31.7 C
Jakarta

Pantaskah Bahar bin Smith Disebut Ulama?

Artikel Trending

KhazanahOpiniPantaskah Bahar bin Smith Disebut Ulama?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Siapa yang tidak kenal Habib Bahar bin Smith? Saya pikir setiap orang mengenalnya, setidaknya pernah mendengar namanya. Ada yang menyebut dan memanggilnya dengan didahului titel ‘habib’, namun tidak sedikit yang langsung menuliskan atau mengucapkan namanya saja tanpa embel-embel itu. Masalah? Bagi sebagian orang ya, masalah. Tetapi bagi sebagian yang lain, tentu tidak sama sekali.

Belakangan ini, beliau santer diberitakan di mana-mana, dari media kecil hingga sang maestro, semua membicarakannya. Wajar, mereka mencari berita. Kalau tidak begitu, ya tentu tidak ramai. Semakin ramai, semakin mujur masa depan portal tersebut, bukan? Keuntungan bagi sang habib, ada? Jelas, banyak.

Dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas banyak. Saya hanya ingin memberikan bisikan halus terhadap para pembaca yang budiman perihal status keulamaan Habib Bahar ini. Artikel ini dibuat semata untuk mengkaji dan menimbang keulamaan beliau yang belakangan banyak dijadikan alasan oleh para pendukungnya.

Kriteria Ulama Menurut Ulama

Bermodalkan sebuah tulisan al-Numair bin Muhammad al-Shabar pada tahun 2018, ia memberikan beberapa batasan bagaimana seseorang dapat dititeli dengan titel ‘ulama’. Sedikitnya terdapat 9 kriteria sederhana seseorang boleh disebut ulama, yaitu sebagai sebagai berikut:

  1. Berpegang teguh pada sunah Nabi Muhammad saw serta amalan para sahabatnya. Ini merupakan poin penting bahkan tidak hanya bagi ulama, melainkan bagi seluruh umat Islam yang beriman. Sunnah mencakup perkataan Nabi yang penuh hikmah dan pesan perdamaian, perbuatan dan tindakan yang mendatangkan kemaslahatan dan ketetapan yang membawa keadilan.
  2. Senantiasa menjauhi perkara bid’ah yang salah.
  3. Yakin dan sabar. Kriteria yang ketiga ini menjadi kunci utama saat seorang ulama berdakwah dan menyampaikan nilai-nilai agama terhadap umat. Kalau kedua poin ini tidak terpatri dalam hati, bahaya. Apalagi emosinya tinggi, menggebu-gebu sehingga kerap berlebihan dalam berkata, lebih bahaya. Korban nyata tiada lain ialah umat.
  4. Senantiasa berpegang teguh terhadap ketetapan Allah dalam segala sesuatu dan mengikuti ketetapan hakim. Apapun yang Allah perintahkan wajib dilaksanakan. Apa pun yang Allah larang wajib ditinggalkan. Selain itu, ulama juga mesti patuh atas segala keputusan hakim dalam setiap perkara. Keliru jika ulama membawa pengikutnya ke area persidangan yang berdampak pada kerusuhan dengan dalih menuntut keadilan.
  5. Takut kepada Allah swt. Mudah diucapkan tapi sangat sukar dijalankan. Bukti takut kepada Allah yang paling konkret ialah bertakwa kepada-Nya di manapun berada, baik saat ada orang lain maupun saat sendirian. Meyakini bahwa Allah merupakan pencipta sejati dapat membantu seseorang merasa takut kepada-Nya.
  6. Melakukan sesuatu yang dibutuhkan oleh ilmu pengetahuan. Dalam arti lain, memberikan kebermanfaatan nyata untuk lingkungan sekitar, orang banyak dan masa depan peradaban.
  7. Arif dan bijaksana. Seorang ulama dituntut memiliki sikap ini. Bagaimana dengan pihak yang tengah kita takar? Sertakan jawaban para pembaca di kolom komentar.
  8. Paham ilmu fikih. Nampaknya ini perlu diperhatikan betul. Tugas ulama tidak sekedar mengomentari hal-hal yang dianggap memberatkan terhadap dirinya sendiri melainkan urusan fikih umat. Memahami fikih ibadah dan fikih muamalah adalah dua di antaranya banyaknya jenis fikih yang perlu dikuasai para ulama.
  9. Istiqamah dalam memberikan ilmu terhadap umat dan mencari ilmu tiada henti. Menjadi ulama tidak serta merta meliburkan dirinya untuk tetap belajar, justru sebaliknya, semakin alim maka semakin harus rajin ia belajar.
BACA JUGA  Benarkah Gabung NU Bisa Membuat Kita Selamat dari Ekstremisme?

Dari sembilan kriteria yang ditawarkan ini, apakah kapasitas keulamaan Bahar bin Smith sudah bisa ditimbang tau masih abu-abu? Rasa-rasanya, berdasarkan paparan ini, menjadi ulama sama sekali bukan perkara mudah.

Sangat banyak celah untuk bisa mulus disebut sebagai ulama. Kita sebagai umat pinggiran, cukup mengakui bahwa ilmu dan keberkahan ilmu itu nyata adanya.

Azis Arifin
Azis Arifin
Mahasiswa Magister Pengkajian Islam SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru