30.2 C
Jakarta

Pemahaman Nasionalisme yang Luput dari Aktivis Khilafah

Artikel Trending

KhazanahTelaahPemahaman Nasionalisme yang Luput dari Aktivis Khilafah
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com- Apa yang bisa kita tunjukkan untuk menggambarkan sebuah hubungan? Baik kepada manusia ataupun relasi dengan Allah? Salah satunya adalah sebuah kebanggaan dalam diri atas hubungan yang terjalin. Bangga sebagai seorang muslim dengan manifestasi melakukan segala bentuk perintah Allah dan menjauhi segala larangannya. Sama halnya dengan ketika kita bekerja, bukan persoalan gaji dan jenjang karir yang akan diberikan oleh sebuah perusahaan, akan tetapi loyalitas yang dimiliki oleh karyawan dalam mengembangkan organisasi.

Artinya, rasa kepemilikan dan kecintaan terhadap sesuatu, baik hubungan dengan manusia, ataupun kepada komunitas/lembaga sangat penting dimiliki oleh seseorang. Hal ini menjadi pijakan/dasar dalam melakukan kegiatan atau aktivitas yang didasari pada ketetapan dari organisasi yang berjalan. Fenomena ini juga termasuk pada hubungan kita dengan negara. Kebanggaan dan kecintaan yang dimiliki oleh kita sebagai bangsa Indonesia, sangat penting.

Kecintaan terhadap tanah air ini, selanjutnya diistilahkan dengan nasionalisme. Nasionalisme menjadi modal dasar pembentukan negara dan karakter bangsa. Kalau dipahami lebih jauh, nasionalisme menghargai pluralisme, humanisme, dan menjunjung tinggi hak hak asasi manusia. Konsep nasionalisme seperti itulah yang disebut sebagai nasionalisme.

Beberapa orang justru menganggap bahwa nasionalisme adalah sesuatu yang anti terhadap Islam dan sangat jauh dari pandangan Islam. Hal ini karena menilik dari pemahaman yang disampaikan oleh Jorg Haider, seorang pemimpin partai politik sayap kanan Austria yang anti terhadap imgran ataupun nasionalisme yang ditampilkan oleh Gianfranco Fini, pimpinan partai koalisasi yang memerintah Italia pada tahun 1994.

Nasionalisme yang ditampilkan oleh kedua tokoh di atas adalah nasionalisme sempit yang tidak memiliki nilai-nilai kemanusiaan, keadilan dan kesetaraan. Sehinggga hanya mementingkan satu kelompok saja dan memberikan dampak negatif kepada kelompok lain. Akan tetapi, tidak dengan konsep nasionalisme yang bisa kita wujudkan untuk Indonesia.

Sartono Kartodirjo, sejarawan Indonesia, memiki konsep nasionalisme dengan pijakan 5 prinsip, di antaranya: unity (kesatuan) yang merupakan syarat yang tidak bisa ditolak, liberty (kemerdekaan) termasuk kemerdekaan untuk mengemukakan pendapat, equality (persamaan) bagi setiap warga untuk mengembangkan kemampuannya masing-masing, personality (kepribadian) yang terbentuk oleh pengalaman budaya dan sejarah bangsa, dan performance dalam arti kualitas atau prestasi yang dimiliki oleh bangsa Indonesia sesuai dengan minat dan kemampuan yang dimilikinya.

Melihat prinsip yang dikemukakan oleh Sartono Kartodirjo, kita akan memahami bahwa, nasionalisme dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara sejalan dengan nilai-nilai Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi kasih sayang dan kemanusiaan. Kesetaraan yang menganggap semua martabat kemanusiaan dalam setiap individu, adalah sesuatu yang tidak terbantahkan pada ajaran Islam.

Konsep dasar nasionalisme yang sejalan dengan Islam

Islam dengan kebangsaan adalah dua hal yang berbeda. Para aktivis khilafah yang menolak nasionalisme karena berasal dari ide Barat, belum memiliki kemampuan berpikir realitas yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Dalam menjelaskan Islam dengan kebangsaan, ada dua perspektif yang bisa dikemukakan, di antaranya:

Pertama, pluralisme dalam persatuan. Islam dan nasionalisme memiliki hubungan yang positif. Artinya, Islam memiliki pengalaman panjang dalam konteks hubungan negara dan bangsa. Terbentuknya nasionalisme bisa dilihat dari pengalaman Nabi Muhammad ketika membentu negara Madinah. Pengalaman ini tidak bisa dibantahkan oleh realitas yang dihadapi oleh Rasulullah ketika memperjuangkan dakwah Islam agar bisa diterima oleh bangsa Arab pada waktu itu. Dengan melihat sejarah ini, maka secara kritis kita tidak bisa menolak sejarah perjalanan dalam makna kepemilikan terhadap sebuah negara yang ditempati oleh kita semua.

Kedua, melalui perspektif universalisme. Pemaknaan ini merujuk pada agama yang bermakna universal. Islam tidak membatasi peruntukan bagi wilayah geografis dan etnis tertentu. Akan tetapi, Islam tidak pernah menafikan kenyataan bahwa, setiap orang memiliki afiliasi terhadap tanah air dan daerah tertentu. Dalam penjelasan yang lebih luas, Islam tidak bertanah air, akan tetapi sebagai umat Islam bertanah air. Dan menjaga kehormatan tanah air, adalah kewajiban bagi setiap muslim.

Kewajiban ini didasari pada nilai-nilai nasionalisme yang sama sekali tidak bertentangan dengan Islam. Apalagi, di tanah air ini kita dilahirkan, memperoleh penghidupan dan kehidupan yang layak sebagai manusia. Maka seyogyanya untuk berterima kasih, hal utama yang bisa dilakukan adalah menjunjung tinggi tanah air. Kalaupun tidak ingin mengistilahkan dengan sebutan nasionalisme, setidaknya kita memiliki kebanggaan terhadap tanah air karena sudah memberikan kehidupan yang layak kepada kita sebagai manusia. Wallahu a’lam

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru