Pancasila dan Gempa Sulawesi Tengah


0
5 shares
Internet

Bencana gempa yang berkekuatan 7,4 skala richter menimpa beberapa kota di provinsi Sulawesi tengah. Kedahsyatan kekuatan  gempa membuat air laut pasang yang mengakibatkan banyak rumah ludes serta melibas habis benda-benda milik masyarakat stempat. Sejauh hasil pencarian tim penanggulangan bencana, terdata 1.407 jiwa meninggal dunia. 1.117 jiwa di kota Palu, 153 di Donggala, 65 di Sigi, 12 di Parigi Moutong.

Goncangan bumi tersebut yang menelan banyak korban mengundang sebagian banyak organisasi kemahasiswaan dan juga organisasi kemasyarakatan (Ormas) untuk mengadakan aksi kemanusiaan (penggalangan dana) dalam rangka membantu saudara sebangsa di bumi Sulawesi Tengah. Pemerintah juga turun tangan dengan menyalurkan berbagai bantuan, makanan, uang dan pakaian.

Yang tersebar di media, gempa terparah hanya terjadi di daerah Palu dan Donggala, dan bantuan langsung didistribusikan ke sana. Namun, menurut data di atas, daerah Sigi dan Parigi juga terkena gempa. Teman saya di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)  yang kebetulan dari Sigi, M. Sultan, menyampaikan bahwa, di daerah Sigi belum tersentuh bantuan apapun dari pemerintah. Korban gempa di Sigi mengalami krisis kebutuhan hidup.

Gempa bumi merupakan bencana alam yang sulit dihindari, karena terjadinya mencakup wilayah yang luas. Menurut ilmuan Geologi, pulau Sulawesi merupakan suatu wilayah dengan sejarah tektonik paling rumit di dunia. Hal tersebut selain dikategorikan oleh jenis batuan yang kompleks, juga menyisakan linealment/garis patahan struktur Geologi yang banyak dan beragam. Jadi, patahan tersebut akan mengakibatkan gempa apabila mengalami pergeseran.

Elemen-elemen masyarakat membuka donasi untuk membantu warga Sulawesi tengah yang terkena bencana. Karena bencana ini sangat besar dan butuh waktu lama untuk mengatasinya, pemerintah Indonesia membuka donasi bantuan Internasional atas dasar tawaran dari negara-negara sahabat, Amerika Serikat, Perancis, Austria, Arab Saudi, New Zealand, Swiss, Ceko, Norwegia, Hongaria, Turki, Uni Eropa, Korea Selatan, Singapura, Thailand, Jepang, dan China. Ini menjadi bukti bahwa dunia juga berduka cita atas musibah ini.

Baca Juga:  Al-Qur’an dan Hadits di Era Saintifik-Modernis

Indonesia lahir karena perjuangan bersama. Masyarakat Sulawesi Tengah juga ikut andil dalam mencetuskan kemerdekaan, dengan ideologi yang penuh dengan toleransi hasil dari musyawarah negarawan dari berbagai penjuru Nusantara (Pancasila).

Sekitar dua hari yang lalu, kita baru saja memperingati hari kesaktian Pancasila. Menurut Mahfud MD, bukti kesaktian Pancasila adalah tetap kokoh hingga sekarang meskipun berbagai oknum ingin menggantinya dengan yang lain. Pancasila pada butir ke-2, “kemanusiaan yang adil dan beradap” merupakan patokan bahwa nasionalisme Indonesia adalah kemanusiaan, artinya jika sebagian rakyat Indonesia mengalami sakit, maka seluruh rakyat akan mengalami sakit pula.

Ideologi Pancasila jika diimplementasikan dengan baik, maka akan menimbulkan dampak besar bagi kemajuan bangsa. Penerapan Pancasila juga harus diterapkan oleh pemerintah yang menyalurkan bantuan terhadap korban bencana Sulawesi Tengah. Sila ke-5, “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” harus pakai sebagai patokan para penyalur bantuan bencana. Dalam sila tersebut, korban bencana secara menyeluruh harus tersentuh bantuan dan bisa menikmatinya.

Bantuan kebutuhan hidup sudah banyak disalurkan dari berbagai penjuru meskipun belum merata. Lantas bantuan apa yang belum tersalurkan?

Masyarakat korban gempa sudah pasti mengalami trauma yang sangat tinggi karena mereka tidak hanya kehilangan harta,  namun sebagian ada yang kehilangan anggota keluarganya, artinya mereka butuh bantuan pemulihan trauma. Diinfokan oleh kompas, bahwa bantuan Trauma Healing (pemulihan trauma) Kementerian Sosial sudah tiba di Palu pada Selasa, 22 Oktober 2018 kemarin. Namun, terapkanlah Pancasila butir ke-5! Seluruh korban gempa harus menikmati bantuan, kebutuhan pokok dan Trauma Healing.

*Bagis Syarof, Penulis adalah anak pertama dari ayah Misnawi dan Ibu Noer Fatimah. Dia lahir di Sumenep pada 22 Juli 1998. Mahasiswa  aktif Kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini, aktif di asrama kepenulisan Garawiksa Institute dan menjadi pengamat Ideologi kenegaraan di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI).


Like it? Share with your friends!

0
5 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.