29.6 C
Jakarta

Peace Leader Indonesia, Kampanye Pemuda Cinta Damai dan Anti Kekerasan

Artikel Trending

KhazanahPerempuanPeace Leader Indonesia, Kampanye Pemuda Cinta Damai dan Anti Kekerasan
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Peran pemuda sangat berpengaruh dalam pembangunan negara. Di Indonesia, para pemuda-pemudi bersatu padu mempersatukan Nusantara yang terdiri dari banyak suku, ras dan bahasa, sehingga tercetuslah Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.

Selain itu, sejarah mengatakan bahwa terjadinya pembacaan Proklamasi pada 17 Agustus 1945 oleh Ir. Soekarno, juga tidak lepas dari peran pemuda. Peristiwa Rengasdengklok yang dilakukan oleh sejumlah pemuda, seperti Sayuti Malik, Chaerul Saleh, Soekarni dan Wikana, mengantarkan Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan.

Semangat juang pemuda terdahulu sangat luar biasa. Begitupun dengan pemuda masa kini yang tergabung dalam komunitas Peace Leader Indonesia. Komunitas pemuda lintas agama ini tersebar di berbagai kota di Pulau Jawa, seperti: Jember, Surabaya, Madura, Yogyakarta, Bandung dan Jakarta.

Berdiri sejak 8 tahun yang lalu, Peace Leader konsisten menyuarakan pesan damai dan anti kekerasan kepada anak muda di seluruh penjuru Indonesia.

Banyak program dan kegiatan yang telah dilakukan Peace Leader, diantaranya: Peace Goes to School, Peace Goes to Campus, Peace Service, Ngo-peace (Ngobrol Perdamaian) dan advokasi terkait isu perdamaian dan kesetaraan gender.

Program dan kegiatan tersebut menyasar masyarakat di lembaga pendidikan, seperti: siswa, mahasiswa, guru, dosen, dinas pendidikan, kementerian pendidikan, kementerian agama, dan lembaga masyarakat lainnya.

Peace Goes to School dan Peace Goes to Campus adalah program yang mengenalkan anak muda dari tingkatan sekolah dasar sampai perguruan tinggi terkait keberagaman dan toleransi antar umat beragama. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan sifat dan sikap tenggang rasa agar anak muda tidak kaget untuk menerima segala perbedaan yang ada.

Sedangkan Peace Service, adalah kegiatan berkunjung atau silaturahmi, sekaligus bersih-bersih rumah ibadah. Tidak hanya masjid, tetapi juga gereja, klenteng, vihara dan pura. Adapun Ngo-Peace, selama pandemi Covid-19 dilakukan secara daring yang mana sebelumnya diadakan secara offline di kafe-kafe.

Tema diskusi Ngo-Peace ialah isu-isu yang sedang menjadi perbincangan publik, dan melibatkan juga tokoh-tokoh public sebagai pembicara. Misalnya, dari Komnas Perempuan, Kementerian, dan gerakan-gerakan lainnya yang fokus terhadap isu yang sama.

Adapun terkait advokasi yang dilakukan para pemuda Peace Leader Indonesia, adalah sosialisasi terkait isu toleransi dan keberagaman, pendampingan bagi penyintas kekerasan atau kelompok minoritas, dan kampanye di sosial media yang bisa dilihat di akun Instagram @peaceleader_Indo, dan Facebook Peace Leader.

Cerita di balik semangat juang dan kerja-kerja baik pemuda yang tergabung dalam Peace Leader Indonesia, salah satunya adalah pengabdian yang dilakukan oleh Nur Kholifah, atau yang akrab dipanggil Olive, anggota Peace Leader Surabaya.

Sejak 2019, ia menjadi relawan yang mengajar di sekolah darurat, yang didirikan untuk kelompok Syiah asal Sampang, yang mengungsi di rumah susun Jemundo, Sidoarjo.

BACA JUGA  Kesetaraan Gender di Pondok Pesantren, Mengapa Tidak?

Dengan menempuh jarak kurang lebih satu jam dari Surabaya, setiap minggunya Olive menyempatkan waktu, tenaga dan materi untuk mengajar di sekolah darurat tersebut disela-sela kesibukan kuliahnya.

Atas dasar kemanusiaan dan persaudaraan, Olive melanjutkan pengabdiannya yang bermula hanya menjadi relawan, kemudian menjadi guru tetap selama hampir 3 tahun. Kepercayaan kelompok Syiah terhadap Olive yang berbeda pemahaman dengan mereka, terbentuk karena nilai-nilai Peace Leader yang ia terapkan.

Nilai-nilai dan prinsip Peace Leader ialah inklusif, toleransi, kesetaraan gender, keberpihakan, solidaritas, keterbukaan, anti diskriminasi, anti kekerasan, integritas, keberlanjutan, kerelawanan, dan penerimaan terhadap perbedaan.

Selain itu, Koordinator Nasional Peace Leader Indonesia, Redy Saputro juga aktif terlibat dalam berbagai kegiatan kepemudaan, budaya dan sosial, sejak menempuh pendidikan di bangku SMA. Pemuda kelahiran Bondowoso, 07 Mei 1992 yang berdarah Tionghoa ini telah mendapatkan banyak prestasi.

Adalah Pemuda Pelopor Jember di bidang bela negara tahun 2013, Duta Pemuda Bondowoso, Pemuda Berprestasi Jember tahun 2014/2015, Penghargaan Pemuda Utama Jawa Timur tahun 2020, dan yang baru saja diraih adalah Ikon Prestasi Pancasila dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) kategori Penggerak Lintas Iman tahun 2021.

Jiwa semangat para pemuda agen perdamaian ini semakin membara saat diadakannya Workshop Strategic Planning di Omah Petruk, Yogyakarta. Pada tanggal 23-26 November 2021 lalu, Peace Leader memperkuat visi, misi dan arah gerakan pemuda yang difasilitasi oleh AMAN (Asian Moslem Action Network) Indonesia.

Workshop tersebut sebagai wadah untuk merefleksikan dan mengevaluasi program-program Peace Leader 5 tahun terakhir. Disamping itu, ide-ide inovatif dan progresif juga dituangkan dalam forum oleh seluruh perwakilan anggota Peace Leader di berbagai wilayah di Pulau Jawa.

Hasil dari kegiatan tersebut yakni, komitmen Peace Leader Indonesia untuk bersama-sama menciptakan masyarakat di lembaga pendidikan yang terbuka, ramah terhadap keberagaman dan perempuan, melalui peran aktif pemuda yang bermakna, sehingga mewujudkan keamanan dan persatuan, demi kemajuan Negara Keasatuan Republik Indonesia.

Tak hanya itu, kegiatan ini juga memperkuat relasi antar sesama anggota Peace Leader lintas wilayah, sehingga terbentuk rasa kekeluargaan, dan loyalitas yang tinggi. Kemudian, akan lebih banyak lagi anak muda yang turut andil menyuarakan perdamaian dan kesetaraan gender.

Bayangkan, jika semakin banyak anak muda yang sadar dan tergerak untuk menyuarakan nilai-nilai dan prinsip Peace Leader Indonesia, maka konflik sosial di masyarakat semakin berkurang. Dunia akan terasa lebih aman dan nyaman bagi semua manusia, meskipun dari berbagai latar belakang dan identitas yang berbeda.

Gerakan anak muda nyatanya tidak bisa dianggap hal yang remeh. Seperti yang pernah dikatakan Bapak Proklamasi Indonesia, Ir. Soekarno. “Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”.

Yuyun Khairun Nisa
Yuyun Khairun Nisa
Mahasiswi Program Studi Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember. Saat ini tergabung dalam komunitas Puan Menulis.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru