26.3 C
Jakarta
Array

Pembubaran HTI dalam Pandangan Intelektual, Pengamat, dan Budayawan

Artikel Trending

Pembubaran HTI dalam Pandangan Intelektual, Pengamat, dan Budayawan
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Cirebon. Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Astanajapura mengadakan diskusi publik bertema Gerak HTI Pasca-Perppu pada Jumat (6/10) di Annidzomiyah, Astanajapura, Kabupaten Cirebon.

Penulis buku Kontroversi Dalil-dalil Khilafah Muhammad Sofi Mubarok memaparkan kesalahan penggunaan dalil-dalil yang diklaim oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sebagai dalil tegaknya khilafah.

Intelektual muda Nahdlatul Ulama itu mengungkapan salah satunya, yakni makna ulil amri pada Al-Quran surat an-Nisa ayat 59. Kata tersebut oleh HTI dimaknai sebagai kepala negara. Padahal ulama menuliskan begitu banyak varian makna kata tersebut.

“Mereka tidak peduli apakah ulil amri itu tafsirannya banyak atau tidak, yang mereka pahami secara literal adalah kepala negara,” katanya.

Sementara itu, Komandan Densus 99 Nuruzzaman menyampaikan, bahwa bagi HTI Indonesia wajib diganti menjadi khilafah karena merupakan negara kafir.

“Bagi HTI Indonesia adalah negara kafir sehingga wajib diganti dengan sistem Islam yang bernama khilafah,” katanya.

Penyebaran ideologi HTI tetap akan terus berlangsung meski secara organisasi sudah dibubarkan melalui Perppu nomor 2 Tahun 2017. Mereka sedang melakukan lobi-lobi di beberapa lembaga negara. Oleh karenanya, Kang Zaman mengingatkan para peserta untuk mengajak diskusi orang-orang HTI, tidak malah mempersekusinya.

“Meskipun HTI dibubarkan, tapi penyebaran ideologi tetap ada dan akan berlangsung. Tugas kita adalah mendatangai dan mengajak diskusi bukan mempersekusi mereka,” lanjutnya.

Selain dari sudut pandang intelektual dan pengamat, diskusi yang dipandu oleh mahasiswa pascasarjana UNU Indonesia itu, juga menghadirkan budayawan Nahdlatul Ulama, yakni Abdullah Wong.

Sekjen PP Lesbumi NU itu menyampaikan, bahwa NU memikirkan problematika umat seperti yang dilakukan oleh Nabi beberapa saat sebelum beliau wafat. Tidak seperti kebanyakan orang saat ini yang fokus pada bagaimana pemimpin.

Oleh karena itu, penulis novel Mata Penakluk: Manaqib Abdurrahman Wahid itu mengatakan, bahwa bangsa Indonesia mesti bersyukur masih ada Nahdlatul Ulama.

Untuk membendung paham demikian, pria kelahiran Brebes itu juga menganjurkan NU Cirebon untuk membuat direktori kiai. Artinya, membuat manakib, perjalanan hidup para masyayikh Cirebon seperti yang pernah dilakukannya dalam membuat perjalanan hidup seorang Gus Dur.

Hal ini dilakukan agar dapat memberikan gambaran perjuangan para kiai sehingga dapat meningkatkan ghirah, semangat menebarkan ajaran Islam moderat, ummatan wasatha.

Syakirnf

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru