33.6 C
Jakarta

Pangeran Arab Saudi: Riyadh Dukung Palestina

Artikel Trending

Habib yang Menjamur

Dulu, saat saya kecil, di jalan-jalan tidak pernah terpampang baliho. Suasana damai sekali, bahkan tatkala gaduh pun, ya, paling itu karena persoalan biasa. Tidak...

Rizieq Shihab Mati Langkah?

Pesta penyambutan kepulangan Rizieq Shihab berubah menjadi bencana bagi masa depan perjuangan politik Rizieq Shihab dan kawan-kawan. Belum genap satu bulan menginjak kaki di...

Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi Menurut Islam

Tali pusar adalah jalan yang menghubungkan antara ibu dan bayinya ketika masih dikandungan. Tali pusar ini berfungsi untuk menyalurkan makanan dan oksigen dari ibu...

Ampuhnya Doa Orang Puasa

Berbicara tentang manjurnya doa orang puasa sejenak kita akan langsung tertuju pada sebuah hadis dalam Sunan Ibnu Majah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr...

Makna Rahmat dalam Al-Qur’an Al-Karim

Rahmat terdiri dari tiga huruf râ’, hâ’, dan mîm. Menurut Ibnu Faris dalam Maqâyîs al-Lughah setiap kata Arab yang berakar dari tiga huruf râ’,...

Relasi Iman, Keadilan dan Demokrasi ala Cak Nur

Nurcholish Madjid, atau yang biasa dipanggil Cak Nur, dikenal luas sebagai salah satu cendekiawan Muslim terbesar di Indonesia. Pemikirannya merupakan suatu usaha untuk mencari...

Bagaimana Hukum Memberi Nasehat dalam Islam?

Tahukah kalian, mengapa agama merupakan suatu nasehat? Kehidupan seseorang bisa berubah dengan nasehat anda. Jalan kehidupan seseorang juga bisa berubah sedemikian baik lantaran duduk...

Presiden Soekarno, Waliyul Amri Dhoruri Bi-Syaukah

Presiden Soekarno, Waliyul Amri Dhoruri Bi-Syaukah Usai Kuliah Subuh, para santri yang menonton tayangan Khazanah dari sebuah stasiun televisi terlibat kegaduhan karena saling berkomentar tentang...

Harakatuna.com. Riyadh – Pangeran Arab Saudi, Bandar bin Sultan, mengatakan Riyadh mendukung perjuangan Palestina, tetapi bukan para pemimpinnya. Mantan kepala intelijen Saudi ini sebelumnya mengecam para pemimpin Palestina karena menolak langkah Uni Emirat Arab (UEA) melakukan normalisasi hubungan dengan Israel.

Bandar bin Sultan adalah pangeran senior yang juga mantan Duta Besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat (AS). “Menurut pendapat pribadi saya, dengan semua peristiwa yang telah terjadi di seluruh dunia, kita berada pada tahap di mana alih-alih peduli dengan bagaimana menghadapi tantangan Israel untuk melayani perjuangan Palestina, kami harus memperhatikan keamanan dan kepentingan nasional kami,” katanya kepada Al Arabiya pada hari Rabu (7/10/2020).

Pada bagian ketiga dan terakhir dari wawancara dengan media Arab Saudi tersebut, Pangeran Bandar mengecam para pemimpin Palestina saat ini. Dia kesal karena para pemimpin Palestina memilih untuk bersekutu dengan Iran dan Turki ketimbang sekutu tradisional mereka di dunia Arab.

Pangeran Arab Saudi Kecam Pemimpin Palestina Penolak Normalisasi UEA-Israel. Seorang Pria Arab Saudi Dipenjara karena Menghina Ulama “Para pemain baru muncul, mengklaim bahwa mereka melayani perjuangan Palestina dan bahwa perjuangan Palestina adalah prioritas mereka, dan bahwa Yerusalem adalah tujuan pertama mereka,” katanya.

“Ini adalah negara-negara seperti Iran dan Turki, dan para pemimpin Palestina menganggap Teheran dan Ankara lebih tinggi daripada Riyadh, Kuwait, Abu Dhabi, Dubai, Manama, Oman, Muscat, dan Kairo,” papar Pangeran Bandar.

Pandangan Riyadh pada Palestina

Pemerintah Iran telah mengadakan acara tahunan sejak Revolusi Islam 1979 yang disebut “Hari Quds”, yang dimaksudkan untuk mengungkapkan dukungan bagi rakyat Palestina. Sementara itu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah berjanji untuk membebaskan Yerusalem dari Israel.

Pangeran Bandar menegaskan kembali dukungan Kerajaan untuk Palestina, tetapi menjelaskan bahwa dia tidak menganggap kepemimpinan Palestina untuk mewakili perjuangan Palestina.

“(Para pemimpin Palestina yang menyangkal dukungan Arab Saudi untuk tujuannya) ini tidak akan memengaruhi keterikatan kami pada perjuangan rakyat Palestina. Tapi dengan orang-orang ini (para pemimpin) sulit untuk mempercayai mereka dan melakukan sesuatu untuk perjuangan Palestina dengan mereka,” katanya.

Komentarnya muncul saat dia menguraikan apa yang dia gambarkan sebagai “kegagalan” bersejarah dari kepemimpinan Palestina, yang dia katakan telah menerima dukungan Arab Saudi secara cuma-cuma.

Dalam dua bagian wawancara sebelumnya, Pangeran Bandar menguraikan peran kepala Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) Yasser Arafat dalam membuat frustrasi upaya Arab Saudi untuk mengamankan kesepakatan damai di Washington pada 1970-an dan 1980-an.

Di bagian tiga wawancara, Pangeran Bandar menjelaskan bagaimana Arafat telah menandatangani Perjanjian Oslo pada 1993, meskipun telah membatalkan kesepakatan sebelumnya yang berisi persyaratan yang sama. Dia juga menyuarakan kekesalannya pada Arafat yang diduga merusak Kesepakatan Camp David 2000, yang ditolak oleh pemimpin Palestina itu.

“Saya ingin menangis, hati saya terbakar melihat bagaimana kesempatan hilang lagi dan mungkin untuk yang terakhir kalinya, seolah-olah saya sedang melihat film diputar di depan mata saya,” katanya.

“Kesempatan datang, dan itu hilang. Setelah hilang, kami menyetujui apa yang kami tolak, dan kami menaruhnya di atas meja. Lalu orang berkata bahwa tidak ada apa-apa di atas meja, dan seterusnya, berulang kali. Seperti kata pepatah, dengan pengulangan Anda menjadi lebih pintar,” ujarnya.

Menurutnya, ketika inisiatif yang dipimpin oleh Pangeran Abdullah dan Pangeran Bandar hampir membuahkan hasil di bawah pemerintahan Bush, serangan 11 September 2001 menggagalkannya pada menit terakhir.

Pangeran Bandar menjabat sebagai sekretaris jenderal Dewan Keamanan Nasional Saudi dari 2005 hingga 2015 dan kepala intelijen nasional Kerajaan dari 2014 hingga 2016.

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Pandemi Covid-19 Tak Kurangi Ancaman Radikalisme

Harakatuna.com. Jakarta-Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menyebut pandemi virus korona (covid-19) tidak menghentikan ancaman radikalisme dan terorisme. Hal itu terjadi di...

Serial Kebangsaan (I): Spirit Kebangsaan dan Kelalaian FPI

Sekitar semingguan kemarin, saya dapatkan sebuah buku yang cukup menarik dan tentunya masih relevan dibaca di era sekarang, apalagi buku ini baru saja launching....

Bom Mobil Meledak di Afghanistan, 30 Petugas Keamanan Tewas

Harakatuna.com. Ghazni-Sebuah mobil berisi bom meledak di Provinsi Ghazni, Afghanistan. Setidaknya 30 aparat keamanan tewas akibat ledakan tersebut. Seperti dilansir Reuters, Senin (30/11/2020), Direktur Rumah...

Uang Kertas Mengalami Perubahan Nilai, Bagaimana dengan Mekanisme Pembayaran Hutang?

Sudah kita ketahui bersama bahwa seiring perubahan zaman maka berubah pula nilai sebuah mata uang. Terdapat beberapa kasus yang memiliki inti permasalahan sama, yakni...

Eks Napiter, Haris Amir Falah Sebut Paham Radikalisme Mengancam Pancasila

Harakatuna.com. Solo – Munculnya paham radikalisme ekstrem yang tersebar di wilayah Indonesia mengancam Pancasila dan kedaulatan NKRI. Hal ini perlu diantisipasi, mengingat mereka telah...

Wanita dalam Pusaran Aksi Radikalisme dan Terorisme

Berbagai aksi terorisme dan radikalisme dalam beberapa dasawarsa ini kain “subur” terlebih di era milenial ini. Bergama aksi teror di Indonesia semakin banyak terjadi...

Hayya ‘Alal Jihad, Mari Berjihad Berantas FPI!

Boleh jadi, setelah membaca tulisan ini, atau sekadar membaca judulnya saja, Hayya ‘Alal Jihad, sementara orang akan berkomentar: “Bocah kemarin sore kok mau bubarkan...