Pandangan Orientalis Terhadap Al-Qur’an dan Respon Sarjana Lain


Pada Umumnya perkembangan kajian orientalis terhadap al-Qur’an  mulai berkembang sejak abad ke 12 hingga sekarang,  menurut Fadzlur Rahman kajian orientalis  terhadap al-Qur’an dibagi menjadi tiga bagian yaitu: pertama kajian Orientalis yang menyinggung tentang keterpengaruhan isi al-Qur’an oleh tradisi Yahudi dan Kristen, yang kedua kajian Orientalis mengkaji  tentang aspek historis dan esensitas keotentikan Al-Qur’an, yang ketiga yaitu kajian orientalis tentang tema-tema tertentu dalam al-Qur’an.[1] Penelitian Studi al-Qur’an oleh Orientalis hingga sekarang terus berkembang, sampai pada penyebutan kajian Orientalis diubah menjadi kajian Quranic studies, karena pada zaman sekarang anggapan terhadap kajian orientalis mengindikasikan hal bersifat negaitif padahal tidak seluruhnya berisi anggapan yang negatif tetpapi hal positif juga. Studi kritis atas Bible dari perjanjian lama dan baru yang pada saat itu berkembang, sebagian Orientalis menggunakan metode studi kritis itu untuk diterapkan terhadap al-Qur’an, golongan Orientalis yang pertama menggunakan metode historis-Kritis (Historical critical approaches) ini adalah Abraham Geiger (m. 1874), dari tradisi Bible ke studi al-Qur’an, Geiger ini seorang rabbi dari agama Yahudi di Jerman. Dalam karyanya yang berjudul Was hat Mohammed aus dem Judenthume aufgenommen? Geiger menjelaskan bagaimana  isi al-Qur’an terkena doktrin-doktrin Yahudi, kata Geiger sumber-sumber al-Qur’an bisa dilacak berasal dari Yahudi sedangkan sumber kristen lebih sedikit.[2] Para Orientalis dalam kajian bidang kebahasaan al-Qur’an mereka berpendapat al-Qur’an dipengaruhi oleh kosakata-kosakata asing, kemudian pandangan Geiger juga menyebutkan kosakata ibrani sangat berpengaruh terhadap al-Qur’an, seperti kata Jahannam, Thagut, Ma’un, Malakut, Jannatu, Tabut, Taurat, Dsb[3].

Setelah munculnya Abraham Geiger mucul sarjana Orientalis yaitu Theodore Noldeke, Noldeke ini mempunyai padangan terkenalnya yaitu menerapkan metode Historis-Kritiknya dalam ruang lingkup Bible terhadap al-Qur’an, dengan karyanya Geschichtevdes Qorans  (Sejarah al-Qur’an) karyanya ini diterbitkan pada tahun 1860, karyanya pun diapresiasi dari banyak kalangan orientalis seperti Atrthur Jeffery (seorang kristen Metodis) dia mengatakan bahwa karya Noldeke ini menjadi karya pertama yang membahas sejarah al-Qur’an[4](15) Noldeke ini terkenal dengan julukan kepada Noldeke ini sebagai The Father of Historical Criticism of The Qur’an.[5] Noldeke dalam penelitianya menggunakan dua pendekatan yang pertama kritik sumber, dan analisis filologis, dia menerapkam kritis sumber ini untuk menganalisis secara detail sumber-sumber kisah dalam al-Qur’an kemudian membandingkannya dengan al-Kitab perjanjian lama, sedangkan analisis Filologinya dia menerapakan metode dengan mencari lebih dalam istilah-istilah yang digunakan al-Qur’an yang bersumber pada kitab-kitab yang datang lebih dulu.[6] Noldeke berpendapat bahwa Muhammad itu salah menerapkan ungkapan atau kosakata dalam bahasa Aramaik, dia mencontohkan seperti kata Fuqon dalam al-Qur’an  dalam bahasa Arab diartikan “wahyu” sedangkan menurut Noldeke diartikan sebagai “penebusan” kata lain juga seperti millah ia berpendapat bahwa seharusnya bermakna “kata” sedangkan dalam al-Qur’an dimaknakan “agama”.[7] Kemudian kata Noldeke, kalimat “laa illaha illa Allah”. Kalimat ini menurut-Nya di adopsi Muhammad melalui kitab Samoel II, 32:22, Mazmur 18:32.” Dsb.[8]

William Muir ia temasuk pakar Modern setelah Abraham Geiger dan Theodore Noldeke, gagasannya adalah Muhammad mengambil ajaran Yahudi dan kristen melalui keterhubungan atau interaksi Muhammad ketika berada di Makkah, Madinah, Ukaz, dan juga ketika Muhammad bepergian berdagang di Syiri’a, semasa kecil nabi pernah melihat tempat ibadah orang Yahudi Madinah dan mendengar ibadah mereka.[9]

Luxenberg dan kajian Syirio-Aramaik-nya, ia adalah warga jerman yang berkebangsaan Lebanon penganut agama kristen, ia memunculkan karya yang berjudul “Cara membaca al-Qur’an dengan bahasa Syiriak-Aramaik: Die Syiro-aramaesche Lesart des KoranEin beitrag zur Entschluesselung der Koransprache) dalam pandangannya bahasa al-Qur’an sebenarnya adalah bukan dari bahasa arab tetapi dipengaruhhi oleh bahasa Syiria Aramaik sehingga banyak kosakata bacaan yang keliru dan sulit difahami tutur-Nya.[10]Kemudian ia juga menggunakan analisis Filologis bahasa Syiriak adalah karena  melihat perbedaan-perbedaan bacaan dalam al-Qur’an (Qira’ah) seperti pada kosakata (قران ) “Qur’an yang difahami oleh sarjana muslim dan barat itu adalah kata benda (masdar)  dari kata Qara’a (membaca) atau qarana (menghubungkan) Luxenbreg menganggapnya keliru yang benar yaitu dari bahasa Syiriak-Aramaik yang berarti ajaran litugi dari Injil Kuno, contoh lainya adalah kata (قسورة ) “qaswarah” dalam Qs. al-Mudatsir:51) yang harusnya dibaca qasuurah., kata “Sayyi’at (Qs. al-Nisa:18) seharusnya dibaca “Saniyyat” dari bahasa Syiriak “sanayata” dsb.  Kata Luxenbreg tidak hanya kosakatanya saja yang berasal dari Syiriak-Aramik tetapi ajarannya juga diambil dari tradisi Yahudi kristen.[11]

Baca Juga:  Radikalisasi Indonesia Meng- copy-paste Radikalisme Suriah

Tanggapan Para Sarjana lain.

Apa yang telah disampaikan oleh para Orientalis tersebut mendapat sanggahan dari beberapa ulama, baik ulama priode klasik maupun konteporer, pendapat ulama klasik yang menolak bahwa al-Qur’an meminjam atau mengadopsi dari bahasa asing di antaranya adalah Imam al-Syafi’I (204/820), Abu Ubaidah (209/825), ibn Jarir at-Thabari (w. 310/923) dan Ibn Faris (w. 395/1004). Salah satu alasan argumenya yaitu al-Qur’an sudah jelas diturunkan menggunakan bahasa Arab, ( Qs. Yusuf:2, Qs: al-Ra’d :7, Qs. an-Nahl :103, Qs. Taha :103, Qs. al-Syu’ara:195, Qs. al-Zumar:28, Qs. Fussilat :3 Qs. az-Zukhruf: 3 Qs. al-Ahqof : 12. Mereka beralasan karena dalam al-Qur’an sudah jelas dipaparkan bahwa al-Qur’an menggunakan bahasa arab, tetapi ada beberapa argumen lain yang mengatakan bahwa jika asal-muasal kosakata asing itu, ketika digunakan dalam al-Qur’an maka kosakata itu sudah dengan sendirinya terarabkan, Abu Ubayd mengatakan “ asal-Muasal huruf ini sebagaimana para Fuqoha sebutkan berasal dari bahasa lain, namun huruf-huruf itu digunakan oleh orang arab maka dengan sendirinya kosakata/huruf-huruf itu ter-Arabkan maksudnya kata-kata asing itu menjadi kata-kata arab.[12] Pendapat ulama kontemporer dari Syed Muhammad Naquib al-Attas adalah apabila al-Qur’an menggunakan kosakata dari bahasa asing seperti Yahudi dan Kristen bukan berarti Islam mengalami ketergantungan terhadap-Nya. Selain itu beliau berpendapat bahwa makna dari kosakata itu tidak harus dimaknai sesuai dengan kosakata asal/sumber asal (dalam al-Kitab), kemudian juga mengatakan bahwa Islam membawa ajaran baru, oleh karena itu al-Attas mengatakan bahasa arab al-Qur’an adalah bahasa arab dalam bentuk baru, walaupun kosakata yang sama dalam al-Qur’an telah digunakan sebelumnya tidak berarti memiliki peran dan konsep yang sama.[13] Menurut sefaham penulis mungkin argumen-argumen tersebut kurang tepat/tidak sinkron  dengan apa yang sedang dibicarakan orientalis karena orientalis mengkritik al-Qur’an berdasarkan suatu metode penelitian ilmiah sedangkan para ulama klasik menanggapinya berdasarkan alasan teologis semata.

Sarjana Orientalis yang menanggapi positif atas  pemikiran sarjana timur dan barat atas kajianya terhadap al-Qur’an seperti Dr. Tyler, ia adalah orientalis dari Jenewa, bahwa al-Qur’an berbeda dengan kitab Samawi lainya, dan didalamnya tidak bertentangan antara satu dengan yang lain itu membuktikan bahwa semua kitab Samawi sebelum al-Qur’an itu mempunyai sanad. Dilihat dari lafal-lafal yang ada kemiripannya tidak diragukan lagi bahwa itu semua berasal dari Tuhan.[14] Menurut Adian Husaini banyaknya unsur bahasa Syiriak-Aramaik dalam al-Qur’an bukanlah suatu hal yang aneh, karena setiap bahasa- apalagi bahasa serumpun, seperti Arab, Hebrew, Syiriac mereka akan saling menyerap, sehingga banyak kosakata yang identik.[15] Kemudian sanggahan Syamsuddin Arief seorang peneliti Orientalisches dalam Seminar di Frankfrurt Jerman memberikan sanggahan ilmiahnya terhadap  teori Luxenbreg terhadap al-Qur’an yang mengatakan berbeda-beda Qira’at (bacaan dalam al-Qur’an), dan apakah benar al-Qur’an bergantung pada Rasm-Nya dsb, Syamsuddin disini mengutip analisis dari Prof. Hans Daiber seorang pakar Semistik, semua ahli Filologi yang mengkaji manuskrip Arab. memang sering kali kata yang tidak ada tanda harkat, titik, dan lain-lain (gundul) dapat dibaca dengan bermacam-macam bacaan sehingga tulisan yang sama dapat dibaca berbeda. Maka sesuai kehendak, keadaan serta spekulasi si pembaca, sedangkan al-Qur’an yang diteliti oleh Luxemberg adalah al-Qur’an yang sudah disepakati seluruh bacaanya, dari pernyataan itu dapat dipertanyakan apakah Luxemberg melakukan penelitian sesuai metodologi dan prosedur yang dipakainya cukup ilmiah apakah hanya sebjektifitas saja.[16]  Bantahan ulama Muslim lainya yaitu

Baca Juga:  Eks-ISIS, Dipulangkan atau Tidak?

Shabur Syahin, Qira’at pada dasarnya adala vgh cara nabi dalam membaca al-Qur’an yang bersangkutan dengan prinsip umum maupun prinsip yang bersifat parsial, jadi tulisan arab bukanlah penyebab lahirnya Qira’at. Akan tetapi adanya perbedaan Qira’at sangat membantu untuk mendalami qira’at-qira’at yang shahih dengan situasinya pada saat penulisan mushaf Ustmani mislanya tidak ada syakal, dan titik.[17]

Dan apabila al-Qur’an diturunkan dan terpisah dari keadaan realitas dan fenomena masyarakat yang ada saat al-Qur’an itu turun maka bagaimana al-Qur’an itu akan mudah difahami secara baik? Bagaimana jika al-Qur’an tidak dijelaskan secara rasionalitas dengan hanya memberikan cerita-cerita bahwa semisal ada seorang nabi yang mendapat risalah dari Tuhan dsb tanpa adanya penegasan rasional, maka sangat sedikit yang akan mempercayainya. Intinya adanya keterpengaruhan al-Qur’an oleh Nasrani, Yahudi dan tradisi arab Jahiliyyah itu malah semakin menegaskan keunggulan al-Qur’an. Isi al-Qur’an menyapa masyarakat yang mempunyai keadaan yang beragam dan tentunya al-Qur’an tidak keluar dari hukum-hukum kasunyatan (cultural based ) masyarakatnya.[18]

Menghadapi Fenomena seperti ini, tentunya sikap yang bijak  adalah kritits positif bukan apologetis terlebih dalam dunia akademis. Sekalipun para Orientalis bekerja untuk kepentingan kolonialisme dan penaklukan dunia islam. Namun demikian tidak semua Orientalis seburuk apa yang dibayangkan dan dicurigai oleh umat islam, Apalagi dunia sudah terbuka tanpa batas akses informasi mudah diperoleh, sehingga statmen-statmen para orientalis bisa dirujuk dan dibuktikan ke sumber-sumber aslinya. Dalam konteks ini tiada salah mencermati dan merenungkan perkataan ‘Ali bin Abi Thalib:Unzur maa  qaalaa walaa tanzur man qaala. [19]

Ma’rifah Ladzuni

[1] M. Nur Kholis Setiawan, Sahiron  Syamsuddin dkk, Orientalisme al-Qur’an dan Hadits (Nawesea Press (center for the study of islam in Nort America, Western Europa and Southeast Asia Press), okt, 2007), hlm 62.

[2] Muzayyin, Tesis : “PENDEKATAN HISTORIS-KRITTIS DALAM STUDI AL-QUR’AN (Stdi Komparatif Tergadap Pemikiran Theodore Noldeke dan Athur Jeffery), (Yogyakarta: Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga, Studi Agama dan Filsafat Kosentrasi Studi al-Qur’an dan Hadits, 2015),  hlm 8.

[3] Andi Asdar Yusup, “METODE BIBLE DALAM PEMAKNAAN AL-QUR’AN (Kajian Kritis Terhadap Pndangan Orientalis)”, Hunafa : Jurnal Studia Islamika, Vol. 13, No. 1, Juni 2016: 35-36. Hlm 152.

Baca Juga:  Aqidah Hizbut Tahrir Bukan Ahlusunnah wal Jamaah, tapi Qadariyah

[4] Muzayyin, Tesis : “PENDEKATAN HISTORIS-KRITTIS DALAM STUDI AL-QUR’AN (Stdi Komparatif Tergadap Pemikiran Theodore Noldeke dan Athur Jeffery), (Yogyakarta: Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga, Studi Agama dan Filsafat Kosentrasi Studi al-Qur’an dan Hadits, 2015),  hlm 15.

[5]  Aramdhan Kodrat Permana, “ Neal Robinson ‘s Criticism of Noldek’s Thedory of The Chronology of  The Qur’an, Skripsi,  Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, 2012 hlm 13.

[6] Muzayyin, Tesis : “PENDEKATAN HISTORIS-KRITTIS DALAM STUDI AL-QUR’AN (Stdi Komparatif Tergadap Pemikiran Theodore Noldeke dan Athur Jeffery), (Yogyakarta: Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga, Studi Agama dan Filsafat Kosentrasi Studi al-Qur’an dan Hadits, 2015),  hlm 16

 

[7] Andi Asdar Yusup, “METODE BIBLE DALAM PEMAKNAAN AL-QUR’AN (Kajian Kritis Terhadap Pndangan Orientalis)”, Hunafa : Jurnal Studia Islamika, Vol. 13, No. 1, Juni 2016: 35-36. Hlm 153.

 

[8] M. Muzayyin, Joernal “al-Qur’an menurut pandangan Orientalis (Studi Pengaruh dalam pemikiran Orientalis): Reseacher and Graduate Student at UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, vol. 16, NO. 2, Juli 2015. Hlm 216.

[9] M. Muzayyin, Joernal “al-Qur’an menurut pandangan Orientalis (Studi Pengaruh dalam pemikiran Orientalis): Reseacher and Graduate Student at UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, vol. 16, NO. 2, Juli 2015. Hlm 218.

[10] M. Muzayyin, Joernal “al-Qur’an menurut pandangan Orientalis (Studi Pengaruh dalam pemikiran Orientalis): Reseacher and Graduate Student at UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, vol. 16, NO. 2, Juli 2015. Hlm 157.

[11] Khaeruddin Yusuf, “ Orientalis dan Duplikasi al-Qur’an  (Telaah dan Sanggahan atas Karya Christoph Luxenberg): Hunafa: Jurnal Studia Islamika, Vol. 9, No. 1 Juni 2012 :149-170. Hlm 157-158.

[12] Khaeruddin Yusuf, “ Orientalis dan Duplikasi al-Qur’an  (Telaah dan Sanggahan atas Karya Christoph Luxenberg): Hunafa: Jurnal Studia Islamika, Vol. 9, No. 1 Juni 2012 :149-170..Hlm 155

[13]Khaeruddin Yusuf, “ Orientalis dan Duplikasi al-Qur’an  (Telaah dan Sanggahan atas Karya Christoph Luxenberg): Hunafa: Jurnal Studia Islamika, Vol. 9, No. 1 Juni 2012 :149-170.Hlm 156.

[14] Khaeruddin Yusuf, “ Orientalis dan Duplikasi al-Qur’an  (Telaah dan Sanggahan atas Karya Christoph Luxenberg): Hunafa: Jurnal Studia Islamika, Vol. 9, No. 1 Juni 2012 :149-170.Hlm 160.

[15] Khaeruddin Yusuf, “ Orientalis dan Duplikasi al-Qur’an  (Telaah dan Sanggahan atas Karya Christoph Luxenberg): Hunafa: Jurnal Studia Islamika, Vol. 9, No. 1 Juni 2012 :149-170. Hlm 165.

[16]  Khaeruddin Yusuf, “ Orientalis dan Duplikasi al-Qur’an  (Telaah dan Sanggahan atas Karya Christoph Luxenberg): Hunafa: Jurnal Studia Islamika, Vol. 9, No. 1 Juni 2012 :149-170. Hlm 163.

[17] Agus Darmawan, “Mengkritisi Orientalis yang Meragukan Otentisitas Qur’an” : Sekolah Tinggi Islam YPBWI Surabaya : EL-BANAT , Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam, Vol 6, No. 1, Januari-Juni 2016. Hlm 108.

[18] M. Nur Kholis Setiawan, Sahiron  Syamsuddin dkk, Orientalisme al-Qur’an dan Hadits (Nawesea Press (center for the study of islam in Nort America, Western Europa and Southeast Asia Press), okt, 2007), hlm 65-66

[19] M. Nur Kholis Setiawan, Sahiron  Syamsuddin dkk, Orientalisme al-Qur’an dan Hadits (Nawesea Press (center for the study of islam in Nort America, Western Europa and Southeast Asia Press), okt, 2007), hlm 66.

 


Like it? Share with your friends!

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
1
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.