31.7 C
Jakarta

Pembelaan Kelompok Separatis di Tengah Isu Penggelapan Dana ACT

Artikel Trending

Islam dan Timur TengahIslam dan KebangsaanPembelaan Kelompok Separatis di Tengah Isu Penggelapan Dana ACT
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Setelah diangkat menjadi tema utama di Majalah Tempo, tetiba heboh di kalangan media sosial penyelewengan dana Aksi Cepat Tanggap (ACT). Tidak heran jika bermunculan dan menjadi trending hashtag #AksiCepatTilep dan #JanganPercayaATC di Twitter.

Ceritanya begini. ACT yang dijadikan sebagai lembaga untuk penggalangan dana atau donasi untuk orang-orang yang membutuhkan, seperti korban bencana alam, orang yang tidak mampu, dan lain sebagainya, donasi yang terkumpul tidak diberikan secara utuh kepada yang membutuhkan.

Mirisnya, donasi yang terkumpul di ACT sekitar miliaran rupiah diraup oleh orang-orang ACT sendiri. Disebutkan dalam berita yang beredar di media sosial, bahwa petinggi ACT sendiri mendapat gaji perbulan senilai kurang lebih 250 juta. Gaji sebesar itu mengalahkan gaji Presiden dan menteri-menterinya.

Tidak perlu diperdebatkan lagi, benar dan tidaknya apa yang dilakukan orang-orang ACT. Semua orang akan mengatakan perbuatan orang-orang ACT keliru, karena mengambil uang donasi itu sama dengan mencuri atau korupsi. Karena, donasi itu semestinya disalurkan kepada tujuannya.

Yang paling penting diketengahkan di tengah isu ACT adalah dugaan kelompok Islam garis keras bahwa naiknya isu ACT merupakan pengalihan dari naiknya isu perdamaian yang dilakukan oleh Presiden Jokowi terhadap dua negara yang berseteru Ukraina dan Rusia beberapa hari yang lalu. Kelompok separatis ini menyinggung semua ini tak lepas dari kelakuan para buzzer.

Kelompok separatis tidak menerima dengan naiknya isu ACT dan secara tidak langsung menutupi isu perdamaian Presiden Jokowi disebabkan beberapa petinggi ACT adalah bagian dari mereka. Salah satunya, Ustaz Bachtiar Nasir yang kemarin menyatakan tegaknya sistem Khilafah pada momen Pilpres 2024 nanti.

Kelompok separatis memang selalu mengatasnamakan Islam. Mereka merasa apa yang dilakukan mendapat legitimasi dari agama Islam. Padahal, Islam yang semestinya sebagaimana diajarkan oleh Kanjeng Nabi bukan seperti yang mereka pahami dan praktekkan. Nabi berislam dengan pemikiran yang terbuka (inklusif) dan lemah lembut. Coba perhatikan dakwah Nabi selama hidupnya.

BACA JUGA  Melawan Politik Licik Kelompok Radikal, Pasti Bisa!

Nabi tidak pernah memerangi umatnya dalam berdakwah selama mereka tidak memerangi terlebih dahulu. Nabi sesungguhnya tidak menginginkan adanya peperangan dalam dakwah karena dapat mengakibatkan pertumpahan darah dan perpecahan antara umat beragama. Perhatikan cara Nabi merespon dengan lemah lembut ajakan kaum kafir Quraisy untuk berserikat dalam keyakinan: “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku”. (QS. al-Kafirun: 6).

Sampai di sini, ini menjadi teguran kepada kelompok separatis yang terlalu membenci pemerintah karena kepentingan politik di masa depan. Seharusnya, mereka dapat mendudukkan segala persoalan dengan bijak dan benar. Maksudnya, sesuatu yang jelas-jelas salah tidak boleh dicari celah pembenarannya. Isu ACT yang nyata salahnya tidak butuh dicari pembenaran sebagai cara buzzer menghilangkan isu terjadi pada pemerintah atau apalah.

Mengakui kesalahan memang tidak mudah kecuali orang yang dibukakan hati berada dalam jalan kebenaran. Masih ingat kisah Umar bin Khattab yang mengaku kesalahan dirinya sendiri di depan publik? Satu lagi, pernah baca cerita Imam Malik yang terang-terangan mengatakan tidak tahu terkait beberapa hukum, meski beliau sendiri dikenal seorang mujtahid?

Sebagai penutup, penyelewengan dana ACT tetap diputuskan bersalah, meskipun dicarikan pembenarannya. Tidak perlu diperdebatkan lagi. Tugas orang ACT mengembalikan dana itu sesuai dengan fungsinya dan meminta maaf kepada publik, bahwa mereka bersalah. Tidak perlu malu. Bagaimana jika mereka nanti dipermalukan di hadapan Tuhannya?[] Shallallah ala Muhammad.

Khalilullah
Khalilullah
Penulis kadang menjadi pengarang buku-buku keislaman, kadang menjadi pembicara di beberapa seminar nasional

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru