31.4 C
Jakarta

Pembakaran Al-Qur’an: Islamofobia atau Politik Dendam?

Artikel Trending

Milenial IslamPembakaran Al-Qur’an: Islamofobia atau Politik Dendam?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Ratusan warga di Stockholm menggelar protes terhadap Turki dan upaya Swedia masuk NATO, Sabtu (21/1) kemarin. Politisi sayap kanan Swedia, Rasmus Paludan melakukan aksi pembakaran Al-Qur’an di depan Kedubes Turki di ibukota Swedia. Sontak aksi Paludan menuai kecaman internasional. Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) juga mengutuk keras pembakaran Kitab Suci yang, konon, mendapat izin dari aparat setempat.

Paludan belum memberikan pernyataan atas aksi brutalnya. Dalam izin yang ia peroleh dari polisi, ia menyebut protesnya dilakukan terhadap Islam dan apa yang disebut upaya Presiden Turki Tayyip Erdogan untuk memengaruhi kebebasan berekspresi di Swedia. Turki marah dan mengecam. Bagaimana bisa persoalan politik, yakni karena Turki tidak setuju Swedia gabung NATO, dibalas dengan pembakaran Al-Qur’an—menyinggung Muslim sedunia.

“Kami mengutuk sekeras mungkin serangan keji terhadap kitab suci kami. Mengizinkan tindakan anti-Islam ini, yang menargetkan umat Islam dan menghina nilai-nilai suci kami, dengan kedok kebebasan berekspresi sama sekali tidak dapat diterima,” kata Kemenlu Turki, Minggu (22/1). Beberapa negara Arab termasuk Arab Saudi, Yordania dan Kuwait juga mengecam pembakaran Al-Qur’an. Islamofobia dan politik dendam tidak bisa dibiarkan.

Sementara itu, Menlu Swedia Tobias Billstrom mengatakan, provokasi Islamofobia sangat mengerikan. Sikap tersebut sama dengan tanggapan Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson, yang mengecam pembakaran Al-Qur’an dan menyebutnya sangat tidak sopan. Sebagai akibat tindakan Paludan, hubungan Swedia dengan Turki semakin memanas. Izin yang dituntut pada Turki agar Swedia masuk NATO juga akan terkendala.

Namun demikian, terlepas dari situasi politik Turki dengan Swedia, pembakaran Al-Qur’an dengan motif dendam politik adalah aksi terkutuk. Ia mewujud sebagai islamofobia yang merugikan umat Islam dan kerukunan antarumat beragama. Ketika aksi Paludan dikecam termasuk oleh Kemenlu RI dan masyarakat Indonesia ada yang bereaksi dengan demonstrasi geruduk Kedubes Swedia, timbullah pertanyaan: sebenarnya itu islamofobia atau politik saling dendam belaka?

Kebencian Antarumat

Ketika umat Kristiani merasa tersinggung dengan perilaku oknum Muslim, Islam langsung dicap agama teroris—agama yang mengajarkan kekerasan. Islamofobia pun seketika marak di mana-mana, menyudutkan umat Muslim dan mematikan kran kerukunan beragama. Begitu pula, ketika sementara kelompok Islam merasa tersudut, mereka melakukan balas dendam secara politis. Ketersalingan kebencian dirawat sedemikian, menghantui setiap pemeluk agama.

Kapan lingkaran setan itu akan berhenti? Konflik di sejumlah daerah sering kali disebabkan gesekan antarumat. Kasus etnis Rohingya di Myanmar, minoritas Uighur di China, konflik Hindu di India, hingga Yahudi di Israel adalah beberapa contoh bahwa kebencian antarumat masih menjadi masalah utama. Nahasnya, Islam selalu menjadi korban. Ditambah lagi pembakaran Al-Qur’an di Swedia, kebencian demi kebencian terjadi dan itu tidak bisa dibiarkan.

Islamofobia dan politik dendam sebenarnya memiliki irisan yang kuat. Kendati begitu, keduanya bisa dibedakan. Jika penyebabnya adalah tragedi-tragedi teror yang pelakunya kebetulan Muslim, atau buku-buku anti-Islam yang memotret Islam secara tidak adil, maka itu islamofobia. Tetapi jika penyebabnya adalah kebijakan politik seperti yang demonstran Swedia lakukan; membalas Turki dengan menghina agama Erdogan, itu namanya politik dendam.

Alih-alih menyelesaikan masalah, politik dendam justru semakin memperdalam kebencian antarumat. Pembakaran Al-Qur’an tidak akan membuat Turki mengubah kebijakannya menghambat Swedia gabung NATO, justru membuat dunia Islam sedunia memandang Swedia sebagai negara rasis dan penuh kebencian. Untuk dianggap islamofobia mungkin tidak. Namun yang jelas, aksi semacam itu pada akhirnya akan memantik islamofobia terutama di Swedia itu sendiri.

Islamofobia maupun politik dendam hanya soal motif. Pada dasarnya, pembakaran Al-Qur’an tidak dibenarkan karena memperbesar kebencian antarumat. Setelah kasus kemarin, umat Islam akan marah dan suatu waktu mereka akan melakukan hal yang sama. Bendera Swedia dibakar di depan Kedubes Swedia di Turki, dan di Indonesia, massa PA 212 berencana geruduk Kedubes Swedia. Jadi terlepas dari motifnya, apa untungnya kebencian antarumat? Tidak ada.

Sudahi Kebodohan

Pembakaran Al-Qur’an merupakan aksi emosional. Kendati PM Swedia ikut mengecam tindakan Paludan, tapi aksinya tidak hanya memperburuk citra Swedia karena aparat mendukung Paludan, tapi juga mencontreng Islam dengan merebaknya islamofobia ke depan. Ada kebijakan politik tidak sesuai kehendak yang dianggap berasal dari negara pemeluk Islam seperti Turki, balasannya pasti tak jauh dari. Bakar Al-Qur’an, hina Nabi, dan lainnya.

Aksi pembakaran Al-Qur’an yang Paludan lakukan memang tidak terpuji, namun yang lebih barbar adalah aparat yang mengizinkannya. Masing-masing pemeluk agama akan marah jika simbol mereka direndahkan. Jika Alkitab dibakar, Kristen akan marah. Jika Weda dibakar, umat Hindu tidak akan menoleransi pelakunya. Jika Tripitaka dibakar, umat Buddha akan marah besar. Begitu juga dengan penganut Konghucu, akan naik pitam jika Si Shu dibakar.

Dan jika aksi bakar-membakar kitab suci marak, kerukunan antarumat akan jadi utopia belaka. Yang ada adalah saling menjegal antara satu negara dengan negara lain, satu umat dengan umat lain, dan satu agama dengan agama-agama lainnya. Politik dendam akan menguasai dunia dan islamofobia akan semakin besar. Dan yang sangat penting diperhatikan, pembakaran Al-Qur’an hanya satu contoh saja. Jika dibiarkan, suatu hari mungkin masjid, gereja, pura, dan lainnya akan jadi sasaran bakar juga.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Mahasiswa SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru