut dan menentang bughat, maka para pengikutnya akan bertindak secara sporadis sebagai bentuk kekesalan.

Artinya, Indonesia sedang dalam bahaya dari peristiwa nasional dan internasional. Di ranah nasional, kita harus waspada dengan respons para pengikut Ba’asyir yang kecewa dengan keputusan pemimpinnya menyetujui Pancasila. Di ranah internasional, kita harus waspada dengan aksi balas dendam para milisi Al-Qaeda atas kematian pemimpin mereka. Terutama tempat wisata yang banyak turis, harus diperketat penjagaannya. Maka, atas semua ini, jawaban dari pertanyaan dari judul di atas adalah “jelas”.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Mahasiswa SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru