26.9 C
Jakarta

Para Tokoh Khilafatul Muslimin Ditangkap, Tokoh HTI Kapan?

Artikel Trending

Milenial IslamPara Tokoh Khilafatul Muslimin Ditangkap, Tokoh HTI Kapan?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Polda Metro Jaya masih terus mengejar para tokoh Khilafatul Muslimin. Setelah dilakukan serangkaian penyelidikan pasca-ditangkapnya Abdul Qadir Baraja, polisi menangkap lagi empat orang berinisial AA, IN, FA, dan SW, yang juga menjadi tokoh sentral. Tokoh terakhir, SW, bahkan ditangkap polisi di Bekasi saat dirinya sedang berdagang mie ayam. Karena itulah, penangkapan yang masif tersebut mendapat tanggapan banyak pihak, terutama dari Khilafatul Muslimin sendiri.

Amir Khilafatul Muslimin wilayah Bekasi, Abu Salma menyayangkan penangkapan terhadap para tokoh Khilafatul Muslimin tersebut. Menurutnya, polisi terlalu cepat mengambil keputusan, karena seharusnya anggota-anggota Khilafatul Muslimin diberikan edukasi lebih dulu, juga pemahaman-pemahaman terkait hal-hal yang menjerat pidana, atau apa pun yang berujung pada kegaduhan. Ia berharap polisi dan pemerintah lebih kooperatif dan transparan dalam kasus ini.

Selain itu, Abu Salma mengatakan masih belum ada upaya pembelaan yang dilakukan organisasinya atas penangkapan tersebut, karena belum ada kemampuan pendampingan hukum. Namun demikian, Khilafatul Muslimin membuka kepada pihak-pihak yang ingin memberikan pendampingan hukum, baik Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Pusat Bantuan Hukum (Pusbakum), Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), atau bahkan Amnesty International.

Sejujurnya, Khilafatul Muslimin tidak memiliki kekuatan signifikan. Ini sebagaimana diakui Budi Waluyo, eks-anggota NII yang juga pernah menjadi anggota Khilafatul Muslimin. Dalam diskusi yang digelar Program Studi Kajian Terorisme SKSG Universitas Indonesia bertajuk “Negara Islam Indonesia (NII), Dahulu, Kini dan di Masa Mendatang”, Selasa (14/6) kemarin, Waluyo menegaskan bahwa Khilafatul Muslimin sangat lemah.

“Mereka (Khilafatul Muslimin, red.) orang jujur. Abdul Qadir Hasan Baraja kalau bicara, sederhana, beda dengan ustaz Abu (Abu Bakar Baasyir, red.). Ustaz Abu bisa memompa orang, beliau (Abdul Qadir Hasan Baraja, red.) tidak. Beliau ‘abid, ahli ibadah. Adapun sosialisasi khilafah itu umum. Hizbut Tahrir lebih dahsyat lagi. Kalau menjelang Ramadhan, mereka (HTI, red.) pakai bendera atau yang lainnya, konvoi,” jelas Budi Waluyo, sembari menyanggah Khilafatul Muslimin disebut Neo-NII.

HTI Ingin Selamat

Apa yang Budi Waluyo sampaikan tentu saja bukan menentang penangkapan para tokoh Khilafatul Muslimin, melainkan otokritik kepada aparat kepolisian; mengapa mereka membiarkan tokoh-tokoh HTI—yang propagandanya lebih besar—berkeliaran, sementara Khilafatul Muslimin diberedel habis-habisan. Sebab faktanya, pergerakan HTI lebih masif. Para penyebar propaganda khilafah dari HTI justru lebih masif dari Khilafatul Muslimin. Jadi, mengapa para propagandis tersebut dibiarkan?

Konsep kekhilafahan antara Khilafatul Muslimin dengan HTI berbeda. HTI lebih agresif karena ia merupakan partai transnasional, sementara Khilafatul Muslimin lebih sebagai dakwah ortodoksi Islam. Karenanya, adalah wajib untuk menindak HTI secara totalitas, tidak hanya dengan mencabut badan hukumnya sementara para tokoh penyebar propagandanya berkeliaran bebas. Kalau Khilafatul Muslimin semua tokohnya ditangkap, maka tokoh HTI juga tidak boleh ada yang selamat.

BACA JUGA  Menuju Idul Fitri; Menggapai Kemenangan Melawan Radikalisme dan Terorisme

Pemerintah jelas mesti lebih lihai melihat pergerakan HTI di media sosial dan website yang jika dibandingkan, pergerakan Khilafatul Muslimin tidak ada apa-apanya. HTI punya Ismail Yusanto, sang ulama andalan yang sebenarnya bukan ulama sungguhan. HTI juga punya Felix Siauw, ustaz yang mondar-mandir menebarkan khilafah. Juga punya Aab Elkarimi, intelektual muda yang mengidolakan Ismail Yusanto, Felix Siauw, dan dedengkot HTI lainnya.

Cerdasnya, kamuflase HTI terbilang sukses. Di ruang publik, HTI itu tidak ada, karena yang mereka sebarkan adalah ‘keniscayaan tegaknya khilafah ajaran Islam’, tanpa menampakkan identitas asli bahwa khilafah yang dimaksud ialah Khilafah Tahririyah yang ingin merombak demokrasi, Pancasila, dan NKRI. HTI ingin selamat dengan taktik kamuflase, dan dengan itu pula aparat jadi kecolongan. Spirit khilafah jadi tidak terbendung, Khilafatul Muslimin jadi satu-satunya kambing hitam.

Bahaya Para Propagandis

Khilafatul Muslimin memang wajib diperiksa, dan para tokohnya mesti ditangkap sebagai bahan investigasi sejauh mana ancaman mereka terhaap NKRI. Dalam konteks ini, penangkapan Abdul Baraja dan yang lain sudah tepat. Namun demikian, penting juga untuk dicatat bahwa konvoi Khilafatul Muslimin tidak lebih besar pengaruhnya daripada propaganda-propaganda HTI di MuslimahNews dan TikTok. HTI benar-benar membidik para generasi milenial.

Dunia jejaring menjadi struktur mobilisasi HTI, sebuah taktik propaganda yang kekinian. Sementara itu, Khilafatul Muslimin masih memakai cara konvensional, yakni konvoi motor, yang dengan sangat mudah terlacak kepolisian. Alih-alih mendapat massa simpatisan, Khilafatul Muslimin justru bak rusa berparade ke sarang singa, jadi santapan aparat. Bayangkan HTI yang propagandanya di-like dan di-comment ratusan ribu orang, malah mereka aman-aman saja.

Mana yang lebih berbahaya? Pada intinya para propagandis semuanya berbahaya, karena selain apa yang mereka propagandakan menyalahi NKRI, efek setelahnya—yaitu menggaet dukungan umat Islam terutama milenial—sangat besar. Tetapi HTI memegang porsi keriskanan yang lebih tinggi karena sasaran mereka generasi milenial. Satu-dua dasawarsa ke depan, ketika generasi hari ini jadi pemangku kebijakan, otak mereka semua telah kerasukan khilafah.

Sementara itu, para tokoh Khilafatul Muslimin sudah pada sepuh. Dua puluh tahun ke depan, mereka sudah tidak ada, dan boleh jadi Khilafatul Muslimin sendiri sudah sirna. Fakta tersebut mengindikasikan keniscayaan aparat kepolisian untuk bertindak cepat terhadap para tokoh HTI, sebagaimana sigapnya mereka terhadap Khilafatul Muslimin. Menangkap para tokoh Khilafatul Muslimin adalah pengamanan masa kini, tetapi membiarkan para tokoh HTI berkeliaran? Jelas, perusakan masa depan.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Mahasiswa SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru