29.4 C
Jakarta

Pancasila Menggugat: Pentingnya Memperkuat Persaudaraan Kebangsaan

Artikel Trending

KhazanahOpiniPancasila Menggugat: Pentingnya Memperkuat Persaudaraan Kebangsaan
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Sukarno pernah menyatakan dalam kegiatan Kursus Pancasila di Istana Negara tahun 1958, Pancasila merupakan salah satu alat pemersatu, yang dalam keyakinan Bung Karno, bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke hanyalah dapat bersatu padu di atas dasar Pancasila.

Pernyataan tersebut tentu berada dalam konteks yang kala itu rakyat Indonesia dalam belenggu kolonialisme Belanda. Bagi Sukarno, Pancasila memang alat pemersatu elemen bangsa tetapi, di waktu yang sama juga menjadi alat perjuangan melawan penindasan terhadap manusia dan perbudakan misalnya

Sekarang rasa kemanusiaan dan persatuan kita sedang diuji oleh ganasnya pandemi covid-19. Di waktu bersamaan, kita dibayang-bayangi oleh hoaks, intoleransi dan paham transnasional. Artinya, hambatan dan tantangan selalu berdampingan dengan kita. Akan tetapi, bukan berarti kita harus kehilangan rasa kemanusiaan dan persatuan.

Harus diakui, setiap zaman memiliki pola dan cara penyesuaian yang berbeda namun, cara jitu mengatasi persoalan atas bangsa ini tetaplah satu yakni, Pancasila. Sepanjang Pancasila ini menjadi konsensus tertinggi dalam berbangsa dan bernegara maka selama itu, saya yakin kita mampu keluar dan merdeka dari segala cobaan yang ingin meruntuhkan nilai kemanusiaan dan persatuan bangsa. Jika sebaliknya, misal generasi daripada bangsa ini keluar dari koridornya: tak mencerminkan kepribadian yang ber-Pancasila tentunya Pancasila akan menggugat.

Yang menjadi pertanyaan, bisakah Pancasila menggugat? Jawabannya sangat bisa. Hal ini karena Pancasila merupakan nilai-nilai luhur yang berhasil digali oleh Sukarno mulai tahun 1918 – 1945, kemudian diperas dan diamini oleh sejumlah tokoh bangsa lainnya yang tergabung dalam sidang BPUPKI dan PPKI. Jadi, makna gugatan di sini mengacu pada pemikiran Sukarno sebagai penggagas.

Sebagaimana dikutip oleh Syaiful Arif (2021) dalam Pancasila Dasar Filsafat Negara; Kursus Bung Karno (1958), perjuangan bangsa Indonesia kala itu adalah perjuangan melawan imperialisme dan perjuangan mencapai kemerdekaan. Di waktu bersamaan,  tak ada bangsa yang memiliki cara berjuang yang sama maka, para founding fathers bangsa menggagas dan menggunakan Pancasila sebagai cara dan karakter perjuangan melawan imperialisme.

Imperialisme muncul dan menguat pada abad 19. Menurut pengamatan Sukarno (1958: 15-17), hal itu disebabkan negara maju mengalami kelebihan barang produksi. Alhasil, kolonialisme Inggris misalnya, melebarkan pasar dan menjual produknya ke rakyat India — hingga India menjadi bangsa yang terjajah.

BACA JUGA  Hiruk-pikuk Sikap Konkret Taliban Menarik Gelombang Pengungsi Afghanistan

Tetap dalam pandangan Sukarno, imperialisme merupakan anak daripada kapitalisme. Ibarat ibu yang mengasuh anaknya, maka anak akan menjadi buruk atau baik itu tergantung asuhan ibunya. Jadi, meskipun India dijajah oleh imperialisme Inggris namun mereka memperoleh keberkahan yakni, didirikan sekolah dan universitas — walaupun tujuannya agar masyarakat India tetap memiliki daya beli tinggi.

Maka, perjuangan rakyat India adalah boycot action. Artinya, semua rakyat India tidak boleh membeli produk Inggris. Gerakan inilah yang oleh Sukarno disebut gerakan kaum pertengahan dan kaum borjuasi yang timbul mempergunakan kekuatan rakyat jelata (1958: 20).

Berbeda dengan Indonesia yang dijajah oleh Belanda. Imperialisme Belanda tidak menghendaki pendirian sekolah apalagi universitas yang terbuka umum bagi seluruh pribumi. Hanya segelintir daripada pribumi yang dapat mengenyam pendidikan dan itu pun mereka dicetak menjadi pekerja.

Maka, perjuangan rakyat Indonesia adalah gerakan persatuan. Persatuan ini terbentuk atas kekuatan-kekuatan kecil yang dihimpun dari rakyat kecil: tani, buruh, pegawai, pedagang di seluruh pelosok negeri. Misinya satu: melawan imperialisme. Kelompok ini yang oleh Sukarno disebut Marhaen — seseorang yang memiliki alat produksi namun tidak bisa survive (1958: 27).

Akan tetapi, gerakan persatuan tersebut harus disatukan dalam tarikan napas yang sama. Pada tahap inilah, Sukarno mencari background nasional yang cocok dengan gerakan persatuan ini. Alhasil, Sukarno menemukan formula Weltanschauung yang ia beri nama Pancasila. Dengan demikian, gerakan seluruh rakyat dengan dasar persatuan dan revolusioner inilah yang pada akhirnya berhasil menggerakkan 17 Agustus 1945 sampai pengakuan kedaulatan tahun 1950.

Hanya saja, belakangan ini persatuan dan persaudaraan kita terganggu oleh berbagai macam hambatan maka, sudah sewajarnya kita berikhtiar untuk memperbaiki keretakan-keretakan di dalam tubuh bangsa ini. Sementara itu, yang dapat menjaga dan merawat persatuan rakyat bukanlah pahlawan masa lalu melainkan generasi sekarang.

Dengan demikian, memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dan persatuan di tengah berbagai tantangan itu merupakan tugas suci dari pendiri bangsa ini. Wallahu ‘alam.

Saiful Bari
Alumnus Program Studi Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Juga, pernah nyantri di Ponpes Al-falah Silo, Jember. Kini menjadi Redaktur Majalah Silapedia.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru