Pelajaran dari Khabib Nurmagomedov


0
3 shares
Foto: Harakatuna

Dunia, tanpa terkecuali Indonesia, masih ramai membicarakan nama petarung bebas UFC (Khabib Nurmagomedov). Khabib menjadi perhatian dan perbincangan publik lantaran aksi hebatnya menaklukkan Conor McGregor dalam pertandingan Ultimate Fighting Championship (UFC) 229 yang digelar di T-Mobile Arena, AS, belum lama ini.

Ketika menyimak duel Khabib dengan Conor dalam UFC kali ini sungguh dramatis. Terlebih sebelum acara ini berlangsung, kedua belah kubu saling adu pendapat bahwa merekalah yang paling kuat, bahkan sampai-sampai mengarah pada provokasi. Bumbu-bumbu sebelum pertandingan digelar itulah yang turut menjadikan laga kali ini semakin menegangkan, bak senam jantung.

Walhasil, Khabib berhasil mengalahkan Conor McGregor lewat submission (kuncian), tepatnya dengan rear naked choke (cekikan) di ronde keempat. Sebelum Khabib mengakhir pertandingan ini, pada ronde pertama Khabib berkali-kali memukul bagian kepala Conor, sehingga membuat Conor kalang-kabut, namun Conor masih bisa bertahan.

Pada ronde kedua, pKhabib masih menguasasi pertandingan, meskipun sedikit mendapatkan perlawan dari Conor. Pada menit pertama, Conor langsung ditekan Khabib, yakni dengan dibanting di lantai. Muka merah pun tampak menyilimuti wajah Conor. Namun, Conor masih bisa berdiri.

Pada ronde ketiga, Conor nyaris tak berkutik. Artinya, Khabiblah yang menguasi pertandingan. Akhirnya, pada ronde keempat, Conor menjadi bulan-bulanan Khabib. Dari sinilah, Khabib menyudahi pertandingan ini. Kemenangan Khabib kali ini juga memperpanjang rekornya, selalu menang dalam 27 laga di ajang Mixed martial art (MMA).

Belajar dari Khabib

Selain kehebatan Khabib yang mampu mengalahkan Conor, masyakat dunia juga dihebohkan dengan aksi Khabib. Ya. Di ujung pertandingan ada insiden di mana Khabib melompat pagar oktagon dan menyerang kru McGregor.

Sebagaimana yang telah diutakan langsung oleh Khabib, bahwa aksinya tersebut lantaran kru McGrogor menghina agama, negara, dan ayah Khabib. Dalam bahasa kita, aksi tersebut merupakan serangan yang menerabas batas-batas kemanusiaan karena sudah merambah pada ranah privasi, yakni rasis.

Baca Juga:  Sejarah Shalat Tarawih

Provokasi-provokasi seperti inilah yang harus dihindari, terutama dalam konteks menjelang dan waktu kompetisi, bahkan juga pasca kompetisi. Meskipun banyak yang menyayangkan aksi Khabib, namun tak sedikit yang mengapresiasi, bahkan membela Khabib.

Peristiwa Khabib sejatinya memberikan sejuta pelajaran bagi kita semua, terutama masyarakat Indonesia. Setidaknya ada beberapa pelajaran penting dari Khabib.

Pertama, stop provokasi. Dalam sebuah kompetisi, perlawanan harus dimaknai dengan fair; bahwa kalah harus diterima dengan lapang dada. Sementara jika memang, maka harus dimaknai sebagai hasil prestasi dan jangan merendahkan, apalagi mengejek lawan.

Namun, yang lazim terjadi adalah, bahwa sebuah kompetisi adalah arena antara lawan yang beradu keuatan. Sementara, sportifitas adalah hal yang tak begitu diindahkan. Walhasil, segala cara pun ditempuh guna menjegal dan mengalahkan lawan, salah satu cara tersebut adalah melakukan provokasi.

Sekali lagi, Khabib, dengan segala kekurangannya, adalah manusia belaka. Jika ayahnya dilecehkan beserta agama dan negaranya secara terang-terangan, maka secara langsung libidonya akan mersepon sebagai bentuk reaksi atas ketersinggungan yang diciptakan. Walhasil, ia akan diluapkan dalam bentuk kemarahan.

Atas kejadian itu, petarung asal Rusia tersebut buka suara. Sebagaimana dikutip dari berbagai media, Khabib dengan tegas dan ksatria mengungkapkan permintaan maafnya. “Saya meminta maaf epada Komisi Atletik Nevada dan para penonton di Las Vegas. Saya sadar betul ini bukanlah ‘sisi’ terbaik saya, namun saya tegaskan lagi saya juga seorang manusia,

Kedua,  stop rasisme. Setelah insiden, Khabib lantas menandaskan bahwa apa yang ia lakukan ketika itu tidak lain dan tiada bukan adalah sebagai luapan secara spontas atas laku rasisme yang dilakukan oleh McGregor dan Kru-nya. Tak berhenti di sini, Khabib juga mengutarakan kejanggalannya.

Baca Juga:  Menabuh Genderang Melawan Penyebar Hoax Atas Nama Agama

“Saya sebenarnya heran banyak yang menyoroti tindakan saya menyerang tim McGregor. Saya jelaskan di sini, mereka melecehkan saya, agama, negara, dan ayah saya, Tandas Khabib.”

Bagiamana pun dan dalam kondisi apapun itu, terlebih dalam ranah publik, menghina ras, agama atau bahkan keluarga adalah perbuatan yang “biadab”, bahkan bisa disebut sebagai pengecut.

Ihwal ras dan sejenisnya itu sangat sensitif. Kita bisa melacak sejarah manusia, bahwa ada jutaan bahwa milyaran orang yang rela mati karena membela agama dan negaranya. Oleh sebab itulah, laku rasisme dikutuk oleh dunia karena efek kerusakan yang akan ditimbulkan sangat besar.

Dalam konteks Indonesia, provokasi dan rasisme berpotensi menjamur, terlebih ketika pada tahun politik. Kira-kira gambaran Khabib vs McGregor ini bak Pilpres 2019 nanti. Maka, sudah saatnya segenap rakyat Indonesia membuka matanya lebar-lebar atas peristiwa Khabib vs Conor ini. Tentu dengan harapan agar provokasi dan rasisme tidak menjadi komoditi politik. Sehingga, pemilu akan damai, masyarakat tidak terpolarisasi dan konflik. Inilah pelajaran dari Khabib bagi rakyat Indonesia.


Like it? Share with your friends!

0
3 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
1
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
1
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.